Aku masih duduk di mobil ketika pintu rumah terbuka dan lampu teras menyala. Mas Indra sudah melewati pagar. Dari kaca depan aku melihat punggungnya yang lurus, langkahnya yang cepat, dan mama berdiri di ambang pintu dengan mukena menyampir di bahu, menunggu seperti orang yang sudah menunggu sejak Maghrib.
Aku keluar, mengunci mobil, dan menyusul.
"Kok sudah pulang?" Mama menerima bungkusan kue dari tanganku tanpa menatapnya. "Baru jam sembilan."
"Indra capek, Ma," kata Mas Indra dari tengah ruang tamu.
"Kan Mama bilang. Kamu belum sehat betul." Mama melirikku sekilas, hanya sekilas, tetapi cukup untuk membuat kalimat berikutnya terasa seperti tuduhan. "Pasti dipaksa-paksa berdiri lama."
"Tidak ada yang memaksa, Ma." Mas Indra mengusap wajahnya. "Indra ke ruang kerja."
Pintu ruang kerja menutup dengan klik yang halus. Seperti kemarin-kemarin. Seperti berminggu-minggu.
"Aisyah." Mama sudah di dapur, dan suaranya datang dengan nada ringan yang paling kutakuti. "Jamu malam belum diminum. Sudah lewat jam sembilan."
Gelas itu sudah menunggu di meja, hitam kehijauan, dengan uap tipis. Aku meminumnya sampai habis sementara mama menyilangkan tangan dan menghitung teguknya dengan mata. Pahitnya menempel di lidah sampai ke pangkal tenggorokan. Di pintu kulkas, di bawah jadwal tulisan tangan mama, kolom Malam hari itu masih kosong. Mama sendiri yang mencentangnya, dengan pulpen merah, tegas, seperti guru yang memeriksa pekerjaan murid.
Lima hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Tiga gelas sehari, tiga centang merah. Mas Indra berangkat pagi, pulang malam, masuk ruang kerja. Sekali kutemukan ia berdiri di dapur tengah malam, memandangi jadwal di pintu kulkas lama sekali tanpa menyentuh apa pun, lalu pergi saat mendengar langkahku.
Hari Selasa mama berhenti berdiri di sampingku. "Mama pegal," katanya, dan menyodorkan pulpen merah itu. "Centang sendiri. Mama percaya." Kata percaya dari mulut mama terdengar lebih mirip peringatan daripada kepercayaan. Aku menerimanya, dan malam itu, sambil menatap kolom kosong, aku mulai menimbang sesuatu yang belum pernah kupertimbangkan.
Hari Kamis, mama berangkat pagi-pagi bersama sopir untuk memeriksa mandor di rumahnya, sedangkan Bibi disuruh turun di pasar dan pulang naik ojek sendiri. Aku menunggu sampai mobilnya hilang di tikungan, lalu mengambil tas dan memesan taksi.
***
"Silakan duduk, Bu Aisyah."
Dokter Hanifah menjabat tanganku dan menunjuk kursi di seberang mejanya. Ruang periksanya sama seperti yang kuingat: dinding krem, rak dengan model rahim dari plastik, dan wajah yang tenang, yang tidak menghakimi siapa pun.
"Hari ini sendirian? Pak Indra tidak ikut?"
"Sibuk, Dokter." Aku menaruh tas di pangkuan. "Saya mau minta panduan. Program hamil yang benar itu bagaimana, supaya saya tidak salah langkah."
Dokter Hanifah mengambil bolpoin. "Baik. Kita mulai dari yang paling sederhana. Bu Aisyah sehat dan subur, itu sudah kita ketahui dari pemeriksaan lalu. Jadi tidak ada obat yang perlu Ibu minum. Yang perlu adalah waktu, tidur cukup, makan teratur, dan kepala yang tidak terlalu penuh."
"Kalau ada yang menyuruh saya minum jamu?"
"Jamu apa?"
Aku mengeluarkan foto yang kuambil diam-diam dari botol di kulkas. Label buatan tangan, tulisan hijau di kertas kuning. Dokter Hanifah membacanya, alisnya naik sedikit.
"Bahan dan takarannya tidak tertulis. Saya tidak bisa menjamin apa isinya, dan itu masalahnya. Saya tidak anjurkan jamu yang tidak jelas komposisinya, terutama yang diminum tiga kali sehari tanpa pengawasan. Beberapa bahan berbahaya kalau ternyata Ibu sedang hamil muda." Ia mengembalikan ponselku. "Kalau Ibu ragu, berhenti dulu. Tidak ada kehamilan yang gagal karena Ibu tidak meminumnya."
Aku menarik napas panjang. Rasanya seperti baru melepas ikatan di dada yang sudah terlalu lama dikencangkan.
"Tidurnya bagaimana, Bu? Makannya?"
"Tidur sebentar-sebentar, Dokter. Makan seadanya."
"Itu juga bagian dari programnya." Dokter Hanifah menulis sesuatu di buku catatan. "Stres menghambat, Bu. Bukan menjadi sebab tunggal, tetapi ia membuat tubuh menahan. Saya tidak sedang menyalahkan Ibu. Saya ingin Ibu tahu bahwa mengurus diri sendiri itu bukan egois, itu bagian dari program ini."
"Satu lagi, Dokter. Saya merasa... suami saya menjauh. Bukan karena marah. Dia seperti sedang menunggu hukuman."
Dokter Hanifah meletakkan bolpoinnya. Hening sebentar.
"Pak Indra belum pernah kembali ke sini," katanya pelan. "Kalau pemeriksaan sudah dilakukan di tempat lain, hasilnya boleh dibawa. Saya tidak akan menuntut apa-apa, Bu, dan saya tidak akan bicara apa pun tanpa izin beliau."
"Kalau dia belum mau membawa?"
"Maka itu haknya." Ia mencondongkan badan. "Saya sering melihat pasangan seperti ini. Salah satunya merasa gagal, merasa tidak cukup, dan dengan cara yang aneh ia menjauh supaya pasangannya tidak melihat. Yang bisa Ibu lakukan bukan memaksa dia bicara. Yang bisa Ibu lakukan adalah menjadikan rumah itu tempat yang aman, bukan tempat orang dihitung-hitung."
Aku menunduk. Rumahku adalah tempat orang dihitung-hitung. Ada kalender di sana, jadwal di kulkas, dan lingkaran merah yang tidak bisa kuhapus.
"Terima kasih, Dokter."
"Kalau Ibu perlu bicara lagi, pintu ini terbuka." Dokter Hanifah tersenyum. "Dan minum air putih."
***
Aku tiba di rumah satu jam sebelum mobil mama. Rumah itu kosong, hanya aku dan bunyi jam dinding. Di dapur, jadwal jamu masih menempel di kulkas, rapi, penuh centang merah.
Tiga botol jamu sisa pekan ini berdiri berjajar di rak bawah kulkas. Aku mengeluarkannya satu per satu, dan tanganku gemetar bukan karena takut, tetapi karena sadar bahwa inilah saat aku menolak sesuatu yang mama perintahkan tanpa mengatakannya keras-keras. Kubawa botol-botol itu ke pintu belakang. Tong sampah besar berdiri di pojok halaman, di bawah talang. Kubuka tutupnya, kuselipkan botol-botol itu di antara kantong plastik dan kulit semangka, lalu kututup rapat.
Bunyi tutup tong itu jatuh lebih keras dari yang kukira.
"Mba."
Aku menoleh. Bibi berdiri di ambang pintu belakang dengan keranjang belanja. Entah sejak kapan ia di sana, dan kapan ia selesai di pasar.
Wajahnya tidak terkejut, tetapi matanya berair. Bibi menutup pintu di belakangnya, melangkah mendekat, dan memandang tong sampah itu, lalu aku.
"Bi, Aisyah..."
"Bibi tidak lihat apa-apa, Mba." Suaranya nyaris tidak terdengar. "Tapi Ibu kadang membuka tong itu sendiri kalau curiga. Kalau Ibu yang menemukan, Bibi tidak bisa menolong."
Dari ujung jalan terdengar bunyi mesin mobil yang mendekat. Bibi menyambar keranjangnya dan menghilang ke dapur. Aku mencuci tangan di keran halaman sampai kulit jariku merah, mengeringkannya di rok, lalu masuk lewat pintu belakang tepat ketika pintu depan terbuka.
"Aisyah! Bantu Bibi bawa sisa belanjaan, ini dari pasar semua!"
Aku membantu. Mama masuk dapur dengan kerudung sedikit miring dan wajah segar, seperti habis memarahi seseorang dengan puas. Ia berhenti di depan kulkas dan membaca jadwal dengan telunjuk.
"Siang sudah?"
"Sudah, Ma."
"Centang."
Pulpen merah itu masih tergantung di tali di sisi kulkas. Aku mengambilnya dan mencentang kotak Siang hari ini dengan satu garis tegas. Ujung pulpen itu tidak bergetar. Itu yang paling mengejutkanku.
Mama memutar gelang tuanya sekali, pelan, di pergelangan.
"Anak pintar," katanya.