"Teh. Sudah subuh."
Ketukan di pintu kamarku pelan, dua kali, lalu berhenti. Aku membuka mata dan mendapati langit di jendela masih biru tua. Semalam aku hanya tidur sebentar-sebentar, tiap kali terbangun tanganku meraba ponsel di bawah bantal, dan tiap kali layarnya tetap gelap.
"Iya, Pak. Aisyah bangun."
Kami salat berdua di ruang tengah, Bapak di depan dan aku di belakang, dengan sandal jepit yang sudah menunggu di teras. Habis salam Bapak tidak mengajak bicara. Ia menyodorkan senter kecil dan sebuah topi anyaman yang bau jerami, lalu memanggul cangkul di bahunya. Aku mengikutinya menyusuri jalan tanah yang licin oleh embun.
Kabut menggantung rendah di ladang. Deretan sawi dan cabai basah oleh embun, dan dari kejauhan terdengar ayam hutan bersahutan. Bapak berhenti di ujung bedengan, menyerahkan sebilah sabit kecil kepadaku.
"Rumputnya yang di sela cabai saja, Teh. Pelan. Jangan cabut cabainya."
"Aisyah bukan anak SMA lagi, Pak."
"Bapak tahu. Makanya Bapak tidak bilang cabutnya sambil merem." Pipinya berkerut sebentar.
Kami bekerja sampai matahari belum menyentuh punggung bukit. Di bedengan sebelah, tetangga Bapak yang sudah lebih dulu turun melambai dari jauh, melihat siapa yang berdiri di samping Bapak, lalu pura-pura sibuk dengan karungnya. Aku tahu itu kebaikan juga. Orang kampung tahu kapan harus tidak bertanya. Telapak tanganku mulai perih, dan anehnya itu melegakan, seperti ada sesuatu yang sedang kuurus dengan tanganku sendiri dan bukan dengan dadaku. Sesekali Bapak menegakkan punggung, menatap langit, lalu melanjutkan mencangkul tanpa suara.
"Pak."
"Hm."
"Aisyah takut Aisyah salah sudah pergi."
Cangkul Bapak berhenti. Ia menancapkannya ke tanah, bersandar sebentar pada gagangnya, dan memandang rumpun cabai di depan kami.
"Lihat cabai ini, Teh. Dari bibit sampai berbuah, tiga bulan. Selama itu Bapak siram, Bapak singkirkan rumput, Bapak tunggu. Kadang hujan terlalu lama, kadang panas terlalu lama. Cabainya tidak pernah diam." Ia menoleh. "Sabar itu bukan diam, Teh. Sabar itu tetap berjalan sambil menunggu."
Aku menggenggam sabit lebih erat. Embun menetes dari ujung topi ke punggung tanganku. Hampir saja aku menjawab bahwa selama berbulan-bulan inilah yang kulakukan, berjalan, menunggu, dan tidak sampai ke mana-mana. Tetapi aku tahu yang Bapak maksud tidak sesederhana itu. Bapak menunggu sambil menyiram. Aku menunggu sambil berharap hujan turun sendiri.
"Ikut Bapak."
Ia berjalan ke tepi ladang, menuruni undakan tanah, dan di bawahnya terhampar sepetak sawah kecil dengan padi yang baru setinggi lutut. Airnya memantulkan warna jingga yang mulai naik di ufuk. Di antara sawah dan ladang ada pematang sempit yang dipadatkan rata, dan di ujungnya sebongkah batu pipih yang licin oleh tahun-tahun diduduki.
"Di sini Bapak biasa menunggu matahari," kata Bapak. Ia duduk di batu itu dan menepuk tanah di sampingnya. "Kalau hati Bapak sempit, Bapak ke sini. Matahari itu tidak pernah terlambat, Teh. Cuma kita yang sering lupa menunggunya."
Aku duduk bersila di pematang. Rumput basah menembus kain gamisku, dingin, dan aku tidak peduli.
Lama kami diam. Burung-burung kecil turun ke genangan sawah, minum, lalu terbang lagi tanpa memedulikan dua orang yang duduk kaku di pematang. Lalu aku mulai bicara, tersendat-sendat. Aku bercerita tentang mama mertua yang menghitung hari. Tentang Mas Indra yang tidak lagi tersenyum di depan mama. Tentang laki-laki yang membaca suratku tiga kali di sajadahnya tetapi tidak sanggup mengucapkan satu kalimat di ruang tamu. Aku tidak bercerita tentang amplop, klinik, dan bisikan di hari kedua pernikahan. Itu bukan milikku untuk dibagi sebelum Mas Indra sendiri yang membukanya.
Bapak mendengar sampai habis. Ia tidak memotong sekali pun dan tidak meminta rincian.
"Kalau Nak Indra laki-laki baik," katanya akhirnya, "dia akan datang dengan jujur. Kalau tidak, pintu rumah ini tetap terbuka." Ia mengangguk ke arah matahari yang baru muncul sebagai garis tipis di atas bukit. "Itu saja yang Bapak tahu. Sisanya urusan Teteh dan Allah."
***
Pukul delapan dapur sudah penuh uap.
Mamaku berdiri di depan tungku kayu, mengaduk kuali besar berisi kuah santan yang beraroma kunyit dan serai. Di meja ada setumpuk labu siam, terong, dan kacang panjang yang belum dipotong. Ia menoleh sedikit ketika aku masuk, lalu menyodorkan talenan tanpa berkata apa-apa.
"Lodeh, Ma?"
"Kesukaan Teteh, kan." Cuma itu. Mamaku memang begitu: kasihnya ia taruh di tangan, bukan di mulut.
Aku memotong terong menjadi bagian-bagian kecil sementara mamaku menunjukkan kembali takaran yang kupikir sudah kuhafal. "Santannya jangan dipanaskan terlalu tinggi, nanti pecah. Garamnya belakangan. Tempenya masuk paling akhir supaya tidak hancur." Tangannya yang kasar membetulkan letak pisauku tanpa menyentuh jariku. "Dulu Teteh selalu masukin cabai kebanyakan."
"Sekarang Aisyah sudah tahu kapasitas sendiri."
"Mudah-mudahan." Mamaku menyendok sedikit kuah ke sendok kayu dan menyodorkannya ke bibirku. "Cicip."
Rasanya gurih, sedikit manis dari labu siam, hangat sampai ke dada. Mataku memanas begitu saja.
"Pas, Ma."
"Nanti kalau Teteh masak sendiri, ingat rasanya." Mamaku menatap kuali, bukan aku. "Laki-laki itu, sekeras apa pun, kalau dikasih lodeh hangat biasanya melunak."
"Mas Indra tidak makan sayur, Ma. Dulu Aisyah harus mengancam dulu baru dia mau sesendok sop brokoli."
"Belum." Mamaku mengaduk lagi. "Belum bukan tidak."
Aku tertawa kecil, dan itu tawa pertamaku dalam dua hari. Mamaku tidak ikut tertawa, tetapi sudut bibirnya naik sedikit.
Ponselku bergetar di saku apron saat kami sedang menata mangkuk di meja tengah. Nomor tak dikenal. Aku hampir mengabaikannya, lalu teringat secarik kertas lipat yang kuselipkan di bawah bantal semalam.
"Halo?"
"Mba Aisyah." Suara Bibi terdengar tipis dan terengah, seperti orang yang bicara sambil berlari kecil. "Maaf Bibi telepon. Bibi sembunyi di kamar belakang."
"Bi, ada apa? Bibi baik-baik saja?"
"Bibi baik. Tapi Den Indra." Ada jeda, dan aku mendengar Bibi menelan ludah. "Den Indra sudah dua hari tidak makan, Mba. Nasi yang Bibi taruh di ruang kerja kemarin utuh, tadi pagi juga. Dia hanya duduk di sajadah dan memegang kertas, entah kertas apa."
Aku mencengkeram tepi meja. Dua hari. Berarti sejak Rabu malam, sejak aku mengemas tas, bahkan mungkin sebelum itu. Mamaku memandangku dari seberang, dan tangannya berhenti di atas tumpukan mangkuk.
"Dia bilang apa, Bi? Maksud Aisyah, dia sempat bertanya sesuatu?"
"Cuma satu, Mba." Suara Bibi bergetar. "Dia tanya, 'Bi, Aisyah sudah makan?' Bibi jawab Bibi tidak tahu. Dia diam lagi."
Aku menutup mulut dengan punggung tangan supaya tidak ada suara yang lolos.
"Ibu bagaimana, Bi?"
"Ibu mengurung diri di kamar sejak kemarin sore, tidak mau keluar, tidak mau ditanya. Cuma menyuruh Bibi jangan bicara dengan siapa-siapa." Suara Bibi memelan sampai hampir berbisik. "Tadi pagi Bibi nekat telepon Bapak, Mba, di mess pabrik. Bibi ceritakan semua yang Bibi lihat di SPBU dan di rumah Bapak kampung dua hari lalu. Bapak diam lama sekali. Terus bilang..."
Bapak yang Bibi maksud tentu papa mertuaku, bukan Bapakku yang sedang menyapu teras di luar sana.
"Bilang apa, Bi?"
"Bilang tunggu di sana. Bapak sudah di jalan menuju kampung Mba, besok pagi sampai."