Sarah menghidu aroma masakan yang menguar dari wajan. Sebentar lagi hidangan yang tengah ia buat akan segera disajikan. Dicicipinya bumbu masakan itu kalau-kalau masih membutuhkan kecap lebih banyak. Ternyata tidak. Dimasukkannya sapo tahu yang telah digoreng ke dalam wajan agar dapat bersatu dengan sayur, jamur, ayam, air kaldu, dan yang lainnya. Sebelah tangan Sarah bergoyang lagi, penggorengan itu mengaduk lagi. Ia pikir, porsi ini cukup bahkan untuk enam orang sekalipun.
Ia bertanya dengan riang. "Sapo tahu hampir siap. Onion ring siap?"
"Siap," jawab Dinar di sisi dapur lainnya.
"Jus sama nasi siap?"
"Baru masuk kulkas. Nasi siap." Bayu menjawab bersemangat.
"Oke! Waktunya penyajian!"
Kesibukan itu beralih dari dapur menuju ruang makan. Meja berlapis kaca itu berbentuk persegi panjang, jadi penyajian itu beberapa kali berubah untuk menyesuaikan. Sempat ada perdebatan kecil membahas apakah akan memakai alas makan berwarna gelap atau terang, tapi mengingat semua alat makan yang digunakan berwarna cerah maka akhirnya diputuskan untuk memakai alas makan yang gelap saja.
"Jam setengah delapan. Sambil nunggu enaknya ngapain, ya?" tanya Sarah.
Orang yang Sarah, Bayu, dan Dinar tunggu kemungkinan akan datang pukul delapan tepat jadi mereka punya setengah jam yang leluasa.
"Duduk dulu bisa kali." Satu-satunya gadis tomboi di sana bersuara.
Ketiganya pun duduk. Dinar di salah satu sisi, sedangkan Bayu dan Sarah di sisi lain. Saat makan pun mereka duduk di tempat masing-masing seperti itu, dengan tambahan satu orang di kursi paling ujung.
"Oya, Nar. Nate dan Finn jadinya ikut ekskul apa? Udah ada keputusan?"
Saking sibuknya memasak, sejak tadi sore mereka belum sempat bercerita banyak. Sepulang sekolah tadi Dinar memang langsung menemui si kembar dan menyerahkan lembar formulir ekskul pada mereka berdua, sesuai permintaan Pa Sugeng.
Bayu terkekeh sambil menatap sepupunya itu "Tebakan gue, lo ngewanti-wanti mereka supaya nggak ikut ekskul breakdance."
Sarah memutar mata.
Yang ditanya mengangkat bahu. "Gue nggak ngewanti apa-apa. Sebenernya mereka juga nggak tertarik ikut ekskul itu. Nate lebih milih hockey, Finn milih basket."
"Hm baguslah," gumam Sarah.
Bayu mengangguk. "Berani juga mereka, ambil ekskul pisah gitu. Ya, gimana pun mereka kan pasti jadi pusat perhatian. Di basket kan ada gue, tapi di hockey ada Yovi."
Mendengar nama Yovi sama saja dengan mendengar nama Rio.
"Terus? Mereka cerita apa lagi, Nar?"tanya Sarah.
"Nggak banyak. Cuma nyeritain nyokap mereka yang kuliah ambil S3 di sini. Bokap mereka soalnya udah meninggal jadi mereka pun akhirnya milih buat ikut nyokap mereka ke Indonesia."
"Ya ampun. Kasian juga, ya? Gue jadi pengin ketemu nyokap mereka." Ia lalu memanggil sang pacar. "Mereka sebenernya betah nggak sih di Wijay? Jangan-jangan, sejak mereka di-bully sama Rio, mereka mau pindah sekolah."
Bayu mengembuskan napas panjang. Ia menggelengkan kepala. "Nggak tau. Sebenernya, gue bahkan nggak bisa baca pikiran Nate dan Finn."
"Apa?" tanya Dinar. Tubuhnya bergerak mendekati meja, antusias. Sarah sama antusiasnya—keningnya berkerut dalam dan ia seolah mencari tanda bahwa pemuda itu tengah bercanda. Hanya ada keseriusan pada mata berwarna cokelat itu. Sarah menelan ludah.
Pemuda itu mengulangi perkataannya. "Gue nggak bisa baca pikiran Nate dan Finn. Gue juga nggak ngerti kenapa."
Ucapan Bayu bergema di kepala Dinar. Sepupunya itu memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain, tapi malah tidak bisa membaca pikiran si kembar.
"Yuk, siap-siap." Bayu bangkit dari kursinya. "Pokoknya, begitu bokap gue dateng, semua lampu di sini harus mati."
>>DVSKwine.
"Hai, Finn," sapa seorang cewek dari samping Finn dengan malu-malu.
"Ha—hai," balas si kembar canggung pada mereka berdua.
"Sas? Sasi?" tanya Nate tidak yakin.
Cewek berpotongan rambut asimetris itu tertawa. "Ya ampun. Gue kira lo nggak inget sama temen sekelas lo sendiri. Sas-ki-a."
"Ah ya, Saskia. Masa sih, gue nggak inget." ucap Nate..
"Bisa aja lo hahaa. Akhirnya kalian datang juga. Oya, kenalin ini adik gue, Vania." Ia menunjuk cewek yang disamping Finn. Vania pun tersenyum manis.
Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka berempat untuk dapat terlihat akrab. Si kembar tampak sangat antusias dengan Saskia dan Vania walaupun sebenarnya mereka ingin beranjak ke ruangan lain. Tak lama kemudian mereka berempat larut dalam percakapan. Si kembar memang harus mengakui kedua cewek itu memang cantik dan ramah, juga tidak seperti gadis-gadis lain yang berpakaian minim dan ketat. Saskia mengenakan suede dress, sedangkan Vania mengenakan satin tunic. Mereka pun berjalan dan mendapatkan tempat duduk di sofa di ruangan lain.
"Oya Van," ucap Finn pada Vania ketika mereka akhirnya tiba di sekitar pusat keriuhan. "Sebenernya ini pesta siapa ya?"
"Bukan pesta anak WIJAY sih. Maksud gue, ini pesta anak alumni WIJAY, tapi ya ujung-ujungnya Egi ngundang anak WIJAY juga di sini."
Finn mengangguk mengerti.
Saskia menambahkan. "Egi itu dulunya anak ekskul breakdance di WIJAY. Sekarang kuliah di Aussie. Tuh orangnya." Saskia menunjuk ke arah lantai atas.
Nate dan Finn menelan ludah ketika mendapati seseorang yang sedang mengobrol dengan orang yang ditunjuk Saskia. Seseorang yang mengundang Nate dan Finn datang ke pesta ini, lebih tepatnya.
"Kalian mau kenalan sama dia? Biar gue panggil—"
"Ja, jangan! Jangan!" cegah Nate dan Finn pada Saskia.
"Maksudnya nanti aja. Hehe," tambah Nate.
Saskia yang tadinya bingung pun akhirnya tersenyum lagi. Ia senang Nate dan Finn masih betah mengobrol dengan ia dan adiknya. "Oke. Minum lagi?" tawarnya.
Nate dan Finn menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"I need a couple! Where are they at? C'moon!" seru sang DJ melalui mikrofon.
Sorakan lagi. Kali ini lebih riuh dan bersemangat. Semua mata kini menoleh ke arah DJ. Oh, bukan. tepatnya kepada lantai yang sengaja dikosongkan seolah akan ada pertunjukkan yang wajib disaksikan. Ruangan tiba-tiba menjadi gelap namun perlahan kembali diterangi beberapa warna sesuai lagu yang dimainkan.
Kalau tadi ada lagu 'ramuan' DJ, sekarang ada lagu hiphop yang tidak kalah meriah. Semua orang bahkan seolah ikut menggila sekarang. Saskia menarik tangan Nate, sedangkan Vania dengan malu-malu menarik tangan Finn. Keempatnya pun sampai tepat di barisan depan tepat di hadapan dance spot.
Seorang gadis dengan snapback, loose shirt, shorts, dan high heels melakukan breakdance. Ia begitu percaya diri meski harus menari dengan memakai sepatu hak tinggi, membuat orang-orang meragukan ia akan terpeleset atau terjatuh. Seorang pemuda pun bergabung dengannya dan melepas kedua sepatu hak tinggi itu dengan gerakan breakdance yang sangat pas dengan irama lagu sehingga mengundang sorak sorai orang-orang di sekitar mereka. Kebanyakan gadis menatap kagum si pemuda, sedangkan kebanyakan pemuda menatap si gadis penuh antusias.
Nate dan Finn? Melihat cewek di hadapan mereka mengingatkan mereka pada Dinar ...
Riuhan kembali meriah ketika mereka akhirnya mereka berdua melakukan breakdance couple dengan gerakan yang seirama. Selain itu sesekali mereka juga menari ala robot dan sedikit berakrobat. Nate dan Finn bahkan ikut bersorak dan tanpa sadar tubuh mereka hanyut dalam lagu itu, begitu juga dengan Saskia dan Vania.
'Itu...Egi?' tanya Finn pada Saskia tanpa bersuara. Saskia mengangguk dan melafalkan dua kata, 'sama pacarnya'.
Finn mengangguk dan kali ini ikut menyanyikan lagu bersama yang lain. Mereka berempat kini terlihat sangat akrab dan bahkan sesekali saling berangkulan. Finn bahkan mengeluarkan handycam-nya untuk merekam aksi tarian itu.
"Mana tepuk tangannyaaa?" seru sang DJ melalui mikrofon usai pertunjukkan disusul dengan sorakan penonton yang kompak bergumam tidak setuju.
"Laaagi! Laaagi! Laaagi!" sorak penonton.
Sang DJ mendengus. "Kita masih punya banyak waktu, guys! Ayolah! Gue juga..."
"Having fun huh?" seseorang bertanya pada Nate dan Finn. Keduanya membalikkan badan dan langsung mematung mendapati Rio tengah menyunggingkan senyum sambil melipat tangan di d**a khas gaya angkuhnya.
Saskia dan Vania pun melangkah mudur tanpa melepas pandangan mereka pada Rio, memperhatikan gerak-gerik cowok itu sekaligus jaga-jaga bila Rio bertindak macam-macam lagi pada si kembar.
Kemudian Vania berbisik pada kakaknya. "Dinar mana ya? Kok dia nggak dateng?"
Saskia hanya menggeleng cemas.
"Yap." jawab Nate.
Finn mengangguk. "Keren banget." Finn mengacungkan dua jempolnya. Lo sendiri yang ngundang gue sama Nate, tambahnya dalam hati.
Rio mengangguk dan mengangkat bahu. "Oke. Sekarang gue mau ngenalin kalian ke temen gue." Ia kemudian mengangkat alis pada seseorang. Orang yang dipanggil pun datang mereka berdua sempat ber-highfive.
"Nate? Finn?" tanya pemuda yang sebelumnya berdansa di dance floor.
"Kebalik. Gue Nate." Nate memperkenalkan diri pada Egi..
Egi tersenyum ramah. "Oke, oke. Sorry. Gue Egi. "Kemudian ia berkenalan dengan Finn. "Thanks ya udah dateng ke sini."
Pemuda ramah itu ternyata tidak seperti yang si kembar kira. Selain tampak seperti masih SMA, ia juga tipe yang cukup sering tersenyum. Setidaknya gayanya tidak seangkuh Rio, malah sebaliknya.
Egi baru saja hendak pamit untuk meninggalkan mereka namun Rio memintanya untuk menunggu.
"Kenapa, Yo?"
Rio menatap Nate dan Finn secara bergantian. "Kalian nggak keberatan kan, untuk meriahin pesta ini?" tanyanya penuh keyakinan. Ia menyunggingkan senyum ketika si kembar bertukar pandangan dengan heran.