"Jalan Kenanga nomor sebelas, Pak. Tapi jangan berhenti persis di depannya. Di seberang saja."
Sopir taksi itu melirikku lewat kaca spion. Ia laki-laki berumur, berpeci hitam, dengan tasbih kayu yang menggantung di kaca depan dan bergoyang tiap kali mobil melewati lubang. Ia tidak bertanya apa-apa, dan aku bersyukur untuk itu sampai tiga menit kemudian.
"Ibu mau ketemu suami?"
"Bukan. Eh, iya. Saya cuma mau memastikan dia selamat sampai."
Kalimat itu terdengar lebih bodoh di udara daripada di kepalaku, tetapi sopir itu mengangguk seolah itulah alasan paling masuk akal di dunia. "Kalau begitu Bapak tunggu, Bu. Meterannya Bapak matikan kalau cuma parkir."
"Jangan dimatikan, Pak. Nanti saya tambah."
Aku tidak sedang membuntuti. Aku mengulang kata itu sepanjang jalan seperti dzikir yang dipaksakan. Aku tidak tahu ke mana Mas Indra pergi selama berpekan-pekan, tetapi aku tahu aku tidak ingin tahu dengan cara menyelinap. Aku hanya khawatir. Seorang istri boleh khawatir. Seorang istri yang melihat suaminya pucat dan mengetuk lutut dengan jari seperti menghitung dosa boleh berdiri di seberang jalan dan memastikan ia masuk ke tempat yang tidak membahayakannya.
Klinik itu bangunan dua lantai bercat krem, diapit apotek tua yang papan namanya sudah pudar. Di kaca depannya tertulis KLINIK KESEHATAN PRIA DAN KELUARGA, dengan daftar jam praktik yang ditempel miring. Tidak ada yang menakutkan. Itu justru yang paling menyakitkan: tempat itu begitu biasa.
Pukul empat kurang sepuluh, mobil Mas Indra muncul dari ujung jalan.
Aku merunduk di jok, padahal kaca taksi gelap. Mobilnya merapat ke trotoar di depan apotek, dan lampu mundurnya mati. Ia tidak turun.
"Itu suami Ibu?" bisik sopir, seperti takut didengar dari seberang jalan.
"Iya, Pak."
Satu menit. Tiga. Lima. Aku bisa melihat siluetnya di balik kaca depan: bahu yang tegak lalu perlahan merosot, kedua tangan di atas kemudi, kepala yang akhirnya menunduk dan bersandar di antara kedua tangan itu. Ia duduk begitu lama sampai tasbih sopir berhenti bergoyang.
Setelah itu pintu mobil terbuka. Mas Indra turun membawa map cokelat, merapikan jas yang tidak perlu dirapikan, lalu menyeberang dan masuk ke klinik dengan langkah yang tegas. Langkah seorang laki-laki yang sudah memaksa dirinya sendiri.
Aku mengusap pipi. Entah sejak kapan basah.
"Sabar, Bu," kata sopir pelan. "Saya dulu juga begitu, waktu istri saya sakit. Lebih berat menunggu di luar daripada ada di dalam."
"Bapak tahu dari mana saya menunggu?"
"Dari cara Ibu duduk. Orang yang cuma lewat tidak duduk secapek itu."
Aku tertawa kecil di antara napas yang gemetar.
"Bapak nunggu di sini berapa lama pun tidak apa-apa, Bu," katanya lagi. "Yang penting Ibu tidak sendirian di tempat yang bukan tempat Ibu."
"Terima kasih, Pak."
"Bapak cuma sopir taksi, Bu. Ibu duduk saja dulu."
Lalu kami menunggu.
***
Azan Maghrib datang dari masjid di ujung jalan ketika pintu klinik terbuka lagi. Sudah lebih dari satu jam. Aku sempat tertidur setengah, dan terbangun oleh suara itu dengan perasaan seperti jatuh.
Mas Indra keluar membawa kantong plastik putih dari apotek sebelah, kantong kecil yang kelihatan ringan dan karenanya terasa jauh lebih berat. Ia tidak membawa map lagi. Ia berjalan ke mobilnya seperti orang yang baru saja ditolak keras oleh sesuatu yang tidak bisa ia lawan dan baru belajar bahwa ia masih harus berdiri.
Ia masuk ke mobil. Pintu menutup. Lampu dalam menyala sebentar lalu mati.
Ia tidak menyalakan mesin.
Aku melihat kantong plastik itu diletakkan di kursi sebelah, sangat hati-hati, seperti benda yang bisa pecah. Lalu dahinya turun ke setir. Kali ini bahunya bergoyang, pelan, teratur, dan aku tahu tanpa suara bahwa ia menangis.
Tangan kananku sudah memegang gagang pintu taksi. Aku tidak ingat kapan memegangnya.
"Bu?" Sopir menoleh. "Mau turun?"
Aku bisa menyeberang. Aku bisa mengetuk kaca dan berkata, aku di sini, Mas, tidak apa-apa, apa pun itu, kita hadapi bersama. Dalam bayanganku, ia akan mengangkat wajah, dan aku akan melihat Mas Indra yang kukenal pada hari akad.
Tetapi aku juga ingat secarik surat di lipatan sajadah. Di situ aku sendiri yang menulis bahwa aku tidak menuntut jawaban malam itu, dan aku sendiri yang menjanjikannya. Kalau aku turun sekarang, aku mencuri jawaban yang ia belum sanggup berikan. Ia akan tahu aku mengikutinya. Dan laki-laki yang menangis dengan dahi di setir mobil itu mungkin tidak akan memaafkan siapa pun yang melihatnya.
"Aku tahu, Mas," bisikku. Hanya dua detik setelah kalimat itu keluar, aku sadar aku mengucapkannya nyaris tanpa suara. "Aku tahu. Aku di sini."
Tanganku turun dari gagang pintu.
"Tidak jadi, Pak. Tolong antar saya pulang, lewat jalan yang lain."
"Siap, Bu." Ia menyalakan mesin, dan sebelum mobil bergerak ia menambahkan tanpa menoleh, "Nanti kalau Bapak ditanya, Bapak tidak lihat apa-apa. Bapak cuma antar penumpang dari Jalan Kenanga."
"Saya akan tambah ongkosnya."
"Tidak usah. Doakan saja istri Bapak terus sehat."
***
Aku sampai lebih dulu.
Bibi yang membukakan pagar, dan ia langsung mengerutkan dahi begitu melihat wajahku di bawah lampu teras. "Mba pucat sekali."
"Dari kantor Mas Indra, Bi. Agak pusing."
"Ibu sedang nonton sinetron di ruang tengah. Mba langsung naik saja, nanti Bibi bilang Mba istirahat."
"Aisyah?" Suara mama memanggil dari dalam, tanpa menoleh dari layar televisi. "Dari mana?"
"Dari kantor Mas, Ma. Aisyah bawa kue."
"Hm. Kue lagi." Hanya itu. Mama kembali pada sinetronnya, dan aku naik tangga dengan kaki yang terasa seperti dua batang kayu basah.
Aku tidak naik ke kamar utama. Kakiku membawaku ke pintu di ujung lorong atas, pintu yang kini selalu tertutup. Kamar kosong yang oleh mama disebut kamar cucu. Aku mendorongnya, dan lampu jalan dari jendela menyorot ranjang bayi dari kayu muda yang dipasang mama pada hari kami pulang dari Tanah Suci.
Aku duduk di lantai di sampingnya, menyandarkan kepala ke kayu yang masih berbau pernis.
"Ya Allah," kataku ke langit-langit yang gelap. "Aku tidak minta anak lebih dulu. Aku cuma minta suamiku pulang."
Aku menangis, tetapi bukan dengan cara yang membuat bahu terguncang seperti yang kulihat di mobil tadi. Air mataku mengalir seperti air dari keran yang tidak dimatikan. Aku sudah tahu, sekarang. Bukan dari isi amplop, yang tidak pernah kubaca. Aku tahu dari bahu seorang laki-laki di dalam mobil, dari kantong plastik putih yang diletakkan seperti bayi, dari seluruh bulan-bulan yang tiba-tiba punya makna.
Bukan cuma takut kehilangan. Ada yang lebih berat di bawahnya: Mas Indra merasa gagal.
Dari bawah terdengar mobil masuk pagar. Pintu ruang kerja terbuka dan menutup. Klik. Aku menunggu sampai bunyi kursi bergeser, sampai semuanya sunyi, lalu merogoh saku dan mengeluarkan ponsel.
Nomor itu ada di sana, tersimpan sejak malam Radit makan di meja kami: Mas Radit (teman Mas Indra). Jempolku gemetar di atasnya.
Aku tidak punya siapa-siapa lagi di rumah ini yang boleh kupanggil dan yang tidak akan melapor ke mama. Hanya satu orang yang pernah hampir mengucapkan kalimat "sejak..." dan berhenti.
Aku menekan tombol hijau.