Perjalanan pulang dari Lembang tidak pernah kuingat dengan baik. Yang tersisa hanya potongan: jarum speedometer yang bergetar di angka yang terlalu tinggi, tangan Mas Indra yang mencengkeram roda sampai ruas jarinya pucat, dan kotak stroberi di dasbor yang bergulir setiap tikungan, sampai aku memegangnya erat-erat di pangkuan supaya tidak jatuh.
"Dek," katanya sekali, di tengah jalan, "maaf. Lembangnya jadi..."
"Mas." Aku menyentuh lengannya, ringan, hanya ujung jari. "Sabtu ini sudah cukup. Fokus saja ke jalan."
Ia mengangguk, dan jarum speedometer turun sedikit.
"Mas telepon papa," katanya beberapa menit kemudian, menyerahkan ponselnya padaku. "Tolong, dek. Tekan yang atas."
Aku menekan nama itu dan menempelkan ponsel ke telinga. Nada sambung panjang, terputus, lalu suara perempuan otomatis. Aku mencoba lagi. Tiga kali.
"Tidak diangkat, Mas. Mungkin di gudang, sinyalnya lemah."
"Pengiriman itu." Mas Indra mengusap wajah dengan punggung tangan. "Papa selalu begitu kalau ada pengiriman. Pokoknya keluar dari dunia."
"Kirim pesan saja. Nanti dibaca."
Aku mengetik pesan singkat atas namanya: Pa, Najwa di rumah sakit, kontraksi dini. Mama sendirian. Telepon Indra kalau sudah baca. Pesan itu terkirim dengan satu tanda centang saja.
Mama menunggu di depan ruang gawat darurat sebuah rumah sakit di tengah kota. Ia duduk di bangku plastik biru dengan tas di pangkuan, kerudungnya miring, dan wajahnya yang selalu tegak kini terlipat seperti kertas yang diremas. Begitu melihat kami, ia berdiri terlalu cepat dan nyaris limbung.
"Ma, pelan-pelan." Mas Indra menahan sikunya.
"Di dalam." Mama menatapku, bukan anaknya, dan menunjuk pintu kamar dengan dagunya. "Kamu ikut Mama. Indra, kamu tunggu di sini."
"Ma, kenapa Aisyah?"
"Karena tidak ada orang lain." Suaranya pecah, dan ia sendiri tampak kaget mendengarnya. "Bu Ratih tidak bisa dihubungi. Sudah sepuluh kali Mama telepon. Papamu di pabrik, ada pengiriman tertahan, ponselnya tidak diangkat. Najwa sendirian di dalam, dia tidak punya siapa pun, dan Mama... Mama tidak bisa sendirian di sana."
Itu kalimat paling jujur yang pernah kudengar dari mama. Aku tidak tahu harus merasa apa. Mas Indra menatapku, dan aku mengangguk kepadanya, satu kali, sebelum mama menarikku melewati pintu geser.
***
Ruangan itu berbau antiseptik dan bunga layu. Di balik tirai hijau yang disingkap setengah, Najwa terbaring dengan infus di punggung tangan dan sabuk pemantau di perut yang membulat. Ia pucat sekali, rambutnya lengket di pelipis. Di sampingnya, seorang perawat mengecek layar kecil yang berkedip-kedip.
"Keluarganya?" tanya perawat itu.
"Saya budhenya," kata mama. "Ini menantu saya."
"Dokter bilang usia kandungannya sekitar dua puluh delapan minggu. Kontraksinya sudah mulai ditahan dengan obat, tapi masih harus dipantau malam ini. Kalau tidak turun, ia harus dirawat beberapa hari." Perawat itu menurunkan suaranya. "Dia cemas sekali. Kalau bisa, temani, jangan biarkan sendirian."
Najwa membuka mata. Ia melihat mama lebih dulu, bibirnya bergerak "Budhe", lalu pandangannya bergeser dan berhenti padaku. Wajahnya berubah. Bukan marah, bukan benci, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih lemah.
"Kamu." Suaranya serak. "Kenapa kamu yang..."
"Mbak Najwa," kataku pelan. Aku maju satu langkah ke sisi ranjang dan menarik kursi. "Aisyah di sini bukan untuk apa-apa. Cuma menemani."
"Aku tidak minta ditemani."
"Iya. Tapi Aisyah di sini."
Najwa menoleh sedikit. "Kamu tidak benci aku?"
"Dulu Aisyah marah sekali," jawabku jujur. "Sekarang Aisyah cuma lihat orang yang sedang sakit."
"Baik sekali." Ia tertawa, dan tawa itu patah menjadi napas pendek. "Aku jahat padamu."
"Iya, Mbak jahat. Dan Aisyah tidak lupa." Aku menaruh tanganku di sisi tempat tidurnya, tidak menyentuhnya. "Tapi itu bisa dibicarakan nanti. Sekarang Mbak istirahat."
Najwa memalingkan wajah. Tangannya, yang bebas dari infus, memegang pinggir selimut dan meremasnya. Lama kami tidak bicara. Mesin pemantau berdetak, dan di bawah detaknya ada bunyi lain, detak halus dan cepat yang ternyata detak jantung bayi yang belum lahir.
"Aku takut," bisik Najwa, kepada langit-langit. "Kalau dia keluar sekarang..."
"Dokter sudah tangani." Aku tidak tahu kenapa suaraku sehalus itu. "Insya Allah bisa ditahan."
"Aku tidak punya apa-apa. Tidak ada yang mau lihat aku." Matanya berair, dan ia menggigit bibir sampai putih. "Mama bohong padaku. Mama selalu bilang semua akan beres."
Mama berdiri di kaki ranjang tanpa suara. Ia menatap perut itu, lalu wajah itu, dan tangan kanannya, yang biasanya memutar gelang, terkulai di sisi tubuh. Sesaat kemudian, tanpa tampak sadar, ia maju dan menarik selimut Najwa sampai ke dada, merapikan ujungnya dengan gerakan yang terlatih, gerakan yang sama seperti yang kulihat di ruang kerja berminggu-minggu lalu.
"Kamu tidur," katanya pelan sekali. "Budhe di sini."
Perawat datang membawa obat lain, memasukkannya ke selang infus, dan menyuruh Najwa tidur. Najwa menurut. Pelan-pelan matanya menutup, napasnya melambat, dan dalam setengah mengigau ia mulai bergumam, kata-kata yang tidak jelas, lalu menjadi jelas.
"Mas... Mas Hando..." Tangannya bergerak di atas selimut, mencari-cari. "Mas Hando, tolong aku... jangan tinggalkan aku... bayinya, Mas..."
Aku membeku.
Di kaki ranjang, mama juga.
"Mas Hando, aku takut," racau Najwa, air mata mengalir ke telinganya. "Kamu janji akan datang. Kamu janji, Mas..."
"Hando," ulang mama. Suaranya tidak seperti mama. Tanpa tekanan, tanpa nada, hanya bisikan yang jatuh. "Handoyo."
Ia tidak menoleh kepadaku. Ia menatap Najwa seperti orang yang baru dipaksa membaca ulang sesuatu yang selama ini ia pikir sudah selesai. Dalam beberapa detik itu aku melihat sesuatu yang tidak pernah kuduga: wajah mama runtuh. Bukan marah. Bukan malu. Keterpukulan yang polos dan telanjang, tanpa pertahanan.
"Ma?" bisikku.
Mama tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah ke luar, dan aku mengikutinya.
***
Mas Indra berdiri bersandar di dinding lorong, dan begitu melihat wajah mama ia menegakkan badan.
"Ma?"
"Dia..." Mama berhenti. Bibirnya bergetar. "Dia memanggil..."
"Memanggil Pak Handoyo, kan, Ma?" Mas Indra tidak bertanya. Ia mengatakannya dengan suara yang lembut sekali, hampir seperti menyesal. "Aisyah dengar juga?"
Aku menunduk sebagai jawaban.
"Sudah jelas, Ma."
Mama menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya bergerak dari wajah anaknya, ke wajahku, ke pintu ruang rawat, ke wajah anaknya lagi. Tangannya turun perlahan. Ia berdiri di sana sebentar, wajahnya kembali dikumpulkan sepotong demi sepotong.
Lalu pandangannya berhenti padaku.
"Pulang," katanya.
"Ma, Aisyah..."
"Pulang. Sekarang." Suara itu kembali dingin, dingin sekali. "Kamu puas?"