"Teh! Teteh di mana? Teteh udah tahu belum?"
Suara Rafi pecah di telepon pukul sembilan lewat sepuluh pagi, di sela napasnya yang memburu seperti habis berlari. Aku sedang menjemur handuk di halaman belakang, dengan dua pot berisi tanah kosong di dekat kakiku dan hati yang masih hangat oleh janji Sabtu depan.
Empat hari terakhir itu terasa lebih ringan. Mas Indra masih tidur di ruang kerja, tetapi ia pulang lebih awal, dan tadi malam, di dapur, ia menyerahkan cangkir kosongnya ke tanganku.
"Terima kasih, dek." Ia menatapku ketika mengatakannya, bukan menatap cangkir. "Tehnya pas."
"Adek tambah gulanya sedikit."
"Pantas." Sudut matanya mengerut. "Besok lagi ya."
Hanya itu, dan itu lebih banyak daripada yang kuterima dalam berpekan-pekan. Mama, yang lewat di lorong, tidak berkata apa-apa. Aku bahkan sempat berpikir mama sedang kalah sabar pada dirinya sendiri.
Pagi tadi aku baru sadar mama dan Bibi tidak ada di rumah. Meja makan kosong, kamar tamu rapi, dan sopir mama yang biasa menunggu di teras pun tidak kelihatan. Kuduga mereka pergi subuh-subuh ke rumah saudara jauh, atau ke dokter, atau ke mana pun yang tidak mau mama ceritakan.
"Rafi, tenang. Ada apa?"
"Mama mertua Teteh di sini, di rumah! Pakai mobil hitam, bawa sopir sama Bibi, turun di depan pagar tanpa kabar apa-apa. Katanya mau silaturahmi." Suaranya naik. "Tapi mukanya, Teh, Rafi nggak suka. Bapak lagi duduk di teras sama dia, Mama di dapur bikin teh tapi tangannya gemetar. Teh, Teteh ke sini sekarang."
"Rafi, jangan sampai kamu..."
"Rafi nggak ngapa-ngapain. Rafi di kamar, ngintip dari jendela." Napasnya ditahan. "Tapi kalau dia ngomong yang aneh-aneh ke Bapak, Rafi nggak janji."
"Rafi. Dengarkan Teteh. Apa pun yang terjadi, kamu jangan bicara keras. Bapak yang pegang. Bapak tahu caranya."
"Iya, iya." Suaranya mengecil. "Tapi cepat, Teh."
Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di dalam rumah, mengambil tas, memasukkan dompet dan kerudung cadangan. Telepon pertama ke Mas Indra tidak diangkat. Bunyi tut panjang, lalu mati. Ia pasti sedang rapat. Telepon kedua tidak diangkat juga. Aku mengetik pesan dengan jempol yang tidak mau diam: Mas, Mama ke rumah Bapak. Aisyah susul. Jangan khawatir. Lalu kuhapus kalimat terakhir karena itu bohong.
***
Travel dari Bandung menuju kampung berangkat pukul sepuluh lewat dan memakan hampir empat jam, termasuk dua kali berhenti untuk menaikkan penumpang yang membawa kardus. Aku duduk di jok belakang, di dekat jendela, dan memeluk tas di pangkuan seperti orang yang takut tasnya dirampas.
"Neng mau pulang kampung?" tanya ibu di sebelahku, yang membawa sekarung jeruk dan seekor anak ayam di dalam kardus berlubang.
"Iya, Bu. Ada urusan keluarga."
"Pasti urusan penting. Wajah Neng pucat begitu." Ia mengulurkan sebutir jeruk tanpa menunggu jawabanku. "Makan, Neng."
Aku tertawa pendek, hampir menangis, dan menerima jeruk itu.
Selama perjalanan itu aku mencoba menebak. Mungkin mama hanya ingin berbasa-basi. Mungkin ia sedang berusaha, dengan caranya yang kaku, berdamai. Tetapi aku sudah terlalu lama hidup di bawah atap yang sama dengan mama untuk percaya pada pikiran yang seindah itu. Mama tidak pernah melakukan apa pun tanpa alasan, dan alasan yang terlintas di kepalaku semuanya membuat leherku dingin.
Kenapa sekarang? Kenapa tanpa Indra? Kenapa tepat empat hari setelah ujung sandal merah tua itu menghilang di dasar tangga?
Aku menggeleng pada pantulan wajahku di kaca jendela. Jangan menuduh tanpa bukti, kata Mas Indra dulu. Tetapi bukti pun tidak selalu datang sebelum luka.
Aku turun di mulut gang pada pukul dua kurang. Dari situ ke rumah Bapak masih sepuluh menit berjalan kaki, melewati warung, melewati pohon asem tua, melewati halaman-halaman tetangga yang kukenal sejak kecil. Beberapa orang menyapaku. "Teh Aisyah! Pulang?" Aku menjawab sekenanya dan mempercepat langkah.
Pemilik warung di ujung gang menyetopku dengan lambaian tangan yang tidak bisa ditolak. "Teh, itu mobil siapa di rumah Bapak? Dari tadi pagi nongkrong di situ. Ibu-ibunya turun dengan wajah kayak mau menagih utang."
"Mertua Aisyah, Bu."
"Oh." Ia menutup mulut dengan telapak tangan. "Aduh. Maaf, Teh. Ibu pikir..."
"Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih." Aku berlari kecil sesudahnya, bukan karena aku bisa lari, tetapi karena kalau berjalan aku akan sempat berpikir.
Mobil hitam itu terparkir di depan pagar bambu rumah Bapak, mengilap dan asing seperti kapal di tengah sawah. Sopir mama bersandar di kap sambil merokok, dan ketika melihatku ia buru-buru membuang rokoknya dan menunduk. Tidak ada senyum. Di bangku bambu dekat pohon jambu, Bibi duduk dengan kedua tangan terlipat di pangkuan dan wajah yang tidak berani menatapku.
Aku berhenti di balik tiang pagar, karena dari teras terdengar suara yang kukenal.
"Rumahnya adem ya, Pak," kata mama, sebelum kalimat yang lain. "Dapurnya masih pakai tungku kayu, ya? Wah, jarang sekarang."
"Masih, Bu. Rasanya lebih sedap," jawab Bapak.
"Sedap, ya. Tapi repot, tentu. Kasihan istri Bapak." Mama terdengar tertawa kecil, tawa yang ia pakai untuk mengusap luka sebelum menaburkan garam. Lalu nadanya berubah, sangat manis, sangat hati-hati, nada yang ia pakai di depan tamu pengajian. "Bukannya saya mau ikut campur, Pak. Hanya saja, namanya orang tua, kita berhak khawatir. Anak Bapak ini sudah berbulan-bulan menikah dengan anak saya dan belum juga isi."
Hening. Aku menahan napas.
"Siapa tahu," lanjut mama, lebih pelan, "memang tidak bisa memberi keturunan."
Kalimat itu jatuh di teras, dan tidak ada yang bergerak.
Dari celah pagar aku melihat Bapak. Ia duduk di bangku kayu panjang yang sama tempat ia dulu menunggu aku pulang sekolah, dengan sarung abu-abu dan peci hitam yang agak miring. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada otot yang bergerak. Hanya tangannya yang bertumpu di lutut tampak mengeras.
Di kejauhan ibuku berdiri di ambang pintu dapur dengan nampan berisi cangkir, dan nampan itu bergetar halus. Di jendela, Rafi mengepalkan kedua tangan, rahangnya mengeras.
"Anak kami, kami titipkan, Bu," kata Bapak. Suaranya tenang. Pelan sekali, seperti orang yang sedang membaca doa. "Kalau tidak cocok, kami ambil kembali dengan baik, seperti kami menyerahkannya."
Mama mertuaku tersenyum tipis. Ia mengangkat cangkir, menyeruput tehnya, dan sebelum ia sempat menaruhnya kembali, matanya bergeser ke arah pagar dan menemukanku di balik tiang bambu.
"Kebetulan sekali," katanya, dengan suara yang mendadak jernih dan riang. "Ayo pulang, Aisyah. Sekarang."