Mama sudah berdiri di ujung sofa panjang, tangan kiri memutar gelang tuanya, ketika aku keluar dari dapur.
"Duduk. Kalian berdua."
Jam dinding baru lewat pukul sembilan. Aku baru selesai membereskan meja makan, dan Mas Indra baru saja melepas sepatu di teras dengan wajah orang yang berharap malam ini tidak ada apa-apa lagi.
Sejak mama berkata hitungan tetap berjalan, hampir sepekan lewat. Selama itu tidak sekali pun ia menyebutnya, dan justru karena itu tengkukku sudah dingin sebelum aku duduk.
"Papa mana, Ma?" tanya Mas Indra.
"Papamu telepon sore tadi. Urusan pabrik di luar kota, pulangnya belum tahu." Mama menunggu sampai kami berdua duduk, aku di sofa tunggal dan Mas Indra di ujung yang terjauh dari mama. "Jadi Mama bicara sekarang. Bibi sudah Mama suruh masuk."
"Ma, Indra baru sampai. Bisa besok saja?"
"Tidak bisa. Besok kamu berangkat jam enam, pulang jam sembilan. Malam ini kamu di sini, dan Mama mau kamu mendengar, bukan menyahut."
Mas Indra membuka mulut, menutupnya lagi, dan duduk lebih tegak seperti anak yang dipanggil kepala sekolah. Pemandangan itu tidak lucu sama sekali.
Dari dapur tidak terdengar bunyi apa pun. Bibi memang sudah masuk, tetapi aku tahu kamar kecilnya bertembok tipis.
"Tahun ini harus ada cucu di rumah ini." Mama mengucapkannya datar, seperti membacakan pengumuman. "Kurang dari tujuh bulan lagi. Mama tidak minta banyak, hanya satu hal yang paling wajar diminta orang tua."
"Ma, itu urusan Allah," kataku pelan.
"Mama tahu itu urusan Allah. Makanya Mama minta kalian ikhtiar, bukan berhenti di umrah dan stroberi."
"Aisyah sudah ikhtiar, Ma. Aisyah ke dokter, Aisyah minum..."
"Jamu yang kamu buang?" Mama tersenyum tipis. "Sudahlah. Mama tidak sedang menagih yang lalu."
Matanya bergeser dari aku ke Mas Indra dan kembali lagi.
"Kalau waktunya habis dan belum ada, Mama akan mengatur yang lain untuk Indra."
Kata cerai tidak ia ucapkan. Mama terlalu pandai untuk itu. Tetapi aku bukan anak kecil, dan aku bisa menghitung berapa banyak "yang lain" yang bisa diatur seorang ibu untuk anak lelakinya yang sudah punya istri.
"Jangan harap Mama cepat pulang ke rumah sendiri," lanjutnya. "Plafon sudah selesai, sekarang mandornya bilang instalasi listrik ikut harus diganti. Molor lagi. Jadi Mama di sini, dan Mama akan terus melihat."
Aku menatap Mas Indra.
Aku tahu aku tidak boleh menatap seperti itu. Tatapanku pasti terbaca jelas oleh siapa pun yang punya mata: aku sedang menunggu. Dua bulan lalu, di ruang tamu yang sama, Mas Indra berdiri di depan Bu Ratih dan Najwa dan berkata ia sanggup membayar tes apa pun, di depan mama, di depan semua orang. Laki-laki itu kuingat betul. Ia ada di dalam sana, di suatu tempat, di bawah wajah pucat yang sekarang menunduk ke karpet.
Jari-jarinya mengetuk lutut. Pelan, teratur, seperti menghitung sesuatu.
Satu detik. Lima detik. Jam dinding mengambil alih seluruh ruangan.
"Mas?" bisikku.
Ia tidak menoleh.
"Kamu sudah periksa, Ndra?" Mama menyela, dan suaranya tiba-tiba turun menjadi sangat tenang. "Atau kamu takut jawabannya?"
Sofa di seberangku bergeser. Mas Indra mengangkat kepala, dan sekejap kulihat sesuatu di matanya yang bukan marah. Marah akan lebih mudah kuhadapi. Itu mata orang yang tertangkap basah di tengah jalan.
"Mama tidak tahu apa-apa," katanya.
Suaranya serak dan sangat rendah. Ia berdiri, melewati meja kecil, melewatiku tanpa menyentuh bahuku seperti yang dulu selalu ia lakukan bahkan ketika sedang terburu-buru, lalu masuk ke ruang kerja. Pintu itu tidak dibanting. Ia hanya menutupnya, dan bunyi klik halus itu entah kenapa lebih keras dari bantingan mana pun.
Mama mengangkat alis dan memutar gelangnya satu kali penuh.
"Lihat? Anak itu juga tahu," katanya kepadaku, lalu bangkit dan masuk ke kamar tamu dengan langkah yang sama sekali tidak tergesa.
***
Aku mencuci tiga cangkir yang sebenarnya sudah bersih.
Air dari keran mengalir cukup lama sebelum aku sadar aku hanya menggosok bagian dalam cangkir yang sama. Di belakangku pintu kamar kecil terbuka sedikit, dan Bibi keluar dengan kain lap di tangan, seolah ia memang punya urusan di dapur pukul sembilan lewat seperempat malam.
"Mba."
"Bibi dengar semua, ya?" Aku tidak menoleh.
"Bibi tidak mau dengar. Dindingnya yang mau." Ia mengambil cangkir dari tanganku, mengelapnya, dan menaruhnya di rak. "Mba, Den Indra itu..."
Ia berhenti. Aku menunggu, dan sampai kain lapnya selesai membersihkan seluruh rak pun Bibi tidak melanjutkan. Ketakutannya pada mama lebih kuat dari kasihannya padaku, dan aku tidak bisa menyalahkannya. Aku sendiri tadi tidak sanggup membuka mulut.
"Tidak apa, Bi. Istirahat saja."
"Mba juga."
Aku mematikan lampu dapur dan tidak langsung naik. Di lorong bawah, di balik pintu ruang kerja, ada garis cahaya setipis benang. Aku berdiri di depannya cukup lama, tanganku terangkat setengah jalan, lalu turun lagi. Malam ini aku kehabisan kalimat yang belum pernah kupakai di depan pintu itu.
Di pintu kulkas ada blok kertas kecil milik mama untuk mencatat jamu. Aku menyobek selembar, menulis dengan pensil: Termos di meja dekat sofa. Jangan lupa makan. Adek sayang Mas. Lalu kutempelkan di daun pintu, setinggi mata, dan aku naik tanpa mengetuk.
Di anak tangga kelima kursi di dalam berderit, dan celah cahaya di bawah pintu melebar sedikit. Aku terus naik. Dari pagar tangga di atas, ketika kuberanikan menunduk, kertas itu sudah tidak ada di pintu. Aku duduk di tepi ranjang yang terlalu luas.
Aku mengulang kejadian tadi dari awal.
Di hari tes DNA, Mas Indra membantah. Di hari ia memotong ceritaku di ruang kerja, ia menolak dengan lembut. Di hari demam, ia meracau dan masih sempat berbisik terima kasih. Dalam seluruh dingin dan bisunya, ada satu hal yang selalu kutunjuk sebagai pegangan: hampir selalu ia membalas mama, sekalipun hanya dengan satu kalimat. Hanya sekali ia diam, di depan botol-botol jamu itu, dan kuputuskan waktu itu cuma pengecualian.
Malam ini mama berkata akan mengatur yang lain untuknya, dan untuk kedua kalinya ia tidak menjawab apa pun.
Bukan karena ia setuju. Aku yakin sekali itu bukan karena setuju. Tetapi tembok yang kemarin kuhadapi ternyata masih punya celah, dan malam ini celah itu tertutup, dan aku tidak tahu apa yang sedang ia jaga di baliknya.
Aku bersujud lama sekali sebelum tidur.