"Keluar ke mana?"
Mama berdiri di ambang ruang makan dengan gelang tuanya, dan pertanyaannya jatuh persis di sela keheningan yang ditinggalkan kalimat Mas Indra. Mas Indra tidak langsung menjawab. Ia menyambar sepatu dari rak, menunduk mengikat talinya lebih lama daripada yang diperlukan.
"Cuma sarapan di luar, Ma. Berdua. Hari Sabtu."
"Sarapan di luar bisa di dekat sini."
"Indra mau cari udara dingin, Ma. Sebentar saja."
"Papamu pulang akhir pekan." Mama berjalan ke meja, menarik kursi, dan duduk dengan punggung lurus. "Sudah dua pekan papa tidak makan siang bersama kita. Kalian pergi, Mama sendirian dengan Bibi? Dan siapa yang mau memastikan Aisyah minum jamunya kalau kalian pergi seharian?"
"Ma..."
"Mama belum selesai. Lembang itu jauh, Indra. Kamu baru sembuh. Kamu baru pulang dari Surabaya. Untuk apa menyetir dua jam ke gunung kalau di rumah ada tempat yang sama enaknya?"
Mas Indra mengangkat wajah, tetapi bukan kepada mama. Ia menatapku sekali, sebentar, dengan mata yang meminta tolong atau minta maaf, aku tidak tahu. Lalu ia berdiri, menyambar tas kerjanya, dan berkata dengan nada yang datar dan hati-hati:
"Kita bahas Sabtu, Ma. Indra terlambat."
Sisa hari itu mama tidak bicara padaku. Itu hukuman yang sudah kuhapal. Hanya sekali, ketika aku menyodorkan gelas jamu pagi dan ia menerimanya, ia berkata tanpa menatap, "Kamu yang minta, kan? Lembang itu?"
"Bukan Aisyah, Ma. Mas Indra."
"Indra tidak pernah mengajak tanpa dihasut." Gelas itu diletakkan keras-keras. "Mama tahu siapa yang pandai menghasut."
Aku menunduk, dan sisa jamu itu kuminum bersama kalimat yang tidak kuucapkan.
***
Sabtu pagi, papa duduk di ujung meja makan dengan koran yang tidak dibacanya. Ia pulang Jumat malam, lebih kurus dan lebih diam daripada terakhir, dengan tas kain yang sama. Mama sudah menyiapkan nasi uduk dan telur balado, dan mama bicara lebih banyak dari biasanya, seakan ingin mengisi seluruh ruangan sebelum ada yang sempat membicarakan hal lain.
"... jadi kalau bisa kita ke rumah Pak Haji siang ini, Pa, mumpung Papa di sini. Indra, Aisyah, kalian temani. Kalau kalian pergi, jamu siapa yang..."
Ponsel papa bergetar di sisi piring. Ia melihat layar, mengerutkan dahi, dan mengangkat sambil terus mendengarkan mama berbicara. "Ya. Ya. Tahan dulu di gudang, jangan dibongkar. Papa ke sana sehabis sarapan." Ia menutup telepon. "Pengiriman besar tertahan di pabrik. Papa harus ke sana hari ini."
"Nah, itu," kata mama. "Jadi kalau Papa pergi, Mama siapa yang temani? Sama saja, Indra dan Aisyah..."
"Ma." Papa melipat korannya. "Biarkan."
"Apa?"
"Biarkan mereka pergi." Papa menatap mama dengan tenang, dan aku baru tahu hari itu bahwa ketenangan bisa lebih keras daripada bentakan. "Indra sudah dewasa. Aisyah istrinya. Mereka berhak berdua sehari. Kita sudah cukup lama membuat mereka tidak punya ruang."
"Papa membela mereka berdua dibanding Mama?"
"Papa tidak membela siapa pun. Papa temani Mama minum teh di teras dulu seperti dulu, baru Papa ke pabrik." Nada papa melunak sedikit, hanya sedikit. "Tapi hari ini biarkan mereka."
Mama membuka mulut, menutupnya, dan mengaduk teh sampai sendoknya berdentang. Ia tidak menyetujui, tetapi ia tidak membantah. Papa mengangguk kepada kami, hampir tak terlihat. Mas Indra sudah berdiri sebelum papa selesai.
Di mobil, ketika kota tertinggal di belakang, kami tidak bicara. Tetapi keheningan itu berbeda dari keheningan di rumah. Jendela terbuka sedikit, udara dingin masuk dengan bau tanah basah dan daun pinus, dan Mas Indra menyetir dengan satu tangan di roda, tangan lain di atas persneling, dekat sekali dengan lututku.
"Dingin?" tanyanya di tanjakan pertama.
"Sedikit."
Ia menutup jendela di sisiku, lalu membukanya lagi setengah. "Biar kamu bisa cium pinusnya."
Aku menoleh ke jendela supaya ia tidak melihat mataku.
Di tikungan sebelum kebun teh ada kios kayu dengan keranjang stroberi yang disusun seperti permata merah. Mas Indra menurunkan kecepatan tanpa bertanya, dan menepi.
"Mas mau stroberi?"
"Papa selalu beli di sini." Ia memandang keranjang itu seperti memandang foto lama. "Satu kotak saja."
Ia turun, tawar-menawar dengan ibu penjual sambil tertawa, dan kembali membawa kotak plastik berisi buah yang masih berembun. Di dalam mobil ia membuka tutupnya dan ragu.
"Mas suapin ya," kataku, mengambil satu. "Boleh?"
Ia mengerjap. Telinganya memerah. "Boleh."
Aku menyodorkan stroberi itu dan ia menggigitnya, matanya terpejam sedetik, dan sari merahnya menetes di dagu. Aku mengambil tisu dari laci dasbor dan mengelapnya, dan ia tidak menghindar. Kami berdua tahu aku melewati sesuatu yang berminggu-minggu tidak boleh dilewati, dan tidak ada yang menyebutnya.
***
Warung makan di pinggir kebun itu beratap seng dan berbau kayu bakar. Kabut turun rendah di atas bukit-bukit teh, menutupi pucuk-pucuknya. Kami duduk di bangku kayu menghadap pemandangan itu, dengan dua mangkuk bubur ayam yang uapnya langsung tertelan udara dingin.
Mas Indra menyendokkan bubur, meniup, memakannya, dan tersenyum kecil. "Enak."
"Mas jarang bilang enak."
"Karena jarang ada yang enak." Ia mengambil pesanan kedua yang baru diletakkan pelayan, sepiring tumis kangkung dengan sambal, dan tanpa menoleh ke arahku mengambil sesuap. Lalu satu lagi. Aku memandangnya, dan ia menyadari tatapanku, dan wajahnya sedikit memerah.
"Apa?"
"Mas makan sayur."
"Mas makan sayur kapan pun Mas mau." Ia mengunyah, lalu menambahkan lebih pelan, "Sayurnya enak. Bukan karena disuruh."
Aku tertawa. Tawa kecil dan sedikit parau, tawa seseorang yang sudah lama tidak memakainya. Mas Indra ikut tertawa kecil, hanya napas yang bergetar di hidung, tetapi cukup untuk menggoyang bahunya, dan untuk beberapa detik kami berdua hanya dua orang di bangku kayu dengan kabut di depan mata.
"Kabutnya naik," katanya, menunjuk ke bukit.
"Seperti naik ke langit."
"Dulu Mas sering ke sini waktu kecil. Sama papa. Mama tidak suka dingin." Ia memegang sendoknya tanpa mengangkatnya. "Papa selalu beli stroberi di bawah, kami makan di mobil sambil menunggu kabut turun. Mama tidak pernah tahu."
"Mas bisa ajak kamu beli stroberi nanti."
"Boleh." Ia menunduk. Jari-jarinya menggambar lingkaran di sisi mangkuk. "Dek."
"Ya, Mas."
"Kalau suatu hari..." Suaranya tersangkut. Ia berdeham. Matanya tertuju pada bukit teh, tetapi aku tahu bukit itu tidak ada di sana. "Kalau suatu hari Mas tidak bisa memberimu apa yang kamu mau. Apa pun itu. Apa yang kamu akan..."
Ponselnya bergetar di atas meja.
Kami berdua menunduk menatap layar. Satu kata, huruf besar: MAMA. Bergetar sekali, berhenti, lalu bergetar lagi tanpa jeda. Mas Indra memejamkan mata sedetik, seperti orang yang baru dipukul di titik yang sama.
"Angkat saja, Mas."
Ia menekan tombol hijau. "Ma?"
Suara mama menembus speaker sampai kudengar dari tempatku, cepat dan pecah, bukan suara mama yang dingin dan teratur yang kukenal.
"Ndra! Ndra, di mana kamu? Pulang! Sekarang!"
"Ma, pelan-pelan. Ada apa?"
"Najwa! Najwa dilarikan ke rumah sakit, kontraksi, katanya terlalu dini, Bu Ratih tidak bisa dihubungi, Mama sendirian, Papa di pabrik tidak angkat-angkat..." Napasnya terputus. "Pulang, Ndra! Dan bawa Aisyah! Bawa Aisyah juga, cepat!"
Sambungan terputus. Mas Indra menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya putih, dan tangannya yang tadi hangat memegang sendok kini lunglai di sisi tubuh.
Mangkuk bubur di depan kami sudah berhenti mengepul.
"Dek," katanya. "Najwa kontraksi dini. Dia di rumah sakit."
Aku sudah berdiri sambil memasukkan dompet ke tas. Mas Indra meletakkan beberapa lembar uang di bawah mangkuk dan menatapku sebentar, dan di matanya ada permintaan maaf yang tidak ia ucapkan.