Mas Indra tidak mengangkat kepala dari tali sepatunya ketika aku muncul di ambang pintu depan.
"Mas, soal Kamis malam itu, waktu Mama bilang akan mengatur yang lain untuk Mas..."
"Nanti, dek. Mas sudah telat."
Aku berdiri di ambang pintu depan dengan sandal rumah dan sisa air wudu di ujung kerudung, setelah menunggu dari pukul lima agar bisa mencegatnya sebelum mama bangun. Sejak Kamis malam itu aku menimbang kalimat ini, dan ia menepisnya dalam tiga detik.
"Adek hanya mau tahu apa Mas baik-baik saja."
"Mas baik." Ia berdiri, merapikan kerah, mengambil tas kerja dari bangku teras. Sebentar matanya bertemu mataku. Hanya sebentar, tetapi lama cukup untuk kulihat lingkaran gelap di bawahnya, dan lama cukup bagiku untuk menyadari ia tidak mengucapkan satu kata pun tentang hari ini. "Nanti malam, ya. Mas usahakan pulang cepat."
Mobilnya keluar dari pagar. Aku masih memegang daun pintu ketika kamera di tiang pagar berkedip merah satu kali, seperti ikut mengantar.
Di meja makan, di tempat yang biasa kududuki, ada kotak kecil berwarna biru tua dengan pita perak.
Aku berdiri lama di depannya. Tidak ada kartu. Tidak ada tulisan. Pita itu diikat rapi sekali, dengan simpul yang kukenali karena Mas Indra selalu mengikat tali bungkus dengan cara yang sama, simpul dua kali yang tidak mudah lepas. Isinya kalung tipis berantai halus dengan liontin bulat kecil sebesar kuku, dan di baliknya diukir satu huruf: A.
Aku memegangnya dengan dua tangan.
"Hadiah dari orang yang bersalah."
Aku tersentak. Mama sudah berdiri di pintu kamar tamu dengan mukena masih tergantung di bahu, memandang kotak itu dari jauh seperti memandang barang sitaan.
"Ma, ini..."
"Orang yang merasa tidak bersalah biasanya menulis kartu, Aisyah. Mengucapkan sesuatu. Kalau sampai tidak berani menulis apa-apa, itu artinya..." Mama mengangkat bahu. "Ah, sudahlah. Selamat ulang tahun."
Kalimat terakhir itu diucapkannya sambil membelakangiku, menuju dapur, tanpa nada. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau tersinggung, jadi aku tidak melakukan keduanya.
Bibi masuk membawa nampan sarapan dan, ketika mama sudah duduk dengan teh, menyelipkan sesuatu ke tanganku di balik pintu lemari es: sepotong pisang goreng yang masih hangat. "Selamat ulang tahun, Mba," bisiknya. "Umur Mba bertambah, sabar Mba juga mesti bertambah, ya."
Aku hampir tertawa. Hampir.
Kupasang kalung itu di depan kaca lemari piring. Rantainya dingin di kulit leher, dan liontin A itu jatuh persis di lekuk tulang selangka, seolah memang dibuat untuk ukuranku. Dari meja makan, mama memperhatikan lewat pantulan kaca.
"Terlalu tipis," katanya. "Untuk menantu keluarga ini mestinya yang lebih berat."
"Bagi Aisyah ini cukup, Ma."
"Terserah." Mama mengaduk tehnya tanpa menoleh. "Papa telepon lagi tadi malam. Akhir pekan ini juga tidak pulang. Jadi kalau ada yang mau kamu adukan, simpan saja sampai Papa ada."
Aku tahu persis siapa yang sebenarnya sedang diperingatkan. Aku menjawab, "Tidak ada yang mau diadukan, Ma," dan itu setengah benar. Yang ingin kuadukan bukan perbuatan mama. Yang ingin kuadukan adalah punggung Mas Indra yang menjauh tiap kali aku membuka mulut.
***
Siang itu aku duduk di bangku teras belakang dengan ponsel di tangan, kalung sudah melingkar di leher, dan sambungan telepon yang bunyi tut-nya terasa terlalu panjang.
"Assalamualaikum, Teh!" Suara Rafi muncul lebih dulu, riang dan tergesa. "Selamat ulang tahun! Mama lagi masak, katanya mau ngomong, sebentar ya, Bapak juga..."
"Waalaikumsalam, Dek. Terima kasih."
"Teteh udah dikasih apa sama Mas Indra? Pasti mobil."
"Kalung."
"Kalung doang?" Rafi tertawa. "Pelit juga ya. Tapi bagus kan?"
"Bagus. Ada huruf A-nya."
"Kartunya apa tulisannya?"
Aku menelan ludah. Rafi mahasiswa, tetapi telinganya tajam untuk soal-soal yang tidak diucapkan. "Dia lupa kartunya, Dek. Namanya juga laki-laki."
Sunyi sebentar di seberang sana. Lalu suara Mama, ibuku, yang pendiam dan tidak pernah memulai kalimat panjang: "Teh, sehat?"
"Sehat, Ma."
"Makan teratur?"
"Teratur, Ma."
"Sawah sudah mulai hijau, kata Bapak." Itu cara Mama bicara. Ia tidak pernah bertanya langsung. Ia menyampaikan kabar tentang tanaman dan berharap aku mendengar maksudnya. "Bapak titip salam buat Indra. Kapan-kapan bawa Indra ke sini, ya. Mama bikinkan lodeh."
"Nanti, Ma. Nanti Aisyah bilang ke Mas."
"Teh." Suara berat Bapak muncul mengambil alih telepon, pelan dan sedikit batuk. "Ulang tahun itu waktunya pulang ke diri sendiri. Sudah makan, Teh?"
"Sudah, Pak."
"Sok, salat sunahnya jangan ditinggal, atuh. Kalau lagi berat, bawa ke sajadah, bukan ke bantal."
Dadaku sesak seketika oleh kalimat sederhana itu. "Iya, Pak."
"Teh." Rafi merebut telepon lagi. Suaranya mendadak rendah. "Teteh nggak lagi bohong sama Rafi, kan?"
"Rafi..."
"Kalau ada apa-apa, bilang. Rafi nggak akan lapor Bapak."
Kerudungku ikut bergerak karena angin. Aku memandang pagar belakang yang dicat putih, rumput yang lupa dipangkas, pot kosong yang belum sempat kuisi. "Tidak ada apa-apa, Dek. Teteh cuma capek."
Rafi tidak percaya. Aku tahu dari napasnya. Tetapi ia anak yang sayang, dan ia membiarkanku mengakhiri telepon dengan "assalamualaikum" yang terlalu cepat.
***
Aku ingin berterima kasih pada Mas Indra, dan aku tidak mau menunggu sampai malam, karena malam bersama mama berarti berterima kasih dengan bisik-bisik. Aku naik taksi ke kantornya pukul tiga lewat sedikit, membawa kotak bekal kecil berisi kue sus yang kuisi krim dengan tanganku sendiri sepanjang pagi.
Sekretaris Mas Indra, perempuan berkerudung krem yang kukenal dari kunjungan bekal empat puluh menit itu, berdiri begitu aku muncul di pintu.
"Bu Aisyah! Selamat siang, Bu."
"Siang, Mba. Mas Indra ada?"
"Wah, Bu." Wajahnya berubah cemas. "Pak Indra baru berangkat sepuluh menit lalu. Janji dokter."
Kue sus di tanganku mendadak berat.
"Janji dokter?" ulangku. Suaraku terdengar tenang. Aku heran bagaimana suaraku bisa setenang itu.
Sekretaris itu menatapku. Ia perempuan baik, itu terlihat. Dan karena ia perempuan baik, ia mengira seorang istri pasti tahu ke mana suaminya pergi sore-sore sambil membawa map. "Jadwalnya jam empat, Bu. Klinik di Jalan Kenanga, nomor sebelas, di dekat apotek lama. Pak Indra tidak mau memakai sopir kalau ke sana..."
Ia berhenti. Aku sempat bertanya, dengan suara yang kujaga agar tidak bergetar, "Sejak kapan jadwal itu dikosongkan, Mba?" dan jawabannya keluar sebelum ia sempat menahan: "Sudah sejak sebelum cuti, Bu. Pak Indra minta jadwal sore selalu dikosongkan." Lalu wajahnya memucat sedikit demi sedikit, seperti kain putih yang dicelup di air keruh. Di meja di belakangnya, foto pernikahan kami masih berdiri di tempat yang sama, dua orang yang tersenyum pada sesuatu yang belum terjadi.
"Maaf, Bu. Saya kira Ibu sudah..."
"Tidak apa-apa," kataku. "Terima kasih, Mba. Tolong jangan bilang Mas Indra saya datang."
Aku meletakkan kotak kue di mejanya. "Ini buat Mba saja, bukan titipan untuk Mas Indra." Dan di lift aku mengulang alamat itu tiga kali dalam hati agar tidak lupa: Jalan Kenanga, nomor sebelas, dekat apotek lama.