Malam itu, setelah pintu ruang kerja menutup di belakang "Urusan kantor", aku naik ke kamar dan duduk lama di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Nomor Mas Radit terpampang di layar. Jempolku melayang di atas tombol hijau, turun sedikit, naik lagi.
Aku tidak menelepon. Radit sudah memberi nama, dan Mas Indra sudah memberi kalimat. Tetapi dua potongan itu, "jangan sampai dia tahu" dan "seburuk ini sejak...", belum membentuk gambar apa pun selain firasat yang mengendap di perutku. Kalau aku menelepon sekarang, aku akan memaksa seseorang membuka rahasia temannya, dan itu tidak berbeda dengan yang dilakukan mama.
Jadi aku meletakkan ponsel di meja kecil, membaca doa, dan tidur dengan sisi ranjang yang dingin di sebelahku.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti pekan-pekan sebelumnya. Jadwal di kulkas, pulpen merah, centang-centangku sendiri. Tiga kali kutemukan sisa jamu di gelas dan kutuang ke wastafel saat mama sedang di kamar mandi. Dua botol lagi kuselipkan di tong sampah belakang, dan Bibi, entah kenapa, tidak pernah membahas itu lagi. Aku mulai percaya bahwa kebohongan yang kecil dan sabar bisa hidup lama di rumah ini.
Selasa pagi aku salah.
Aku sedang menyiapkan sarapan ketika mama masuk dapur dengan langkah yang terlalu pelan. Itu cara berjalannya kalau ia sedang menahan sesuatu. Di kedua tangannya ada kantong plastik hitam yang basah di dasarnya.
"Aisyah."
"Ya, Ma?"
Mama membalik kantong itu di meja dapur. Satu per satu botol-botol kaca bergulir keluar, ada yang masih tersegel pita merah, ada yang tutupnya sudah dibuka, ada yang isinya separuh. Mama menyusunnya berderet, menghadap aku, dan bunyi kaca bertemu kayu terdengar nyaring di dapur yang sunyi.
"Enam," katanya. "Mama hitung ulang tiga kali, supaya Mama tidak menuduh orang yang salah."
Bibi, yang sedang menyapu di pintu, berhenti. Wajahnya pucat.
"Mama ke tong belakang mau membuang kulit pepaya," kata mama. "Dan di dalamnya ada ini. Disembunyikan di bawah plastik. Mama tidak sedang mencari apa-apa, Aisyah. Mama menemukannya. Ada yang bisa kamu jelaskan?"
Pikiranku berlari ke banyak arah sekaligus. Bohong, bilang itu botol kosong yang aku lupa buang, bilang Bibi yang membuangnya. Tetapi kemudian aku teringat nasihat dr. Hanifah dan teringat kenapa aku mulai menolak, dan aku merasa tidak sanggup menambah satu kebohongan lagi di atas kebohongan yang sudah ada.
"Aisyah yang membuangnya, Ma."
"Kenapa?"
"Karena Aisyah tidak tahu isinya." Aku meletakkan sendok sayur. Suaraku lebih tenang daripada yang kukira. "Botol-botol itu tidak punya tulisan bahan atau takaran. Aisyah tidak mau meminum sesuatu yang Aisyah tidak tahu isinya, Ma. Bukan karena tidak menghargai Mama."
"Bukan karena tidak menghargai." Mama tertawa tanpa suara. "Kamu bohongi Mama berhari-hari, mencentang kotak seakan minum, dan kamu bilang bukan karena tidak menghargai?"
"Aisyah minta maaf soal membohongi. Itu salah. Tapi Aisyah tidak..."
"Kamu menunda." Kata itu keluar rendah dan datar, lalu naik. "Kamu menunda! Kamu pikir Mama tidak tahu? Perempuan seumurmu, sehat, sudah berbulan-bulan, tidak juga isi, dan ketika Mama beri jalan kamu buang! Kamu mau Mama mati tanpa lihat cucu sendiri?"
"Ma, bukan begitu."
"Bibi!" Mama menoleh. "Kamu tahu soal ini?"
Bibi menggenggam gagang sapu dengan kedua tangan sampai buku jarinya memutih. "Tidak, Bu. Bibi tidak tahu."
"Bibi tidak tahu apa-apa, Ma," kataku cepat. "Ini Aisyah sendiri."
"INDRA!"
Teriakan itu membuat gelas di rak bergetar. Mas Indra turun dari tangga dengan dasi belum terpasang di leher dan roti di tangan, matanya melebar melihat meja dapur penuh botol dan dua perempuan yang berdiri berhadapan seperti dua anak yang akan bertarung.
"Ada apa, Ma?"
"Lihat. Lihat istrimu." Mama menunjuk deretan botol itu dengan seluruh lengannya. "Enam botol. Di tong sampah. Dia pura-pura minum tiap hari, Indra. Tiap hari. Dia sendiri yang mengaku."
Mas Indra memandang botol-botol itu. Lalu memandangku. Aku mencari di wajahnya sesuatu, apa pun, kemarahan, kekecewaan, atau pembelaan, dan yang kutemukan hanyalah wajah seorang lelaki yang terjepit di antara dua pintu dan tahu persis bahwa satu langkah ke mana pun akan menyakiti seseorang.
"Dek," katanya pelan. "Minum saja."
Kalimat itu sama persis dengan yang ia katakan tiga bulan lalu, ketika jamu pertama datang dan semuanya masih lucu. Tetapi dulu ia mengatakannya sambil tersenyum, sambil mengacak rambutku. Sekarang ia mengatakannya dengan mata yang menghindar.
"Mas." Aku melangkah satu langkah ke arahnya, mengabaikan mama, mengabaikan Bibi, mengabaikan botol-botol di meja. "Adek tidak menunda. Adek ingin sekali punya anak. Mas tahu itu."
Napas mama tersentak.
"Mas tahu adek ingin," ulangku, lebih lirih. "Dari awal. Dari malam pertama kita berdoa bersama. Adek tidak pernah menunda apa pun. Adek hanya... tidak mau meminum sesuatu yang bisa membahayakan, kalau suatu hari Allah mempercayakan titipan itu."
Hening. Di luar jendela dapur burung gereja bertengkar di talang.
"Mas," kata mama, dengan nada orang yang menang. "Kamu dengar? Dia melawan. Di depan Mama, di rumah yang..."
Mas Indra menunduk. Roti di tangannya remuk perlahan. Ia tidak menatap mama, tidak menatapku, hanya menatap lantai di antara kami, dan aku menunggu. Aku menunggu satu kalimat saja, "Ma, biarkan," atau "Ma, Aisyah benar," apa pun yang membelaku, seperti di depan Najwa.
Ia tidak bicara.
"Mas minta maaf, dek," gumamnya, terlalu pelan untuk didengar mama. Lalu ia menaruh roti yang remuk itu di meja, berbalik, dan masuk ke ruang kerja. Beberapa detik kemudian garis cahaya di bawah pintunya menyala.
Mama memandangi pintu itu sebentar, lalu aku. Ia mengumpulkan botol-botol di meja dan memasukkannya kembali ke kantong hitam dengan gerakan yang rapi sekali.
"Mulai besok pagi kamu minum di depan Mama," katanya. "Bukan lagi centang sendiri. Mama yang menuangkan, Mama yang melihat gelasnya kosong."
Ia keluar membawa kantong itu. Bibi menyapu pecahan roti di lantai tanpa bicara, tanpa menatapku, dan hanya ketika mama sudah jauh ia menyentuh lenganku sekali, seperti orang menepuk bara supaya tidak menyala.
***
Malam itu aku turun ke lorong dengan secangkir teh yang uapnya sudah menipis. Lampu di bawah pintu ruang kerja menyala. Di balik pintu tidak ada isak, tidak ada doa, hanya sunyi yang berat.
Aku tidak mengetuk. Aku meletakkan cangkir di lantai, tepat di depan pintu, lalu duduk bersandar di dinding di sebelahnya, lutut dipeluk.
"Mas," kataku pada celah sempit di bawah pintu, hampir berbisik. "Adek tidak marah."
Tidak ada jawaban.
"Adek tadi bohong pada Mama, itu salah, dan adek sudah minta maaf. Tapi adek tidak menyesal membuang botol-botol itu. Adek cuma mau Mas tahu itu bukan karena adek melawan. Adek tidak sedang melawan siapa-siapa."
Cahaya di celah bergeser. Sebuah bayangan jatuh di sana, dua garis gelap yang tipis dan rapat: ujung kaki yang berdiri tepat di balik pintu. Ia mendengarkan. Aku tahu ia mendengarkan, karena aku mendengar napasnya, napas yang tertahan lalu keluar pelan-pelan.
"Adek tidak menyerah, Mas," kataku. "Adek cuma capek. Dan capek itu boleh. Tapi adek tidak menyerah."
Lama sekali bayangan itu tidak bergerak. Kemudian ia mundur, dan lampu di celah kembali rata.
Aku berdiri, menepuk rokku, dan naik ke kamar. Cangkir itu kubiarkan di sana.
Pagi harinya, ketika aku turun, cangkir itu sudah tidak ada di lantai. Ia tergeletak bersih di rak cuci piring, terbalik, menetes, dan di sampingnya ada sendok yang diletakkan sejajar dengan sangat hati-hati.