Rabu pagi itu aku masih tersenyum ke arah rak cuci piring. Dari pintu ruang kerja yang tertutup tidak ada suara, tetapi seseorang di dalam sana sudah mencuci cangkirku dengan tangannya sendiri, dan itu cukup.
"Gelasmu."
Senyum itu hilang. Mama berdiri di pintu dapur dengan gelas hitam kehijauan di tangan, persis seperti yang ia janjikan kemarin. Tidak ada kata pembuka. Tidak ada tanya apakah aku tidur nyenyak.
"Pagi ini cuma satu, Ma?" tanyaku, sekadar menguji.
"Tiga kali sehari itu terlalu banyak untuk perutmu yang rewel. Satu cukup, asal rutin dan asal Mama lihat." Mama menyodorkan gelas lebih dekat. "Cepat. Nanti dingin, tambah pahit."
Aku memikirkannya hanya sedetik. Menolak sekarang berarti membuka perang yang Mas Indra tidak sanggup ikut, dan aku tidak mau lagi memaksanya berdiri di tengah. Aku menerima gelas itu, meminumnya di depan mama sampai tandas, dan menaruhnya di meja. Mama mengangguk, puas, dan mencentang kotak Pagi di pintu kulkas dengan tinta merah.
Satu gelas sehari, bukan tiga. Itu kompromi yang kuhitung sendiri, dengan janji dalam hati untuk berhenti begitu ada tanda terlambat haid dan segera ke dokter. Hari-hari berikutnya aku menelan pahit itu seperti menelan harga untuk menjaga rumah tetap tenang. Dan Mas Indra, dari balik pintu ruang kerja, tidak pernah lagi membahas botol-botol itu.
***
Senin pagi ia berangkat ke Surabaya.
Koper kecilnya sudah menunggu di ruang tamu sejak subuh. Ia turun dengan kemeja biru muda yang kuseterika Minggu malam dan sepatu yang kugosok semalam, dan untuk pertama kalinya dalam dua pekan ia sarapan di meja yang sama denganku, meskipun tanpa bicara. Mama memberinya bekal roti dan minuman jahe. Mas Indra menerimanya dengan dua tangan.
"Penerbangan terakhir dari Surabaya jam sebelas malam," katanya kepada meja, bukan kepada siapa pun. "Mas sampai rumah lewat tengah malam. Jangan tunggu."
"Jangan lupa makan, Ndra," kata mama. "Jangan keasyikan di pameran sampai lupa isi perut."
"Iya, Ma."
"Dan jangan beli apa-apa yang tidak perlu."
"Iya, Ma."
"Kamu itu, kalau Mama tidak ingatkan..."
"Ma." Mas Indra meletakkan roti, hanya sedikit lebih keras daripada seharusnya. "Indra bukan anak kecil."
Mama mengerjap, tidak menyangka. Aku menunduk menahan sesuatu yang bukan tawa dan bukan tangis.
Di pintu depan, sementara sopir mengangkat koper ke mobil, ia berhenti. Punggungnya menghadapku. Aku berdiri di belakangnya, dua langkah, tanganku siap untuk apa pun yang mungkin ia minta.
"Dek."
"Ya, Mas."
"Adek jaga rumah."
"Mas yang jaga diri. Kabari kalau sudah sampai, ya? Satu pesan saja, tidak usah panjang."
"Mas kabari." Ia menarik napas, dan bahunya naik turun sekali. "Kalau kamu belum tidur waktu Mas pulang," katanya, masih membelakangiku, "Mas senang."
Ia berjalan ke mobil. Aku berdiri di ambang pintu sampai mobilnya berbelok di ujung jalan, dan baru ketika aku masuk lagi kusadari aku menahan napas.
"Aisyah."
Mama sudah duduk di sofa ruang tamu dengan majalah terbuka di pangkuan. Ia tidak mengangkat matanya.
"Ruang kerja itu bau. Sudah berminggu-minggu tidak disentuh siapa pun selain Indra, dan Indra jelas tidak sempat mengurusnya. Bersihkan sebelum dia pulang. Sapu, lap, jemur selimutnya."
"Baik, Ma. Berkas di mejanya?"
"Jangan diutak-atik. Cukup debunya." Mama membalik halaman majalah. "Dan jangan menaruh apa pun yang bukan tempatnya."
"Maksud Mama?"
"Maksud Mama, kerja saja yang benar." Matanya akhirnya terangkat, datar dan tidak terbaca. "Kamu kan pandai membereskan."
Aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mengambil sapu dan tidak bertanya lagi.
***
Ruang kerja itu lebih kecil dari yang kuingat, atau mungkin aku yang tidak pernah benar-benar melihatnya. Sofa panjang dengan selimut terlipat di ujung, sajadah tergulung di sudut meja, meja kerja dengan foto pernikahan kami berdiri miring di antara tumpukan berkas. Ada gelas kopi kering di tepi meja dan dua bungkus roti yang belum dibuka. Kertas-kertas kantor bertumpuk dalam jejeran yang tidak rata.
Bibi muncul membawa ember dan kain lap ketika aku baru membuka jendela. Ia berhenti di ambang pintu, memandang ruangan itu, lalu memandangku dengan alis yang berkerut.
"Mba disuruh Ibu membersihkan ini?"
"Iya, Bi. Kenapa?"
"Sejak Den Indra sembuh Ibu melarang siapa pun masuk. Bibi sendiri tidak boleh, katanya Den Indra tidak suka ada yang menyentuh berkasnya." Bibi memeras kain lap pelan-pelan. "Tiba-tiba hari ini Mba yang disuruh. Dan Den Indra baru berangkat. Aneh, Mba."
"Mungkin Mama cuma tidak tahan baunya."
"Mungkin." Bibi menaruh ember di dekat pintu. Suaranya mengecil. "Bibi di dapur kalau Mba perlu apa-apa. Hati-hati, ya."
Ia pergi. Aku tidak sempat memikirkan kata hati-hati itu lebih jauh. Aku membuka jendela dan mulai menyapu. Aku menjemur selimutnya di teras belakang dan menyemprotkan pewangi ke sofa. Aku mengelap debu di rak buku, di bingkai foto, di tepi meja, dan di sana aku berhenti, karena laci paling atas meja itu terbuka sekitar dua jari.
Biasanya terkunci. Aku pernah mencobanya, bukan untuk mengintip, hanya untuk mencari gunting, dan ia pernah berkata, "Itu urusan kantor, dek, tolong jangan." Pagi ini mungkin Mas Indra terburu-buru. Kuncinya masih tergantung di lubang.
Aku mendorong laci itu untuk menutupnya. Tetapi sesuatu menahan, sebuah amplop cokelat yang berdiri miring di ujung dalam, menjepit sisi laci supaya tidak bisa rapat.
Aku seharusnya hanya meluruskan amplop itu. Tanganku hanya bergerak untuk itu. Namun saat jariku menyentuh ujungnya, kop surat di pojok kiri atas terbaca olehku tanpa bisa kucegah: nama sebuah laboratorium, dengan logo hijau dan alamat di kota ini. Di bawahnya, di kolom penerima, ketikan tebal: INDRA.
Hanya itu yang kulihat. Aku tidak membalik amplop itu. Aku tidak membukanya.
Tetapi kepalaku berputar sendiri, mengumpulkan serpihan yang sebelumnya tercerai-berai. Dokter Hanifah, dengan suara tenang, mengatakan hasilnya boleh dibawa bila diperiksa di tempat lain. Mas Indra di klinik, menarikku pergi, meminta merahasiakan hasil. Telepon di teras malam pindahan mama, ketika wajahnya pucat dan ia berkata "salah sambung". Kalender mama. Sujud pukul tiga dini hari. "Jangan sampai dia tahu, Dit." Semuanya menunjuk ke satu pintu yang terkunci, dan amplop ini adalah kuncinya, tergeletak di laci yang terbuka dua jari.
Napasku jadi pendek. Aku belum tahu apa isinya, dan aku tidak akan mencari tahu dengan cara ini. Tetapi logo laboratorium itu bersanding dengan pertanyaan "sudah isi belum" yang dilemparkan mama tiap hari, dan aku mulai menduga ini soal kesehatan Mas Indra, soal sebab ia membeku tiap kali ada yang bertanya tentang anak. Ini bukan urusan kantor.
Aku masih menatap amplop itu, belum tahu apa yang akan kulakukan, ketika bunyi langkah di lorong menembus lamunanku. Bukan langkah Bibi yang berat dan lambat. Ini ringan dan sabar, langkah orang yang tahu persis ke mana ia pergi.
"Sedang apa kamu di situ?"
Mama berdiri di ambang pintu. Tangannya bertumpu pada kusen, dan matanya langsung jatuh pada laci, lalu pada tanganku yang masih menempel di sana.
Aku menarik tanganku sepelan mungkin, seakan itu hal paling wajar di dunia, dan mengangkat lap di tanganku yang lain.
"Merapikan, Ma."