Radit mengangkat pada dering keempat, suaranya serak dan agak berisik oleh bunyi televisi yang buru-buru ia matikan. Aku sudah menyiapkan kalimat pembuka sepanjang tiga menit, dan semuanya hilang begitu ia menyebut namaku.
"Halo? Aisyah?"
"Mas Radit, maaf menelepon malam-malam. Aisyah gak tahu harus..."
"Hei, hei, pelan-pelan." Ia terdengar duduk. "Tarik napas dulu. Indra baik-baik saja?"
"Dia sehat, Mas. Tapi..." Aku menutup mulut dengan punggung tangan supaya isakku tidak terdengar sampai kamar tamu di lantai bawah. "Tadi sore Aisyah melihat Mas Indra di klinik. Aisyah tidak masuk, tidak bertanya, tidak membaca apa pun. Aisyah cuma melihat dia keluar dengan kantong obat dan menangis sendirian di mobil."
Sunyi di seberang. Lama sekali. Aku sampai memeriksa layar untuk memastikan sambungannya tidak putus.
"Kamu tahu aku gak bisa cerita isinya," kata Radit akhirnya, pelan. "Itu bukan hakku."
"Aisyah gak minta isinya, Mas. Aisyah cuma minta Mas Radit jangan membiarkan Mas Indra sendirian."
"Aisyah." Ia menarik napas panjang. "Aku lagi di Jakarta sampai hari Senin. Selasa aku ke Bandung, ada rapat dengan klien. Bisa kita ketemu Selasa itu? Bukan di rumahmu. Aku gak mau ada yang dengar."
"Bisa."
"Dan Indra jangan sampai tahu kamu menelepon."
"Aisyah udah kebanyakan nyimpen rahasia di rumah ini, Mas." Aku nyaris tertawa. "Satu lagi gak bakal bikin beban makin berat."
Radit tidak tertawa. "Itu yang kutakutkan," katanya. "Kamu terdengar seperti orang yang sudah lama sendirian membawa barang berat."
"Aisyah tidak sendirian. Ada Bibi."
"Bibi digaji mama mertuamu, Aisyah. Jangan taruh beban di pundak orang yang takut kehilangan pekerjaannya." Ia berdeham, mungkin menyesal sudah mengucapkannya. "Sudah, tidur. Selasa kita bicara."
***
Selasa pagi aku sudah rapi sebelum Mas Indra berangkat, dan ia tidak menanyakan apa-apa. Ia hanya mengambil tasnya, mengecup udara di dekat keningku seperti orang yang lupa bagaimana caranya, dan pergi.
Aku baru melangkah ke ambang pintu depan ketika suara dari ruang tengah menahan langkahku.
"Mau ke mana?"
Mama duduk di kursi rotan dekat jendela dengan koran lipatan di pangkuannya, padahal setahuku sejak pindah ke sini ia tidak pernah membaca koran. Matanya naik dari kerudungku ke tas tanganku, lalu berhenti di kalung tipis yang kupakai sejak hari ulang tahun.
"Belanja, Ma."
"Belanja apa? Bibi yang belanja ke pasar tiap pagi."
"Aisyah mau cari pot, Ma. Untuk halaman belakang. Potnya kosong sudah lama."
Itu bohong, dan juga setengah benar, dan aku heran betapa lancar kedua hal itu keluar dari mulut yang beberapa bulan lalu masih gagap tiap kali harus menutupi apa pun. Mama menyipitkan mata.
"Pot," ulangnya.
"Iya, Ma. Mama mau titip sesuatu?"
Ia menimbang. Aku bisa melihat pertimbangan itu bekerja di wajahnya: apakah ini layak dicurigai, atau cuma layak dimanfaatkan.
"Cabai merah satu ons. Dan jangan lama."
"Baik, Ma."
Aku keluar. Di pagar kupikir dadaku akan pecah, tetapi yang kurasakan bukan takut. Yang kurasakan adalah sesuatu yang lebih tidak enak: aku mulai terbiasa.
***
Radit sudah menunggu di sudut kafe kecil di ujung jalan besar, jauh dari rumah dan dari kantor, di meja yang membelakangi kaca. Ia berdiri begitu aku masuk. Kemejanya digulung sampai siku seperti dulu, tetapi senyumnya tidak datang sebelum kakinya melewati pintu. Hari ini ia tampak seperti orang yang kurang tidur.
"Aku pesan teh tawar buatmu," katanya. "Kalau salah, kopi di sebelah sana."
"Teh tawar gak salah, Mas."
Kami duduk. Pelayan mengantar dua cangkir, dan sampai ia pergi, Radit mengaduk gelasnya tanpa gula, tanpa tujuan.
"Aisyah, aku mau bilang sesuatu sebelum kamu bertanya apa pun." Ia mengangkat wajah. "Aku tidak akan menyebutkan isi apa pun. Kalau kamu mau tahu, itu harus keluar dari mulut Indra sendiri. Aku bersumpah itu bukan karena aku tidak percaya padamu."
"Aisyah gak akan tanya isinya." Aku memegang cangkir dengan dua tangan agar tidak gemetar. "Aisyah cuma ingin tahu satu hal. Apakah Mas Indra akan baik-baik saja?"
Radit memandangku lama.
"Kamu tahu apa yang paling dia takutkan?" tanyanya. "Bukan mamanya. Bukan hasilnya. Bukan kamu marah."
"Lalu apa?"
"Kamu pergi."
Dadaku seperti diketuk dari dalam.
"Dia takut kamu pergi, bukan takut kamu marah," ulang Radit lebih pelan. "Orang yang takut dimarahi akan bersembunyi. Orang yang takut ditinggalkan akan menjauh duluan, supaya waktu ditinggalkan rasanya tidak sesakit itu. Itu yang dia lakukan sekarang. Dia menjauhimu sebelum kamu sempat menjauhinya."
"Tapi Aisyah gak ke mana-mana."
"Dia tidak tahu itu." Radit tersenyum getir. "Atau dia tahu, tapi tidak berani percaya. Itu bukan salahmu. Itu luka lama."
Luka lama. Aku menyimpan dua kata itu seperti menyimpan kunci tanpa tahu pintunya. Aku ingin bertanya luka apa, sejak kapan, siapa yang melukai. Tetapi kalimatnya yang terputus di dapur malam itu sudah mengajariku bahwa setiap pertanyaan di meja ini hanya akan membuat Radit semakin rapat.
"Dua belas hari lalu Mama bilang waktu Aisyah tinggal kurang dari tujuh bulan," kataku, sebelum keberanian itu hilang. "Kalau belum ada cucu, Mama akan mengatur yang lain untuk Mas Indra. Mama bertanya Mas Indra sudah periksa atau takut jawabannya. Dan Mas Indra cuma bilang Mama tidak tahu apa-apa, lalu pergi."
Radit memejamkan mata sebentar. "Dia tidak membantah?"
"Tidak sepatah pun."
"Itu yang membuatku khawatir." Ia membuka mata lagi, dan sorotnya jauh lebih tua dari umurnya. "Kalau dia marah, aku tenang. Marah artinya masih ada yang ia perjuangkan. Diam artinya ia sedang menimbang berapa lama lagi bisa bertahan."
"Mas," kataku. "Aisyah gak tahu harus berbuat apa. Kalau Aisyah mendesak, dia makin menutup. Kalau Aisyah diam, dia makin jauh."
"Jangan mendesak, jangan juga diam." Radit menaruh sendoknya. "Bukalah pintu dari luar, tapi biarkan dia yang melangkah masuk."
"Caranya?"
"Biar aku yang lakukan bagianku." Ia mencondongkan badan. "Hari Sabtu aku ajak dia keluar. Seharian. Alasannya kerjaan, proyek lemari yang butuh ditinjau, apa saja. Dia gak bakal nolak kalau aku yang ngajak. Aku akan buat dia bicara. Tidak semua, tidak sekaligus. Tapi cukup supaya dia pulang tidak membawa beban yang sama."
Mataku panas. "Mas Radit mau melakukan itu?"
"Dia saudaraku." Suaranya mantap. "Waktu kuliah dia yang menemaniku semalam suntuk di rumah sakit waktu ayahku masuk ICU, tanpa disuruh, tanpa bertanya apa-apa. Aku tidak pernah membalas itu. Jadi biarkan aku membalasnya sekarang. Dan kamu istrinya. Kalian berdua layak lebih baik dari ini."
"Terima kasih."
"Jangan terima kasih dulu. Aku sudah bilang, aku belum melakukan apa-apa." Radit tersenyum, dan kali ini senyum itu hampir menyentuh matanya. "Satu syarat, Aisyah. Sabtu malam, waktu dia pulang, jangan tanya apa pun. Biarkan dia yang buka mulut."
"Aisyah udah nunggu berbulan-bulan, Mas. Satu malam lagi bisa."
"Bagus." Ia meraih cangkirnya, lalu menaruhnya lagi. "Sabtu. Aku bawa dia."