Di lorong rumah sakit yang berbau obat, aku punya dua jawaban untuk pertanyaan mama. Yang pertama pendek dan tajam, dan aku sudah membuka mulut untuk mengucapkannya. Yang kedua keluar dari mulutku sendiri.
"Tidak, Ma. Aisyah tidak puas."
Mama berkedip.
"Aisyah tidak pernah mau ini terjadi," lanjutku, pelan, tidak mengangkat suara. "Aisyah dengar apa yang Mama dengar. Aisyah tidak puas melihat Mbak Najwa sendirian dan Mama begini."
"Ma." Mas Indra berdiri di antara kami tanpa sempat kusadari. "Kita pulang. Aisyah tidak bersalah."
"Antar Mama pulang." Hanya itu. Mama berjalan di depan, punggungnya lurus, dan sampai di mobil ia duduk di kursi belakang dengan wajah menghadap jendela. Sepanjang perjalanan ia tidak bicara, dan ketika kami tiba, ia langsung masuk kamar tamu dan menutup pintu.
Kuncinya tidak diputar. Tetapi dari dalam juga tidak terdengar bunyi apa pun.
Papa pulang larut malam dari pabrik. Aku mendengar mobilnya di pagar saat menyetrika baju Mas Indra yang kusut, mendengar langkahnya yang berat di teras, lalu suara Mas Indra yang rendah di ruang tamu, menjelaskan sesuatu dalam kalimat-kalimat pendek. Setelah itu hening yang lama. Lalu satu kalimat dari papa yang kudengar jelas, bukan dengan nada tinggi, tetapi dengan nada orang yang menekan sesuatu sampai padat:
"Papa bicara dengan mama besok."
***
Minggu pagi mama tidak keluar kamar. Bibi mengetuk dua kali dengan nampan sarapan, dan dua kali pula nampan itu kembali dingin. Roti tidak tersentuh, teh tidak tersentuh, bubur yang kuaduk sendiri dengan hati-hati ikut tidak disentuh.
"Ibu bilang tidak lapar, Mba," bisik Bibi di dapur, menatap nampan itu seperti menatap kesalahan sendiri. "Tapi Bibi dengar Ibu menangis sedikit. Sedikit saja, lalu berhenti."
"Mama pernah begini sebelumnya?"
"Pernah. Bibi sudah lama ikut Ibu, Mba. Sekali, waktu nenek meninggal." Bibi memeras celemeknya. "Ibu itu kalau sakit hati tidak makan, tidak bicara. Sampai ada yang minta maaf dan dia lega, atau sampai dia lupa kenapa marah."
Aku memikirkan kalimat itu seharian, dan siang harinya aku mengetuk pintu kamar tamu dengan nampan baru: bubur hangat, segelas teh, dua potong pisang rebus kesukaan yang kulihat mama ambil diam-diam di dapur pekan lalu.
"Taruh di depan pintu."
"Ma, Aisyah..."
"Mama bilang taruh saja."
Aku berjongkok dan meletakkan nampan di lantai, tetapi tidak beranjak. "Aisyah tidak tahu apa yang Mama takutkan, Ma. Aisyah tahu Mama marah, tapi Aisyah tidak tahu apa yang Mama takutkan." Aku menarik napas. "Yang Aisyah tahu cuma Mama belum makan sejak kemarin. Itu saja."
Jawaban tak kunjung datang. Aku menunggu lima menit di sana, tak mau berdiri, tak mau mengetuk lagi. Lalu aku bangkit. Baru beberapa langkah, pintu terbuka sejengkal. Tangan yang kurus dan berkeriput mengambil nampan, lalu pintu menutup lagi tanpa suara.
Aku tidak tahu apakah itu terima kasih atau hanya lapar. Aku memilih mengira itu yang pertama.
Papa keluar dari kamar tamu pukul tiga, setelah dua jam. Tak seorang pun tahu apa yang dikatakan di dalam. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, tetapi matanya merah. Ia menepuk bahu Mas Indra yang menunggu di ruang makan.
"Ikut Papa."
Mereka berangkat dengan mobil papa tanpa penjelasan. Mama tetap di kamar, dan aku mengambil mop sampai lantai ruang tamu mengilap, menunggu sesuatu yang tidak kutahu namanya.
Menjelang Maghrib, dua mobil berhenti di depan pagar.
Papa turun lebih dulu. Mas Indra menyusul. Dari mobil kedua, yang lebih kecil, turun seorang lelaki bertubuh gemuk dengan kemeja yang kancingnya salah dikancingkan satu lubang. Aku mengenali bahunya dari pesta pernikahan itu. Pak Handoyo.
Ia tidak melihat siapa pun. Ia hanya mengikuti papa melewati teras, wajahnya pasrah.
***
"Duduk," kata papa.
"Saya berdiri saja, Pak."
Ruang tamu penuh tetapi sunyi. Papa duduk di kursi tunggal. Mas Indra bersandar di rak buku dengan tangan terlipat. Aku menyajikan teh dalam cangkir yang gemetar di nampan, lalu mundur ke dekat pintu dapur. Mama muncul belakangan, dari lorong, dengan kerudung rapi tetapi mata sembap, dan mengambil tempat di sofa panjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pak Handoyo menarik napas. Suaranya keluar serak.
"Bu, Pak, Nak Indra, Nak Aisyah. Saya datang atas kemauan saya sendiri. Pak sudah datang ke rumah saya, tapi tidak memaksa. Saya ke sini karena saya tidak punya hak lagi untuk diam."
"Katakan," kata papa.
"Anak yang dikandung Najwa..." Ia menelan ludah. "Anak itu anak saya."
Hening yang jatuh sesudahnya tidak punya suara. Aku mendengar detak jarum jam dan tetes air dari kran dapur yang tidak rapat.
"Saya dan Najwa..." Ia berhenti, lalu mencoba lagi. "Hubungan kami salah sejak awal. Saya beristri. Saya bohong pada Najwa, saya bohong pada istri saya, pada Bapak sendiri. Waktu Najwa bilang dia hamil, saya pengecut. Saya pura-pura tidak tahu. Dia sampai harus mengaku-ngaku kepada orang lain, dan itu salah saya."
"Bu Fitri?" tanya papa.
"Sudah tahu, Pak. Saya sendiri yang cerita tadi siang, begitu Bapak dan Nak Indra pulang dari rumah saya." Wajahnya bergetar. "Dia tidak membanting apa pun. Dia hanya duduk lama sekali, lalu bilang: temui orang tua Najwa. Pak Warto sudah saya hubungi tadi siang. Kami bicara di telepon. Saya akan menemuinya langsung."
"Dan biayanya?"
"Semua biaya rumah sakit, saya yang tanggung. Persalinan, perawatan bayi, sampai dia sehat. Dan nafkah anak itu, tiap bulan, selama yang dibutuhkan." Pak Handoyo menatap lantai. "Saya tidak minta Najwa menjadi istri saya. Saya tidak pantas, dan saya tidak mau memperburuk keadaan Bu Fitri. Tapi anak itu tidak boleh menanggung kesalahan ayahnya."
Mas Indra menghela napas panjang di sudut. Aku melirik mama.
Mama duduk kaku. Tangannya mencengkeram ujung kerudung.
"Bohong," katanya. Satu kata, dan suaranya pecah di ujung. "Handoyo, kamu bohong. Najwa tidak..."
"Ma."
"Handoyo yang menjebak Najwa!" Mama berdiri. Tubuhnya gemetar. "Kamu lelaki yang sudah beristri, kamu pakai dia, kamu memanfaatkan anak yang tidak punya siapa-siapa! Mama kenal Najwa sejak kecil! Dia tidak mungkin..."
"Kita sudah selesai dengan Najwa, Ma."
Papa tidak mengangkat suara. Ia hanya berkata, dan kalimat itu menggantung di udara seperti pintu yang ditutup perlahan. Mama menoleh kepadanya, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang bergerak pelan, sesuatu yang bukan marah. Ia menatap suaminya seperti seseorang yang tahu bahwa ia telah ditinggalkan di sebuah tempat yang ia sendiri bangun.
Pak Handoyo membungkuk dalam kepada papa, kepada mama, kepada Mas Indra, dan terakhir sedikit kepadaku. Ia pamit tanpa menunggu teh dihabiskan.
Ketika pintu menutup di belakangnya, mama terduduk. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap lurus, ke arah yang tidak ada apa-apanya.
Aku bergerak mengambil cangkir yang belum disentuh di meja. Di sebelah cangkir itu, ponsel mama tergeletak dengan layar menghadap atas. Layarnya menyala, dan sebelum sempat kupalingkan wajah, tiga baris pesan terbaca olehku, nama pengirim di atasnya: Dek Ratih.
Mbak, jangan percaya mereka. Aku bisa jelaskan.