Klakson mobil Radit berbunyi dua kali pendek pukul delapan pagi, tepat seperti yang ia janjikan lewat pesan singkat semalam.
Mas Indra sedang berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang belum diminum, dan mendengar klakson itu ia menoleh ke jendela dengan alis berkerut. "Itu Radit? Dia bilang apa ke kamu, dek?"
"Adek tidak tahu apa-apa, Mas." Itu bohong. Aku mengaduk bubur di panci dengan sendok kayu, tidak menoleh, supaya wajahku tidak menceritakan apa yang mulutku sembunyikan. "Dia kan temannya Mas."
Radit sudah masuk lewat pagar tanpa menunggu dipersilakan, melepas sandal di teras dengan tangan di dahi seperti sedang memberi hormat. "Pagi, Tante! Pagi, Aisyah! Maaf, aku culik Indra seharian."
Mama muncul dari kamar tamu dengan kerudung sudah rapi, wajahnya sopan dan dingin seperti pada kunjungan pertama Radit. "Hari Sabtu Indra libur, Nak Radit."
"Justru itu, Tante. Proyek lemari di Cimahi harus ditinjau hari ini, dan cuma Indra yang paham ukurannya." Radit tersenyum lebar, seolah sudah menghafalnya dari semalam, dan memang begitu. "Sore kuantar pulang. Janji."
"Dit, hari ini Mas sebenarnya..." Mas Indra menaruh cangkirnya.
"Kamu ikut. Ini bukan tawar-menawar." Radit menepuk bahunya, tidak keras, tetapi dengan ketegasan seseorang yang sudah menunggu lama untuk melakukannya. "Aku sudah bawa jaket. Cuacanya bagus."
Mas Indra menoleh padaku. Mataku bertemu matanya dan, entah dari mana, aku menemukan suara yang cukup tenang.
"Pergilah, Mas."
Ia menatapku sebentar, seperti hendak menanyakan sesuatu, lalu menunduk, mengambil jaket dari gantungan, dan mengikuti Radit keluar. Sebelum pintu pagar menutup, Radit menoleh sekali ke arahku dan mengangguk kecil. Tetapi aku merasa seperti seseorang yang baru saja melepas anak panah dan sekarang hanya bisa berdoa.
"Pengaruh buruk," gumam mama dari belakangku. Ia mengaduk teh dengan gerak lamban. "Anak itu sejak dulu pengaruh buruk."
"Mas Radit baik, Ma."
"Orang baik tidak menculik suami orang di hari libur."
Aku tidak membalas. Hari itu aku sudah memutuskan tidak membalas apa pun.
***
Menunggu adalah pekerjaan paling berat yang pernah kulakukan sambil mengepel lantai.
Aku mengepel ruang tamu dua kali, lalu menyerah dan pergi ke toko tanaman di ujung jalan besar, karena cuma itu alasan yang kupunya. Aku pulang membawa dua pot tanah liat dan sekantong tanah subur. Cabai satu ons yang kujanjikan hari Selasa sudah lebih dulu sampai di meja dapur berkat Bibi, dan mama menerimanya tanpa terima kasih.
Ia menunggu di ruang tamu, kacamata baca di ujung hidung dan koran lipatan yang sama sekali tidak ia buka.
"Jadi benar kamu beli pot."
"Benar, Ma. Dua, ukuran sedang."
"Radit itu biasanya membawa Indra ke mana?" Ia tidak menoleh. "Proyek lemari di Cimahi. Papa tidak pernah cerita ada proyek di sana."
"Mungkin proyek baru, Ma. Aisyah tidak tahu."
"Mungkin." Ia membalik satu halaman koran yang tidak ia baca. "Nanti malam Mama tanya langsung ke Indra."
Dari lorong, Bibi menatapku sekali dengan mata yang melebar, lalu pura-pura sibuk dengan keranjang jemuran.
Di halaman belakang aku mengisi pot dengan tanah, jongkok sampai ujung gamisku kotor. Tanganku bekerja sendiri dan kepalaku berada di tempat lain: di sebuah rumah makan, di sebuah bukit, di sebuah kursi di mana dua laki-laki duduk berhadapan dan salah satunya sedang belajar membuka mulut. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya terus memadatkan tanah dan berdoa tanpa kata.
***
Jam dinding di bawah berdentang sepuluh kali ketika aku mendengar mobil masuk pagar.
Aku sudah di kamar sejak pukul sembilan, bersandar di kepala ranjang dengan buku yang halamannya tidak pernah kubalik. Aku mendengar pintu depan, langkah di lorong, suara Bibi berbisik, suara mama dari kamar tamu yang bertanya sesuatu dan dijawab satu kalimat pendek. Lalu langkah itu menaiki tangga. Berat dan pelan, seperti orang yang menghitung anak tangga.
Pintu kamar utama terbuka.
Mas Indra berdiri di ambang. Rambutnya acak, jaketnya tersampir di lengan, dan matanya merah. Bukan merah orang menangis sebentar. Merah orang yang sudah menangis, berhenti, menangis lagi, dan akhirnya terlalu lelah untuk mencoba menyembunyikannya.
Aku tidak bertanya. Aku sudah berjanji pada Radit, dan lebih dari itu, pada diriku sendiri.
"Boleh Mas duduk?" Suaranya parau.
"Itu ranjang Mas juga."
Ia melangkah masuk, menaruh jaket di kursi, lalu duduk di tepi ranjang di sisi kiri, bagian yang sudah lama tidak pernah berubah bentuk. Kasur sedikit melesak. Aku nyaris tidak bernapas. Bunyi kasur melesak itu begitu kecil, tetapi terasa seperti sesuatu yang kembali ke tempatnya.
"Mas sudah makan?" tanyaku, karena hanya itu yang kupunya.
"Radit memaksa Mas makan sate sampai hampir muntah." Sudut bibirnya naik sedikit, nyaris tersenyum, lalu jatuh lagi. "Dia bilang orang yang mau bicara jujur harus kenyang dulu. Teori yang aneh."
"Adek rasa itu teori yang benar."
Kami diam. Di luar jendela, angin menggoyang pohon jambu tetangga.
"Radit bilang Mas pengecut," katanya akhirnya, menatap lantai. "Dia benar."
"Mas bukan..."
"Dek." Ia mengangkat satu tangan, lembut, bukan memotong tetapi memohon. "Biarkan Mas selesai. Susah mengatakannya, kalau terputus Mas tidak sanggup lagi."
Aku mengangguk.
"Radit memaksa Mas berhenti berlari hari ini," katanya. "Mas belum bisa menceritakan semuanya sekarang. Mas belum siap, dan tidak adil kalau Mas ceritakan setengah-setengah lalu kamu menanggung setengahnya sendirian." Ia menarik napas panjang yang bergetar. "Tapi Mas mau berjanji. Sabtu depan, Mas ceritakan semuanya. Berdua. Tanpa Mama, tanpa siapa pun. Janji."
"Sabtu depan?"
"Sabtu depan." Ia akhirnya menoleh. Mata merahnya menatap mataku lurus, dan tidak ada tembok di antara kami malam itu, hanya seorang laki-laki yang ketakutan. "Mas takut, dek. Tapi Mas lebih takut kalau tidak mengatakannya."
Tanganku bergerak sebelum aku sempat memutuskannya, lalu berhenti di udara.
"Boleh?" bisikku.
Ia menatap tanganku, lalu mengangguk. Aku menggenggam jemarinya. Dingin sekali, dan gemetar, dan aku menggenggamnya lebih erat sampai gemetar itu pelan-pelan reda.
Beberapa menit kemudian ia berdiri. "Mas masih mau di ruang kerja malam ini. Belum bisa tidur di sini. Maaf."
"Tidak apa-apa, Mas. Sabtu depan."
"Sabtu depan."
Aku mengantarnya sampai ujung tangga. Lampu ruang tengah menyala redup di bawah, dan ketika ia menuruni anak tangga pertama, mataku tanpa sengaja menjangkau dasar tangga. Di sana, di bayangan dinding, ada ujung sandal rumah berwarna merah tua bersulam. Aku mengenalnya. Sandal itu muncul sepersekian detik lalu menarik diri ke arah dapur.
Mama pasti mau ambil air minum, pikirku. Mama hanya lewat.
Aku kembali ke kamar dan berbaring dengan telapak tangan yang masih hangat, dan untuk sekali itu tidurku datang bersama harapan. Satu hal saja yang sempat kusadari sebelum mataku menutup: dari arah dapur tidak pernah terdengar air mengalir.