"Kamu baca?"
Mama sudah berdiri di sisiku, dan ponselnya sudah ada di tangannya, layar menghadap dada. Ia tidak memandang ponsel itu. Ia memandangku dengan mata sembap yang tiba-tiba sangat tajam.
"Tidak sengaja, Ma. Menyala sendiri waktu Aisyah ambil cangkir."
"Baca apa?"
Aku bisa berbohong. Aku sudah belajar berbohong dari mama sendiri, dan aku tahu persis bagaimana menjahitnya rapat. Tetapi aku capek, dan bohong pada orang yang baru kehilangan sesuatu terasa jahat.
"Dari Bu Ratih. Katanya Mama jangan percaya mereka. Dia bisa menjelaskan."
Mama menatapku lama sekali. Dari ruang tamu Mas Indra dan papa masih berbicara pelan di teras.
"Jangan cerita ke Indra," katanya. "Jangan cerita ke siapa pun."
"Ma..."
"Aisyah." Suaranya rendah, hampir lembut, dan karena itu menakutkan. "Kamu perempuan yang belajar cepat. Jadi pelajari yang ini: ada hal yang kalau diceritakan, bukan menolong siapa pun. Cuma membuat luka baru."
Ia memasukkan ponsel ke saku dan pergi ke kamar. Aku berdiri sendirian dengan cangkir dingin di tangan, dan baru ketika kudengar Mas Indra memanggil dari teras aku sadar aku tidak menjawab apa-apa.
Lima hari kemudian aku masih menyimpan kalimat itu.
Pekan itu berjalan dengan cara aneh, seperti rumah yang baru mengalami gempa kecil dan semua orang pura-pura tidak merasakannya. Papa kembali ke mess hari Senin. Pak Handoyo, kata Mas Indra, menemui Pak Warto di rumahnya dan keluar dengan mata merah serta kemejanya dikancingkan dengan benar. Najwa, dari kabar Bibi yang mendengar dari Bu Ratna yang mendengar dari tetangga rumah sakit, sudah stabil dan tinggal menunggu waktu. Mama makan lagi sejak Senin. Ia makan sedikit, dengan mulut terkatup, dan tidak menyentuh jamu di kulkas, dan tidak menyuruhku meminumnya.
Aku tidak berani menyebut itu kemenangan. Aku menyebutnya jeda.
Rabu malam, Mas Indra pulang lebih awal dari biasanya dan menemukanku di ruang makan dengan sepiring nasi hangat yang sengaja kusisakan. Ia duduk di seberangku tanpa diminta, dan itu cukup membuatku nyaris menjatuhkan sendok.
"Mama sudah tidur?" tanyanya.
"Sudah, Mas."
"Mama diam sekali pekan ini. Adek tahu sesuatu?"
Kalimat itu memukul langsung ke pesan di layar ponsel mama, dan janji yang kuberikan tanpa sempat berpikir. Sendok di tanganku berhenti sebelum sampai ke bibir.
"Mama cuma capek, Mas," kataku. "Kaget soal Pak Handoyo. Soal Mbak Najwa."
"Hm." Ia menatapku sebentar, terlalu lama untuk disebut kebetulan, lalu menunduk ke nasinya. "Mas takut dia menyalahkan kamu lagi."
"Mama sudah tidak begitu pekan ini."
"Syukurlah." Ia mengambil sambal, mengaduknya tanpa tujuan. "Dek. Stroberi dari Lembang... Mas bawa ke kantor. Masih tiga. Mas simpan di kulkas kecil, Mas makan satu tiap sore."
"Satu tiap sore?"
"Supaya tidak cepat habis." Ia berdeham, wajahnya hangat. "Lembangnya terputus. Mas belum selesai bicara waktu itu. Nanti, kalau sudah..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menatap piringnya, dan sesuatu di dadaku bergetar karena aku tahu kalimat yang ia tinggalkan itu belum mati, hanya menunggu giliran.
"Nanti Mas selesaikan, ya," kataku. "Adek tunggu."
Ia mengangguk. Sudah berminggu-minggu kami tidak duduk semeja hanya berdua, dan aku menyimpannya baik-baik, tanpa memberi nama, seperti menyimpan benih.
Aku tidak menceritakan pesan Bu Ratih padanya. Itu rahasia kedua yang kutahan, setelah bisikan mama, dan aku tidak tahu seberapa banyak rahasia yang sanggup ditanggung satu perempuan sebelum retak.
***
Jumat siang jeda itu berakhir.
Bel pagar berbunyi pukul dua. Bibi yang membuka, dan dari dapur aku mendengar suara perempuan yang ramah, bernada manis sekali, seperti gula yang dilelehkan.
"Mbak! Ya Allah, Mbak, aku langsung ke sini begitu bisa. Kasihan Mbak, pasti shock sekali."
Bu Ratih.
Aku berdiri kaku di depan wastafel dengan piring basah di tangan. Bibi muncul di pintu dapur dengan wajah yang bahkan lebih pucat dari bajunya, dan tanpa bersuara menaruh jari di bibir. Ia menarik tanganku dan menyeretku ke sudut, di balik lemari piring, tempat suara dari ruang tamu terdengar jelas lewat pintu geser yang tidak rapat.
"Duduk, Dek," suara mama, rendah dan lelah.
"Mbak, aku mau minta maaf dulu." Terdengar sesuatu dijatuhkan di sofa, mungkin tas. "Aku juga dibohongi Najwa, Mbak. Anakku sendiri. Dia bilang itu anak Indra. Dia bilang dia berani sumpah. Aku percaya, namanya juga ibu. Mana aku tahu sampai ternyata Pak Handoyo..."
"Handoyo." Mama menyebut nama itu seperti menyebut penyakit.
"Aku malu sekali, Mbak. Sampai tidak berani telepon dua hari. Tapi aku tidak mau Mbak berpikir aku ikut-ikutan menipu."
Aku menoleh ke Bibi. Bibi menggeleng sangat pelan, matanya mengatakan sesuatu yang tidak perlu diucapkan. Aku teringat rekaman kamera pagar, tujuh kunjungan dalam empat pekan, amplop cokelat. Teringat bisikan di gerbang: sudah kubilang jangan di sini.
"Tidak apa, Dek," kata mama. "Mbak percaya."
Aku tidak yakin mama sungguh percaya. Tetapi mama membutuhkan seseorang untuk dipercayai, dan itu terdengar dari suaranya.
"Terima kasih, Mbak." Terdengar bunyi menyeruput teh. "Nah, Mbak. Soal yang satu itu. Aku tidak mau Mbak kehilangan harapan."
"Harapan apa?"
"Cucu, Mbak." Bu Ratih merendahkan suara menjadi bisikan yang justru terdengar lebih jelas. "Aku punya kenalan. Gadis baik-baik, dari keluarga baik, sehat, dan keluarganya subur-subur semua, kakak-kakaknya sudah punya anak tiga-tiga. Bukan untuk apa-apa, Mbak, cuma diperkenalkan. Biar Indra punya pilihan. Pernikahan itu urusan Allah, tapi kita ikhtiar."
Telapak tanganku basah di balik lemari. Bibi menggenggam pergelangan tanganku sampai sakit.
"Mbak sudah bilang setahun," kata mama. "Waktu itu Mbak bilang satu tahun untuk Aisyah."
"Iya, Mbak. Tapi waktunya tinggal tujuh bulan." Nada Bu Ratih lembut, semanis madu yang dituang. "Indra masih muda, Mbak. Tiga puluh pun belum. Kalau tahun ini tidak jadi, tahun depan bisa lagi. Tapi Mbak, umur Mbak..."
"Mbak masih sehat."
"Aku tahu, Mbak. Tapi Mbak sendiri yang bilang, Mbak ingin menimang cucu sebelum..."
"Cukup, Dek."
Hening. Telapak tanganku basah.
"Pikirkan dulu," kata Bu Ratih akhirnya, ramah lagi. "Tidak usah sekarang. Aku cuma ingin Mbak tahu aku selalu di sisi Mbak."
***
Bibi membukakan pintu depan saat Bu Ratih pamit. Aku menyusul membawa nampan cangkir untuk dibereskan, supaya tidak tampak bersembunyi, dan kami berpapasan di ambang pintu.
Ia lebih pendek dariku, bertubuh bulat, dengan kerudung bunga-bunga dan senyum yang membuat orang percaya bahwa ia tidak pernah berbohong seumur hidup. Ia menatapku dan senyumnya melebar, bukan ke arah mata, melainkan ke arah pelipis.
"Nak Aisyah. Sehat?"
"Alhamdulillah, Bu."
"Sabar ya. Rezeki orang itu beda-beda waktunya." Ia menepuk lenganku seperti Bu Fitri menepuk lenganku di pesta, sama persis. "Kita lihat saja, ya."
Ia pergi. Mobilnya menderu di jalan.
Aku berbalik, dan mama sudah berdiri di ujung ruang tamu. Ia memutar gelang tuanya sekali, perlahan, matanya tidak lepas dari wajahku.
"Kamu dengar," katanya. Bukan pertanyaan. "Hitungan tetap berjalan."