Mama memberi kami lima menit sebelum duduk bicara di ruang tamu, dan aku memakainya untuk salat Maghrib sendirian di kamar atas dengan sajadah yang kubentangkan di sisi ranjang, di tempat aku biasa bersujud memanggilnya pulang.
Waktunya sempit, karena mama sudah menyuruh kami berkumpul. Tetapi aku menuntut lima menit itu dari diriku sendiri. Aku berdiri menghadap kiblat dengan kaki yang masih gemetar sisa perjalanan, dan ketika sampai di sujud terakhir aku tidak tahu apa yang kuminta.
"Ya Allah," bisikku di atas sajadah. "Aku tidak minta Mama mertuaku berubah. Aku tidak minta apa-apa untuk diriku. Aku cuma minta Mas Indra diberi satu kalimat. Satu saja. Yang cukup untuk membuktikan bahwa laki-laki yang empat hari lalu duduk di tepi ranjang itu nyata."
Aku sempat membayangkan menuruni tangga, berdiri di depan kamar tamu, dan bertanya kepada mama apakah air di dapur sudah mengalir malam itu. Pertanyaan itu sudah di ujung lidahku sepanjang jalan pulang. Tetapi Bibi telah mempertaruhkan pekerjaannya untuk memberitahuku, dan kalau aku mengucapkannya sekarang, orang pertama yang akan dipecat adalah dia. Jadi kusimpan, di tempat yang sama dengan bisikan mama, dengan pesan Bu Ratih, dengan semua rahasia lain yang bukan milikku.
Dari lantai bawah terdengar suara mama. "Aisyah! Turun."
Aku menyeka mata dan turun.
***
Ruang tamu malam itu terasa lebih sempit dari biasanya. Lampu utama menyala terang, terlalu terang untuk percakapan yang pantas dilakukan dengan lampu temaram. Mas Indra duduk di sofa panjang, masih mengenakan kemeja kantor dengan lengan tergulung sampai siku, dan mama duduk di kursi tunggal yang menghadapnya seperti hakim menghadap terdakwa. Aku berdiri di dekat pintu sampai mama menunjuk sofa tunggal yang lain.
Bibi berdiri di ambang dapur dengan baki kosong di tangan, tidak berani masuk dan tidak berani pergi.
"Mama mulai dari awal," kata mama. Suaranya kembali ke nada orang yang terluka tanpa salah. "Hari ini Mama berangkat ke kampung Aisyah, membawa niat baik. Mama pikir sudah lama kita belum bersilaturahmi dengan besan. Mama bawa oleh-oleh, Mama datang dengan sopan. Dan apa yang Mama dapat?"
"Ma, Rafi bilang..."
"Rafi itu anak mahasiswa yang tidak tahu sopan santun." Mama mengangkat tangan. "Mama bicara, Ndra. Dengarkan dulu. Mama duduk di teras ayah Aisyah, minum teh yang disajikan, dan baru berkata dua kalimat, istrimu masuk dan menegur Mama di depan ayahnya, di depan adiknya, di depan tetangga. Katanya Mama tidak boleh bicara begitu lagi pada orang tuanya. Di rumah mereka sendiri. Kamu bayangkan, Ndra."
Mas Indra menoleh padaku. Matanya bertanya, dan aku menjawab dengan menatapnya lurus.
"Ma," katanya lagi, lebih pelan, "Mama ke sana tanpa bilang Indra dulu. Kenapa tidak bilang?"
"Jadi sekarang Mama harus minta izin pada anak sendiri untuk mengunjungi besan?"
"Bukan begitu. Hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
Ia tidak menjawab. Aku mengenali suara seperti itu: suara orang yang kalah sebelum pertandingan dimulai.
"Dua kalimat apa, Ma?" tanyanya akhirnya.
"Mama bertanya dengan wajar. Mama bertanya kenapa belum ada cucu."
"Mama bilang Aisyah mungkin tidak bisa memberi keturunan," kataku. Suaraku keluar lebih jernih dari yang kuduga. "Di depan Bapak. Di depan ibuku yang sedang berdiri membawa nampan."
Ruang tamu hening. Jam dinding berdetak dua kali.
Wajah Mas Indra berubah. Aku melihatnya pelan-pelan, dari bawah ke atas: otot di rahangnya mengeras, bibirnya terkatup, dan jemarinya mencengkeram lutut sampai ruas-ruasnya memutih.
"Mama bilang begitu?" suaranya serak.
"Kenapa hari ini, Ma?" Aku tidak tahu dari mana pertanyaan itu datang. "Dari sekian banyak hari, kenapa Mama memilih berangkat subuh, saat Mas Indra di kantor?"
"Mama bebas pergi ke mana pun Mama mau, Aisyah." Mama menoleh padaku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya: bukan marah, bukan benci, tetapi sesuatu yang lebih rapat dan waspada. Lalu ia kembali kepada anaknya. "Mama mengatakan yang masuk akal." Mama menyilangkan kaki, tenang sekali. "Sudah berbulan-bulan, Ndra. Siapa pun akan bertanya. Dan sekarang Mama harus dihukum karena bertanya?"
"Tidak ada yang menghukum Mama."
"Kalau begitu pilih." Mama berkata pelan, lalu menegakkan punggung. "Mama capek dengan semua ini. Capek terus ditatap seperti penjahat di rumah anak sendiri. Pilih, Ndra. Istrimu atau Mama."
Kalimat itu menggantung di tengah ruangan.
Aku tahu persis mama ingin aku bicara lebih dulu, marah, menangis, membela diri, apa pun yang bisa dipakai untuk membuktikan bahwa aku menantu yang tidak tahu diri. Maka aku menahan semuanya. Aku menarik napas, menegakkan duduk, dan menatap suamiku.
"Mas," kataku. "Adek tidak minta Mas memilih."
Mas Indra mengangkat wajah.
"Adek tahu Mama ibu Mas. Adek tidak akan pernah menyuruh Mas melepas Mama." Aku menelan ludah. Tenggorokanku sakit. "Adek cuma minta satu kalimat. Satu saja, Mas. Bahwa orang tua Aisyah tidak pantas diperlakukan begitu."
Itu saja. Kalimat yang sama yang kuminta pada Allah di atas sajadah tadi.
Mas Indra menatapku. Bibirnya terbuka. Aku melihat kata-kata berkumpul di sana, di ujung lidahnya. Tangannya yang gemetar mengepal di pangkuan. Ia menoleh ke mama.
Mama tidak berkata apa-apa. Mama hanya menatapnya. Datar dan tenang.
Ia menoleh lagi padaku.
Satu detik. Dua. Lima. Di ujung ruangan, baki di tangan Bibi bergeser dan menimbulkan bunyi logam kecil yang membuat kami bertiga tersentak.
Mas Indra menutup mulutnya.
Ia tidak berkata apa-apa. Matanya jatuh ke lantai, ke antara kedua sepatunya yang belum dilepas, dan bahunya melorot seperti seseorang yang baru saja menjatuhkan beban yang seharusnya dibawanya naik.
Aku menunggu. Aku menunggu sampai hitungan tidak berarti lagi.
Mama tersenyum. Kecil. Tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Baik," kataku.
Suaraku nyaris tidak terdengar. Aku berdiri, merapikan kerudung yang tidak perlu dirapikan, dan berjalan melewati ruang tamu menuju tangga tanpa menoleh sedikit pun. Setiap anak tangga terasa seperti bilangan yang sedang kuhitung mundur.
Di anak tangga keempat aku mendengar Bibi menarik napas tertahan di belakangku. Dari ruang tamu tidak terdengar apa pun: tidak langkah Mas Indra, tidak suara mama, hanya jam dinding yang berdetak dua kali, tiga kali. Di kamar aku menurunkan tas dari lemari paling atas dan menaruhnya di ranjang tanpa membukanya, karena aku belum tahu apakah ini kepergian atau cuma jeda.