Dari terminal kecil di mulut kampung aku berjalan kaki, karena tidak ada ojek yang mau menarik penumpang pada jam sebelas pagi di hari yang panas dan sepi.
Bungkusan nasi dari Bibi sudah kuhabiskan di travel, sampai butir terakhir dan sisa sambal yang kuseka dengan kerupuk. Rasa telur dadarnya masih tertinggal di lidah ketika aku melewati warung, pohon asem, dan halaman-halaman tetangga yang kemarin kulewati dengan kaki berlari. Hari ini aku berjalan pelan. Tidak ada yang menyapa. Barangkali kabar sudah menyebar lebih cepat dari travel, dan orang-orang memilih menunduk di balik jendela, memberiku ruang yang tidak kuminta tetapi kubutuhkan.
Dari terminal aku sempat mengirim satu pesan pendek kepada Rafi: Teteh pulang. Jangan bilang siapa-siapa dulu. Ia membalas dalam sepuluh detik dengan satu kata: Ditunggu. Sekarang, di ujung jalan setapak menuju rumah, aku melihat pagar bambu itu terbuka lebar.
Mamaku berdiri di ambang pintu.
Ia memakai kebaya lusuh yang biasa ia pakai di rumah dan kain batik yang kuhafal motifnya, dengan sapu tangan di genggaman. Wajahnya tidak berubah sejak aku berangkat menikah, kecuali kerut di sudut matanya yang tampak lebih dalam. Ia tidak bertanya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku dari ujung jalan setapak sampai ke tangga teras, dan ketika aku tiba di depannya, ia mengulurkan tangan dan merapikan ujung kerudungku yang miring.
Itu pelukan paling panjang yang pernah ibuku berikan, tanpa sentuhan dan tanpa kata.
Bapak duduk di bangku kayu panjang di teras, sarungnya digulung, tangannya memegang cangkir kopi yang sudah lama dingin. Ketika aku naik ke teras ia menaruh cangkir, berdiri pelan-pelan, dan memandangku lama.
"Pak," kataku.
Bapak tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, merentangkan kedua tangannya, dan memelukku sebentar. Hanya sebentar, seperti dulu ia memelukku pada hari akad sebelum menyerahkan tanganku kepada Mas Indra. Bau kopi, bau tembakau yang sudah lama ia tinggalkan, bau tanah yang tak pernah hilang dari bajunya. Dan aku, yang sepanjang jalan pulang bersumpah tidak akan menangis, menangis seperti anak kecil yang baru jatuh dari sepeda.
"Pak, Aisyah gagal," kataku di antara isak. "Aisyah tidak bisa. Aisyah sudah berusaha, Aisyah sudah sabar, Aisyah..."
"Teteh." Bapak menepuk punggungku pelan, sekali, lalu sekali lagi. "Teteh tidak gagal."
"Tapi Aisyah pulang. Aisyah meninggalkan rumah suami Aisyah..."
"Teteh boleh lelah." Suaranya hampir tak terdengar, tetapi setiap kata terasa seperti ditaruh dengan hati-hati di tempat yang tepat. "Pulang karena lelah itu bukan gagal. Itu istirahat. Orang yang tidak pernah lelah itu justru belum memikul apa-apa."
Aku menangis lebih keras, dan kali ini aku tidak mencoba menyembunyikannya. Mamaku menyentuh bahuku dari belakang. Bapak tidak melepas pelukannya sampai isakku mereda sendiri.
***
Sore itu ibuku menaruh segelas teh manis panas di meja kamar lamaku, bersama sepiring singkong rebus yang diberi taburan kelapa parut dan sejumput garam, camilan yang ia buat tiap kali aku demam waktu kecil. Aku mengenali piring itu, piring bunga-bunga dengan retakan kecil di tepinya.
"Makan, Teh," katanya pendek.
"Terima kasih, Ma."
Mamaku duduk di tepi ranjang, di sampingku, dan kami diam bersama. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku sudah lama tahu bahwa diam mamaku berbeda dengan diam yang lain: diam mamaku adalah selimut, sedangkan diam yang satunya lagi pintu yang terkunci dari dalam.
Aku tertidur sebelum singkongnya habis, dan terbangun ketika langit di jendela sudah jingga.
Makan malam digelar di tikar ruang tengah seperti biasa, dengan sambal terasi, ikan asin goreng, dan tumis daun singkong yang uapnya masih mengepul. Bapak duduk bersila di ujung. Rafi di seberangku, menyendok nasi tiga kali sebelum ada yang sempat menyuruhnya berhenti.
"Nak Indra sudah tahu Teteh di sini?" tanya Bapak, sambil mengambil sepotong ikan.
"Tahu, Pak. Aisyah tinggalkan kabar." Itu setengah benar: aku tidak mengirim apa pun, tetapi ia melihatku pergi.
Bapak mengangguk. Ia mengunyah pelan, menelan, lalu berkata tanpa menatapku, "Bapak tidak akan bertanya apa-apa, Teh. Kalau Teteh mau cerita, cerita. Kalau tidak, makan saja."
"Aisyah mau cerita, Pak. Tapi belum bisa."
"Ya sudah. Belum bisa itu bukan tidak mau." Bapak menyodorkan piring sambal ke arahku. "Besok subuh ikut Bapak ke ladang, kalau Teteh sanggup bangun."
"Sanggup, Pak."
"Awas. Waktu SMA Teteh juga bilang sanggup, lalu Bapak harus menyiram wajah Teteh dulu baru bangun." Mata Bapak berkerut sedikit. Itu senyumnya.
Rafi tertawa terbahak sampai tersedak nasi, dan mamaku menepuk punggungnya sambil menggeleng. Untuk sekian detik ruang tengah itu terasa seperti hari-hari sebelum aku menikah, dan dadaku menghangat dan menyakitkan dalam satu tarikan napas.
Malam turun cepat di kampung. Sehabis Isya aku keluar ke teras membawa sarung tua Bapak yang kujadikan selimut, dan menemukan Rafi sudah duduk di anak tangga paling bawah dengan lutut ditekuk dan wajah menatap gelap kebun.
"Boleh Teteh duduk?"
"Teteh nggak perlu izin." Ia bergeser sedikit. Aku duduk di sampingnya, dan selama beberapa menit kami hanya mendengar jangkrik.
"Teh," katanya akhirnya. Suaranya rendah, tidak seperti Rafi yang biasanya. "Rafi nggak suka Mas Indra."
"Rafi."
"Dengerin dulu." Ia menoleh. Di bawah lampu teras, matanya merah. "Rafi tahu Mas Indra baik. Rafi tahu dia sayang Teteh. Tapi kemarin, waktu Mama mertua Teteh ngomong begitu ke Bapak, Rafi nelepon dia dua kali dan dia nggak angkat. Waktu Rafi akhirnya sampai ke dia, dia cuma bilang, 'Rafi, tenang, Mas urus.' Terus nggak ada yang diurus."
"Dia sedang rapat, Dek."
"Teh." Rafi tersenyum pahit. "Dia selalu punya alasan. Dan Teteh selalu bela dia."
Aku tidak bisa membantah, karena kalimat itu benar dalam dua arah. Aku menarik sarung lebih rapat ke bahu.
"Teteh tidak minta Rafi suka," kataku. "Teteh cuma minta Rafi jangan membenci orang yang Teteh sendiri belum selesai mencintai."
Rafi menunduk. Lama. Lalu ia menyandarkan kepalanya ke bahuku, seperti waktu ia kecil dan aku harus menggendongnya pulang dari sawah. Aku mengusap rambutnya yang masih basah bau sabun.
Di dalam saku sarung, ponselku bergetar.
Aku membukanya dengan satu tangan. Nama di layar membuatku berhenti bernapas sebentar.
Mas Indra: Mas belum punya hak menelepon. Mas di sini kalau dek siap.