"Merapikan apa?" tanya mama. Ia tidak bergerak dari ambang pintu, dan detak jam dinding di ruang tamu terdengar sampai sini.
"Debu di meja, Ma. Lacinya macet, Aisyah coba tutup, tapi ada yang mengganjal."
"Mengganjal apa?"
"Berkas, kelihatannya." Aku menunjuk dengan lap, tidak dengan jari, seakan hal itu cukup menegaskan bahwa aku tidak menyentuh apa pun. "Aisyah tidak berani lihat. Berkas kantor Mas Indra."
Mama melangkah masuk, mendekati meja, dan menekan laci itu dengan telapak tangannya sendiri. Ia mendorong sedikit lebih keras daripada yang kulakukan, dan laci itu menutup dengan bunyi tumpul. Ia memutar kunci yang menggantung di sana, mencabutnya, dan menggenggamnya.
"Kunci ini Mama yang simpan sampai Indra pulang," katanya. "Supaya tidak ada yang hilang. Kalau ada yang hilang, Mama tanya kamu."
"Baik, Ma."
"Selesaikan sebelum zuhur." Di ambang pintu ia berbalik setengah. "Kamu tidak melihat isinya?"
"Tidak, Ma."
"Bagus. Perempuan yang bijak tahu mana yang bukan urusannya." Ia menimbang kunci itu di telapak tangan. "Apalagi perempuan yang belum punya hak apa-apa di rumah ini."
Aku menelan jawaban yang sudah di ujung lidah. "Aisyah mengerti, Ma."
Ia pergi, dengan kunci di kepalan, dan aku berdiri sendirian di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu sempit. Tanganku gemetar saat meremas lap. Aku bisa menunggu mama tidur lalu mencuri kunci itu dan mengakhiri semua tebakan dalam semenit.
Tetapi aku teringat Mas Indra di balik pintu itu malam lalu, dua jejak kaki yang berdiri tanpa suara, seseorang yang mendengarkan. Kalau aku membuka amplopnya, aku mengambil sesuatu darinya yang harus ia berikan sendiri. Dan kalau ia tidak pernah memberikannya, aku tetap akan kehilangan lebih banyak daripada yang bisa kutemukan di kertas itu.
Aku tidak akan membuka amplop itu. Aku tidak akan menanyakannya. Itu keputusanku, dan aku merasakan beratnya di dada seperti batu licin.
Aku menyelesaikan menyapu, mengelap rak, dan memasukkan gelas kopi kering ke nampan. Terakhir kuangkat sajadah di sudut meja, sajadah yang kemarin masih tergulung dan belum disentuh, dan saat itulah aku punya gagasan yang membuat jariku berhenti.
Di meja ada buku catatan kecil bergambar bunga yang biasa kupakai untuk daftar belanja. Kusobek selembar, kutuliskan beberapa kalimat dengan pulpen hitam yang tergeletak di tepi meja. Tulisanku miring-miring, huruf-hurufnya kecil dan terburu-buru, tetapi isinya sudah matang di kepalaku sejak malam kemarin.
Apa pun yang Mas simpan, adek di sini. Adek tidak butuh jawabannya malam ini.
Aku melipat kertas itu menjadi empat, menyelipkannya di dalam lipatan sajadah, dan menggulung kembali kain itu seperti semula.
***
Makan malam hari itu hanya berdua dengan mama. Bibi menyajikan sayur asem dan ikan goreng, dan mama menyuap pelan-pelan, mengamati wajahku seolah mencari retakan.
"Indra pulang tengah malam," katanya. "Kamu tidur duluan."
"Aisyah mau menunggu, Ma."
"Menunggu." Mama mengulang kata itu seperti mencicipi sesuatu yang asam. "Menunggu itu pekerjaan yang tidak ada gunanya kalau tidak ada hasilnya, Aisyah. Mama tahu persis bagaimana rasanya menunggu, jam demi jam, dan Mama tahu menunggu saja tidak membuat apa pun terjadi."
Ada sesuatu di nada suaranya, getir dan tua, yang tidak cocok dengan kalimatnya yang tajam. Aku mencatatnya dalam hati, di tempat yang sama aku menyimpan semua hal lain tentang mama yang belum kupahami.
"Kalau begitu Aisyah menunggu sambil berdoa, Ma."
Mama tidak menjawab. Ia mengambil sepotong ikan dan makan, dan gelang tuanya berdenting pelan di pinggir piring.
Ponselku bergetar pukul sepuluh malam. Aku sedang duduk di tepi ranjang dengan lampu padam, dan layarnya menyala di pangkuanku.
Sudah sampai di bandara. Pameran ramai. Jangan lupa makan.
Pesan dari Mas Indra, singkat, tanpa emoji. Tapi ia mengabari. Ia mengingat janji kecil di pintu pagi tadi dan menepatinya. Aku membaca pesan itu tiga kali dan mengetik, Alhamdulillah. Hati-hati pulangnya, Mas. Aku mengirimnya sebelum sempat meragu.
Pesan terakhir datang pukul sebelas lewat: Mas boarding.
Setelah itu aku berbaring dan memandangi langit-langit. Aku tidak tahu kapan tertidur. Yang kutahu adalah bunyi pagar yang dibuka pelan-pelan, bunyi mesin mobil yang dimatikan, dan langkah kaki yang tidak ingin membangunkan siapa pun, melewati lorong, melewati ruang makan, berhenti di depan pintu ruang kerja.
Pintu itu terbuka dan menutup.
Aku menunggu. Jam dinding di bawah berdetak. Aku berbaring miring dan mataku tidak mau menutup. Sepuluh menit, lima belas, dua puluh. Tidak ada bunyi dari bawah. Tidak ada isak, tidak ada doa, hanya hening yang panjang dan kemudian, perlahan, suara kertas dilipat.
Lalu langkah naik tangga. Pelan sekali.
Gagang pintu kamar berputar. Cahaya dari lorong jatuh di lantai, lalu bayangan tubuh yang tinggi berdiri di ambang. Aku menutup mata dengan rapat.
"Dek?"
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Kalau aku membuka mulut, aku takut semuanya tumpah, dan aku tidak tahu apakah ia sanggup menerimanya malam ini.
"Sudah tidur," bisiknya pada dirinya sendiri. Ia diam beberapa saat. Aku mendengar napasnya, dalam dan tidak rata. Ia tidak melangkah masuk. Ia tidak duduk di tepi ranjang. Ia hanya berdiri di sana, dan aku merasakan tatapannya seperti hangat tipis di kulitku.
"Mas baca," katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. "Tiga kali, dek. Mas belum bisa menjawab. Mas belum bisa bilang apa-apa. Tapi Mas baca." Ia menarik napas yang bergetar. "Terima kasih sudah tidak memaksa."
Pintu menutup. Langkahnya turun, pelan, dan di bawah pintu ruang kerja terbuka dan tertutup lagi.
Aku menarik selimut sampai ke dagu, dan baru ketika bantalku basah aku sadar aku menangis tanpa suara.
***
Pagi harinya Bibi menyambutku di dapur dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Mba, tadi Den Indra bangun jam lima. Bibi kira mau salat ke masjid, ternyata ke dapur, tanya di mana gula."
"Gula?"
"Gula, Mba. Dia buka lemari satu-satu, Bibi sampai bingung mau bantu atau pura-pura tidur." Bibi menutup mulut dengan punggung tangan. "Terus dia bilang jangan bilang-bilang. Maaf, Mba, Bibi bocorkan."
"Bibi tidak bilang apa-apa," kataku, dan kami berdua tersenyum seperti dua murid yang menyimpan rahasia kecil dari guru.
Di meja makan ada secangkir teh hangat di tempat dudukku.
Bukan buatan Bibi. Bibi biasanya menaruhnya di sisi kiri, dan cangkir ini di sisi kanan, dengan sendok yang diletakkan sejajar. Uapnya masih naik. Mas Indra berdiri di dekat jendela dengan kemeja kantor yang sudah rapi, dan kakinya belum menyentuh sepatu.
"Selamat pagi, Mas."
"Pagi, dek. Tidurnya nyenyak?"
"Nyenyak, Mas. Mas pulang jam berapa? Adek ketiduran."
"Hampir jam satu. Mas lihat kamu sudah tidur."
"Mas tidak masuk?"
"Mas cuma... lihat sebentar." Ia melirik cangkir itu. "Tehnya, Mas yang seduh. Mungkin kurang manis."
Aku mencicipinya. Terlalu manis, dua kali lipat dari yang kusuka. Aku menahan senyum sampai pipiku sakit.
"Pas, Mas."
Wajahnya bergerak, hampir menjadi senyum, dan lalu dari lorong terdengar langkah mama, tumit sandal rumah yang menggesek lantai. Wajah Mas Indra berubah di depan mataku. Garis rahangnya menegang, bahunya menurun, dan semua kehangatan yang baru saja ada di sana ditarik ke dalam, seperti air surut dari pantai.
Tetapi ia tidak diam. Dengan mata yang hanya menatap cangkir di depanku, dengan suara yang hampir tak terdengar di bawah bunyi sandal mama, ia berkata:
"Sabtu Mas ajak kamu keluar. Berdua. Ke Lembang."