"Mau ke mana?"
Suara itu muncul dari ambang pintu kamar, pelan dan serak, ketika aku sedang melipat gamis ketiga untuk dimasukkan ke tas kecil di atas ranjang. Jam di meja menunjukkan lewat tengah malam. Seluruh rumah sudah gelap kecuali lampu tidur di sisi kiri dan garis cahaya dari lorong.
Aku tidak menoleh. "Ke rumah Bapak."
"Dek."
"Jangan khawatir. Adek tidak bawa banyak. Cuma tiga stel, sajadah, dan kitab doa." Aku menutup resleting tas dengan gerak pelan supaya tidak berbunyi. Ketika akhirnya aku berbalik, Mas Indra sudah berdiri di tengah kamar, masih dengan kemeja dan celana yang sama sejak sore. Ia tidak mengganti pakaian, dan aku menduga ia belum duduk sama sekali sejak aku naik. Matanya kosong dan ketakutan.
"Jangan pergi," katanya.
"Tadi di ruang tamu Mas tidak bisa mengatakan satu kalimat pun," kataku.
"Mas..."
"Adek tidak marah." Aku menaruh tas di lantai, bukan karena menyerah, tetapi karena lenganku mulai bergetar. "Adek tahu ada yang Mas takut katakan. Adek tidak akan memaksa. Mas sudah berjanji Sabtu depan, dan adek percaya janji itu."
"Lalu kenapa pergi?"
Pertanyaan itu begitu jujur sampai dadaku sakit. Aku mengambil napas yang dalam.
"Karena adek tidak mau tinggal di rumah di mana adek disalahkan sendirian," kataku. Perlahan, satu-satu, supaya tidak ada yang bisa disalahpahami. "Hari ini Mama bilang adek mungkin tidak bisa memberi keturunan di depan ibu dan Bapak Aisyah, dan Mas diam. Kemarin, minggu lalu, bulan lalu, Mas juga diam. Adek bisa menanggung hinaan Mama, Mas. Adek sudah belajar. Tapi adek tidak bisa menanggung sendirian sementara orang yang paling adek cintai berdiri di seberang dan melihat saja."
"Dek, jangan..."
Ia tidak melanjutkan. Mulutnya terbuka, dan sekali lagi aku melihat itu: kata-kata yang berkumpul di sana, berbaris, siap keluar, lalu runtuh satu per satu sebelum menjadi suara. Tangannya terangkat setengah ke arahku dan jatuh kembali. Ia berdiri di sana dengan napas yang memburu.
"Mas tidak bisa," katanya akhirnya, lirih. "Mas mau, dek. Allah tahu Mas mau. Tapi setiap kali Mas buka mulut, rasanya seperti..."
"Seperti apa?"
"Seperti Mas kehilangan semuanya begitu kata itu keluar."
Aku memandangnya lama. Aku ingin menjawab bahwa semua yang ia takutkan sudah terjadi dalam bentuk lain. Ia sudah kehilangan separuh waktu kami karena diamnya. Tetapi aku juga ingat kalimat Radit: dia takut kamu pergi, bukan takut kamu marah. Dan aku sedang mengemas tas.
Aku mengambil kembali tas itu, pelan.
"Adek tidak pergi karena berhenti mencintai Mas," kataku. "Adek pergi karena adek mau Mas punya ruang untuk memilih tanpa mata Mama. Hari ini Mas tidak bisa. Barangkali di rumah ini Mas memang tidak akan pernah bisa. Barangkali Mas butuh tempat yang tidak ada hitungannya."
"Mas antar."
"Jangan. Mama akan bangun dan bertanya."
"Mas tidak peduli."
"Adek peduli." Aku tersenyum, dan senyum itu terasa seperti sesuatu yang tersangkut di tenggorokan. "Tidur, Mas. Tolong. Besok Mas masih harus ke kantor."
Ia tidak bergerak. Lalu, sangat pelan, ia melangkah mundur ke ambang pintu dan berdiri di sana, memegang kusen kayu dengan tangan yang terlihat putih di bawah lampu lorong. Ia tidak menahan jalanku. Itu keputusannya, dan aku tidak tahu apakah itu cinta atau keputusasaan. Mungkin keduanya sama bentuknya di wajah seorang laki-laki yang tidak tahu bagaimana bicara.
Setelah itu aku duduk di tepi ranjang dan tidak mengerjakan apa-apa selama hampir tiga jam. Aku tidak menangis, karena air mataku sudah habis di kamar kosong dua pekan lalu. Aku hanya memegang kalung dengan liontin A itu di leherku dan bertanya pada diri sendiri apakah aku sedang melakukan hal yang benar atau hanya hal yang paling sulit ditarik kembali. Dari bawah terdengar bunyi kursi bergeser beberapa kali, langkah yang mondar-mandir, lalu sunyi yang panjang.
Pukul tiga aku salat dua rakaat, pendek saja, dan doaku hanya satu kalimat yang kuulang sampai bibirku kering: tunjukkan jalan yang tidak membuatku berhenti mencintainya.
***
Subuh belum lagi datang ketika aku menuruni tangga dengan tas di tangan.
Rumah masih gelap. Dari bawah pintu kamar tamu tidak ada cahaya, dan dari ruang kerja pun tidak. Aku berjalan tanpa suara melewati ruang tamu yang menyimpan tempat Mas Indra tidak berkata apa-apa, melewati lorong dapur, lalu membuka kunci pintu depan dengan jari yang terlatih dari bertahun-tahun membuka pintu rumah Bapak sebelum matahari.
Bibi sudah menunggu di gerbang.
Aku tidak tahu bagaimana ia tahu. Ia berdiri di bawah lampu jalan dengan jaket tipis di atas daster, memegang bungkusan kain yang masih mengepulkan uap, dan wajahnya basah.
"Bi, kenapa bangun?"
"Bibi tidak tidur, Mba. Lampu ruang kerja Den Indra juga menyala sampai tadi, dia tidak tidur." Ia menyodorkan bungkusan itu dengan dua tangan. "Nasi sama telur dadar, sambal, kerupuk. Bibi masak jam tiga. Mba belum sarapan, dan perjalanan lama."
"Bibi tidak perlu..."
"Perlu." Suaranya pecah. "Bibi tidak bisa bantu Mba selain ini."
Aku menerima bungkusan itu dan merasakan hangatnya menembus kain sampai ke telapak tangan. Bibi merogoh saku jaketnya dan menarik secarik kertas lipat. "Ini nomor ponsel Bibi. Ponselnya Bibi simpan di bawah bantal, tidak ada yang tahu. Kalau ada apa-apa dengan Den Indra, kalau Mba perlu tahu, telepon saja. Bibi akan kabari."
"Bibi tidak takut Ibu tahu?"
"Takut." Ia tersenyum, dan itu senyum paling rapuh yang pernah kulihat di wajah perempuan yang selalu mengatakan "baik, Bu" kepada semua orang. "Tapi Bibi lebih takut tidak berbuat apa-apa."
Aku memeluknya. Sebentar saja, dengan bungkusan nasi di antara kami. Bahunya kecil dan terasa seperti anak burung.
Ketika aku melepaskannya, ojek yang kupesan sudah berhenti di ujung jalan dengan lampu menyala. "Terminal, Teh?" tanya tukang ojek, laki-laki bertopi yang tampak terbiasa mengantar orang pergi sebelum matahari.
"Iya, Mang. Pelan saja."
"Teteh mau pulang kampung, ya?" Ia menatap tasku dan wajahku lewat kaca spion kecil. "Biasanya yang bawa bekal sehangat itu bukan yang kabur, Teh. Yang kabur tidak sempat dibekali."
Aku tidak menjawab, tetapi kata-katanya menghangatkanku lebih dari bungkusan di pangkuanku. Sebelum motor itu melaju, aku menoleh ke rumah.
Jendela kamar utama di lantai atas terbuka sedikit. Tirainya bergeser. Di baliknya, di antara gelap dan cahaya tidur yang redup, kulihat siluet seseorang yang berdiri terlalu kaku untuk sedang tidur.
Aku mengangkat tangan. Aku tidak tahu apakah ia melihat.
"Kembalilah, Mas," bisikku, dan angin pagi membawanya. "Yang dulu."