Aku melangkah melewati pagar bambu itu dengan kaki yang terasa bukan milikku.
Rafi sudah berdiri di ambang pintu ruang tengah, wajahnya merah sampai ke telinga dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Aku menatapnya sekali, tajam, dan ia menggertakkan gigi, tetapi tidak maju. Ia anak yang keras kepala, tetapi ia selalu menurut bila aku menatapnya seperti itu sejak ia masih belajar berjalan.
"Teh, jangan ikut," desis Rafi saat aku lewat di sampingnya, nyaris tanpa gerak bibir. "Rafi yang bilang ke Bapak, Teteh tinggal di sini saja."
"Teteh harus pulang, Dek."
"Kenapa? Dia ngomong gitu ke Bapak, Teh!"
"Karena kalau Teteh tidak pulang, Mas Indra tidak punya alasan untuk datang." Itu kalimat yang baru kutemukan saat mengucapkannya, dan aku tahu itu benar. "Jaga Mama. Jangan bicara apa-apa."
Rafi menggigit bibir. Ia mengangguk, sekali, seperti orang yang menelan batu.
Aku naik ke teras, mencium tangan Bapak dulu. Telapak tangan itu kapalan dan hangat, dan jarinya menekan punggung tanganku sebentar, hampir tak terasa. Hanya itu isyarat yang Bapak berikan.
"Aisyah pulang, Ma," kataku, menghadap mama mertuaku. Suaraku datar, dan itu mengejutkanku sendiri. "Tapi Mama tidak boleh bicara begini pada orang tua Aisyah lagi. Tidak di rumah ini, tidak di mana pun."
Senyum mama membeku setengah jalan. Ia tidak menyangka aku akan berbicara di depan Bapak. Mungkin ia tidak pernah menyangka aku punya suara yang bisa dipakai di depan orang yang kucintai.
"Teteh," kata Bapak pelan. Hanya itu.
Ibuku melangkah keluar dari ambang dapur. Ia meletakkan nampan di bangku dan menggenggam tanganku dengan kedua tangannya yang selalu berbau minyak kelapa. Ia tidak berkata apa-apa. Ibuku memang tidak pernah berkata apa-apa. Tetapi genggamannya begitu erat sampai jariku memutih, dan aku mengerti isinya sama jelas dengan pidato mana pun: pulanglah kalau harus, tetapi jangan pernah lupa jalan ke sini.
"Sok, Teh," kata Bapak akhirnya. "Hati-hati di jalan. Pintu rumah ini tidak pernah dikunci."
Kalimat itu ditujukan padaku. Tetapi mataku menangkap mama mertuaku sedikit tersentak, seolah ia baru menyadari betapa besar beda antara pintu yang dikunci dan pintu yang dibiarkan terbuka.
***
Mobil hitam itu meluncur di jalan berbatu dengan suara pelan, dan untuk beberapa lama tidak ada yang bicara.
Aku duduk di jok belakang di sisi jendela kanan. Mama duduk di sisi kiri, menatap sawah yang lewat dengan wajah orang yang sedang menghitung sesuatu. Bibi di kursi depan di samping sopir, bahunya kaku, tidak sekali pun menoleh. Radio dimatikan. Hanya mesin dan sesekali suara kerikil yang terlindas ban.
"Lihat rumah orang tuamu," kata mama akhirnya. Nadanya tidak kasar. Itu yang paling mengerikan. "Lantai tanah di dapur, atap seng yang bocor kalau hujan. Mama tidak berkata itu untuk menghina, Aisyah. Mama berkata supaya kamu sadar dari mana kamu datang."
"Aisyah sadar, Ma. Aisyah bangga dari mana Aisyah datang."
"Bagus." Mama menoleh sedikit. "Mama tidak merestui kamu karena kamu pantas. Mama membiarkan karena Indra yang memilih. Kamu mengerti bedanya?"
Aku mengerti. Pelan-pelan, seperti mengerti angka di hitungan yang tidak ingin kupahami. Pantas atau tidak pantas, tidak ada hubungannya. Yang ada hanya Indra, dan mama yang sedang menunggu hari ketika Indra berhenti memilihku.
"Aisyah mengerti, Ma."
Mama kembali menatap sawah. "Bagus." Beberapa menit kemudian ia menambahkan tanpa menoleh, "Kamu sudah telepon Indra?"
"Sudah, Ma. Tidak diangkat."
"Bagus. Dia sibuk. Tidak perlu diganggu urusan perempuan."
Aku memandang bayanganku sendiri di kaca jendela dan tidak mengenali perempuan yang menatap balik. Ia terlalu tenang.
Pukul empat sore mobil berhenti di SPBU kecil pinggir jalan. Sopir turun membeli rokok yang tidak jadi dihisapnya, dan di kaca spion kulihat ia melirikku lama, seperti ingin mengatakan sesuatu dan mengurungkannya. Sopir mengisi bensin, dan mama turun menuju musala di belakang bangunan, dengan tas kecil di tangan dan punggung yang lurus. Kutunggu sampai punggung itu hilang di balik pintu musala.
Bibi menoleh. Ia berbalik sepenuhnya di jok depan dengan lututnya di tempat duduk, dan wajahnya basah.
"Mba," bisiknya. Suaranya nyaris tidak terdengar. "Bibi tidak boleh bicara. Tapi kalau Bibi diam, Bibi tidak sanggup lagi melihat Mba."
"Bi..."
"Ibu dengar, Mba." Bibi menelan ludah. "Malam Sabtu itu. Waktu Den Indra bilang ke Mba, Sabtu depan akan ceritakan semuanya. Ibu di dasar tangga. Bibi lihat. Ibu pulang ke kamar tamu dan tidak bicara apa-apa, dan Bibi pikir..." Ia mengusap pipi dengan punggung tangan. "Pagi ini Ibu bangunkan Bibi jam empat. Ibu bilang, Mba Aisyah harus dibawa pulang dulu, ke kampungnya sendiri, supaya Den Indra tidak punya siapa-siapa untuk diceritai."
Aku merasa udara di dalam mobil menipis.
"Maksud Ibu begitu," Bibi menyambung, terisak tanpa suara. "Bibi tidak berani menghalangi. Bibi takut. Maafkan Bibi, Mba."
Sandal merah tua itu. Air yang tak pernah mengalir di dapur. Aku seharusnya sudah tahu, sejak malam itu. Tetapi aku lebih memilih mengira mama hanya lewat, karena mengira mama lebih jahat dari yang bisa kubayangkan terasa seperti mengkhianati harapan yang baru kutemukan.
"Bi." Kuletakkan tanganku di atas tangan Bibi yang gemetar di sandaran jok. "Bibi tidak salah. Bibi sudah bilang. Itu yang penting."
"Mba tidak marah sama Bibi?"
"Marah pun bukan pada Bibi."
Pintu musala terbuka di kejauhan. Bibi buru-buru berbalik ke depan dan menyeka wajah dengan ujung kerudung, tepat ketika mama melangkah mendekat dengan wajah segar, menaruh tas di pangkuan, dan berkata, "Jalan, Pak."
***
Kami tiba di rumah ketika langit sudah menjadi ungu dan lampu jalan baru dinyalakan satu per satu.
Mobil belum sepenuhnya berhenti ketika aku melihatnya di teras. Mas Indra berdiri di bawah lampu, masih memakai kemeja kantor dan sepatu yang belum diganti, jasnya tersampir di lengan seperti sudah berjam-jam ia menunggu tanpa tahu harus duduk atau berdiri. Wajahnya kelabu. Bukan pucat, bukan merah. Kelabu, seperti kertas yang sudah diremas dan dihaluskan lagi.
Aku turun lebih dulu. Ia menatapku, lalu menatap mobil di belakangku, lalu menatapku lagi.
"Rafi menelepon Mas," katanya, pelan. "Dua kali. Pertama waktu Mas rapat, kedua waktu Mas di lift. Dia bilang Mama ke rumah Bapak."
"Mas sudah dengar semuanya?"
"Mas hanya dengar dari Rafi, dek. Mas mau dengar dari kamu." Matanya turun ke tanganku yang masih menggenggam tali tas. "Kamu baik-baik saja?"
"Adek baik, Mas." Itu bohong, dan kami berdua tahu.
Pintu mobil di belakangku terbuka. Mama keluar dengan tas kecil di tangan, merapikan kerudung, dan memandang anaknya dari ujung kepala sampai ujung sepatu.
"Masuk," katanya. "Kita bicara. Kamu juga, Aisyah."