Begitu Mas Indra pulang malam itu, mama menunjuk satu per satu dengan telunjuknya: piringku yang bersih, gelas jamuku yang kosong, jadwal di kulkas yang penuh centang. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum kepada anaknya, senyum seorang ibu yang puas karena rumahnya berjalan menurut rencana.
Aku menyuap nasi dan merasakan setiap butirnya seperti kerikil.
Ponsel Mas Indra bergetar di sebelah piringnya. Ia melirik layar dan alisnya terangkat, lalu ia berdiri setengah, tangan yang lain masih memegang sendok.
"Maaf, Ma. Dari Radit."
Mama berhenti mengunyah. "Radit?"
"Teman Indra, Ma. Yang dulu..."
"Yang membawa video itu." Suara mama datar. "Kenapa menelepon jam makan?"
"Dia memang begitu." Mas Indra sudah melangkah ke teras, dan lewat pintu kaca yang terbuka sedikit aku mendengar potongan-potongan percakapan: tawa pendek, "Kamu serius?", "Rabu? Boleh, boleh, makan malam di rumah saja." Ketika ia kembali, wajahnya lebih ringan daripada yang pernah kulihat berminggu-minggu. Hanya sekejap, tetapi cukup untuk membuat dadaku terangkat.
"Rabu depan Radit ke Bandung urusan kerja," katanya. "Indra undang makan malam di sini. Boleh, Ma?"
"Terserah kamu. Ini rumahmu." Mama mengelap mulutnya dengan serbet. "Mama tidak akan duduk satu meja dengan dia lama-lama."
"Ma..."
"Mama bilang tidak lama-lama, bukan tidak sama sekali."
Aku tidak tahu apakah mama marah pada Radit atau pada video yang pernah ia lihat bersama papa di ruang tamunya sendiri. Tetapi aku tahu satu hal: Mas Indra tersenyum kecil ketika nama temannya disebut, dan aku berterima kasih kepada seseorang yang belum pernah kutemui karena itu.
***
Rabu pagi aku memasak lebih banyak daripada biasanya, dan Bibi, tanpa diminta, mengupas bawang di sebelahku sambil bersenandung kecil. Sup brokoli, ayam goreng, sambal terasi dengan jeruk limau. Aku tidak merencanakannya sebagai menu favoritku sendiri. Tanganku yang memilih.
Mas Indra sempat berhenti di pintu dapur sebelum berangkat. Ia melihat panci di atas api dan tutup sambal yang masih terbuka, dan wajahnya melunak seperti selimut yang ditarik pelan.
"Wanginya sampai ruang tamu," katanya.
"Buat Mas Radit."
"Buat Radit, ya." Ia mengangguk, dan di sudut bibirnya ada senyum yang hampir lolos. "Sisakan sedikit sambalnya, dek."
Hanya itu. Tetapi aku mengaduk sup sepanjang pagi dengan perasaan seperti baru diberi hadiah.
Radit datang Rabu sore dengan sekotak brownies dan kemeja yang digulung sampai siku. Tingginya sedang, rambutnya acak-acakan, dan senyumnya muncul sebelum kakinya melewati pagar.
"Aisyah, ya?" Ia menyodorkan tangan lalu cepat-cepat menariknya sambil tertawa. "Eh, maaf, belum muhrim. Aku Radit. Akhirnya ketemu pengantin yang bikin Indra lupa kalau punya teman."
"Mas Radit." Aku menangkupkan tangan di dada. "Silakan masuk."
Mama muncul di ruang tamu dengan kerudung yang sudah dirapikan. "Silakan duduk," katanya kepada Radit, sopan dan dingin. Radit menunduk hormat, mama menyambut dengan satu anggukan, dan sepuluh menit kemudian ia berkata kepalanya pusing dan masuk ke kamar. Pintunya tertutup tanpa dibanting. Itu justru lebih menakutkan.
Tetapi di meja makan, sesuatu terjadi yang tidak kuduga.
Mas Indra tertawa.
Bukan senyum rapi seperti di pesta. Tertawa betulan, dari perut, sampai bahunya berguncang dan ia harus menaruh sendok. Radit bercerita tentang kliennya yang salah membaca denah dan membawa tiga lemari ke lantai yang salah, dan Mas Indra menyahut dengan cerita balasan, dan mereka saling memotong dengan kalimat yang tak selesai, seperti dua orang yang bahasanya sudah lama sama. Aku duduk dengan mangkuk sup di depanku dan memandanginya dengan hati yang berdebar tidak keruan. Ini dia. Ini suamiku yang dulu, yang membuatku berdebar di hari pertama.
"Dit, kamu jadi datang ke Surabaya?" kata Mas Indra di sela-sela tawa. "Pameran furnitur itu, Senin dua pekan lagi. Sehari saja. Kamu biasanya punya stan di sana."
"Aku usahakan. Kalau jadwal kantorku tidak bentrok, ya, aku datang, kita ngopi di bandara."
"Awas kalau tidak."
"Awas apa? Kamu mau menculikku?"
"Aisyah, kamu harus tahu," kata Radit sambil menunjuk Mas Indra dengan garpu. "Waktu kuliah dia pernah tertidur di kelas sampai dosennya selesai mengajar, dosennya pulang, dan dia masih tidur. Penjaga kampus yang membangunkan. Dia bilang, 'Pak, sudah subuh?'"
"Itu bohong." Mas Indra menutup muka dengan satu tangan. "Itu fitnah."
"Itu fakta. Aku saksi."
"Mas pernah begitu?" tanyaku, setengah tertawa.
"Satu kali, dek. Satu kali saja." Ia menurunkan tangan, matanya basah oleh tawa, dan untuk sekejap pandangan kami bertemu dan tidak ada yang membuang muka.
Mereka tertawa lagi. Dan di tengah tawa itu mata Radit sempat bergeser kepadaku, hanya sedetik, dan aku melihat sesuatu di sana: bukan geli, bukan ramah. Rasa lega yang tertahan.
***
Selesai makan, aku mengangkat piring ke dapur. Mas Indra masih di ruang makan menjawab telepon dari sekretarisnya. Radit menyusul dengan tumpukan mangkuk, dan tanpa diminta membuka keran.
"Biar aku yang cuci. Kamu masak, aku cuci, itu adil."
"Tidak usah, Mas Radit. Tamu."
"Tamu yang tahu diri." Ia menggosok mangkuk dengan sabun, dan dari samping aku melihat senyumnya perlahan memudar. "Aisyah."
"Ya?"
"Aku tidak sering melihat Indra seburuk ini sejak..." Ia berhenti. Mangkuk di tangannya berhenti berputar. "Sejak lama."
Jari-jariku mencengkeram tepi meja. "Sejak apa, Mas?"
"Bukan tempatku." Ia membilas mangkuk itu, menaruhnya di rak, lalu mengelap tangan dengan serbet dan mengeluarkan ponselnya. "Tapi ini nomorku. Simpan. Aku serius. Kalau suatu malam kamu tidak tahu harus bicara dengan siapa, atau kalau Indra... kalau ada apa-apa, telepon aku. Jam berapa pun."
Tanganku gemetar saat mengetik nomor itu. "Terima kasih, Mas Radit."
"Jangan berterima kasih dulu. Aku belum melakukan apa-apa."
Tetapi ia melakukan sesuatu. Ia memberiku satu nama untuk dihubungi di rumah di mana hampir setiap nama sudah ditempeli kepentingan lain.
Aku menyimpan nomor itu dengan nama Mas Radit dan menatap layar sebentar. Selama ini aku memikirkan siapa yang bisa kutelepon bila Mas Indra tidak mau bicara, dan jawabannya selalu satu: tidak ada yang tidak akan melapor ke mama. Ponselku sekarang menyimpan satu nama, dan itu cukup untuk membuat kakiku lebih mantap berdiri.
Aku keluar ke teras belakang untuk menjemur serbet, memberi Radit waktu menghela napas dan memberi diriku waktu menghapus air di sudut mata. Di dekat jendela ruang kerja, yang kisinya terbuka sedikit, kudengar suara dua lelaki yang tidak lagi tertawa.
"... bukan itu maksudku." Suara Radit, rendah.
"Kamu lihat sendiri tadi, kan?" Suara Mas Indra, dan aku nyaris tidak mengenalinya, karena nadanya keras dan tajam, seperti kaca yang baru pecah. "Jangan sampai dia tahu, Dit. Jangan. Sampai. Dia. Tahu."
"Ndra, dia istrimu..."
"Justru karena itu."
Aku mundur satu langkah, dua langkah. Serbet basah di tanganku menetes ke lantai.
Setengah jam kemudian Radit pamit di pagar. Ia menepuk bahu Mas Indra, menjabat tanganku sekali dan menatapku sedetik terlalu lama, dan mobilnya menghilang di ujung jalan. Mas Indra berdiri di pagar menatap ke arah yang sama sampai lampu belakang itu tak kelihatan.
"Mas," kataku, dari teras. "Tadi Mas bilang... jangan sampai siapa yang tahu?"
Ia menoleh. Kehangatan di wajahnya sudah lenyap tanpa bekas, seolah tidak pernah ada.
"Urusan kantor, dek," katanya, dan masuk ke rumah.