Mobil itu berhenti di ujung jalan setapak pukul tujuh pagi, dan aku mengenalinya dari bunyi pintunya sebelum melihat warnanya.
Aku sedang menjemur kerudung di tali depan rumah. Rafi, yang berdiri di anak tangga teras dengan segelas kopi di tangan, lebih dulu menegakkan badan. "Teh," katanya rendah. "Itu mobil Papa Teteh."
"Iya."
"Rafi masuk saja?"
"Jangan. Salaman dulu, Dek. Papa tidak bersalah soal apa-apa pagi ini."
Rafi mengerutkan hidung, tetapi ia tetap di tempatnya. Dari mobil hitam itu papa turun sendirian. Sopir tidak ikut keluar. Papa memakai kemeja kerja yang kusut di bagian siku, dan sepatunya berdebu sampai ke mata kaki. Rambutnya yang biasanya rapi tampak seperti baru disisir dengan jari. Di tangannya ada kantong plastik berisi jeruk.
Ia berjalan menyusuri jalan tanah itu pelan. Aku menyambutnya di tangga teras dan mencium tangannya.
"Nak." Suaranya serak. "Papa datang mengganggu."
"Papa tidak mengganggu. Silakan masuk, Pa."
Bapak sudah berdiri di pintu, sarungnya rapi, peci hitam di kepala. Mamaku berdiri satu langkah di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan perut. Aku belum pernah melihat Bapak berpeci pada hari biasa. Ia berpakaian seperti menyambut tamu yang akan menentukan sesuatu.
"Pak," kata papa. Ia mengulurkan tangan. "Saya ayah Indra. Kita bertemu di akad, tapi saya yakin Bapak lebih ingat pada hari yang lain."
Bapak menjabat tangannya. "Silakan masuk, Pak. Kita bicara di dalam."
Ruang tamu rumah kami kecil. Kursi rotan dua buah dan satu bangku panjang, meja dengan taplak sulaman yang dibuat ibuku sebelum aku lahir. Papa duduk di kursi rotan yang disediakan dan tidak bersandar. Mamaku menaruh teh di meja. Aku duduk di bangku, di samping Rafi yang memilih berdiri di dekat pintu.
Papa tidak menyentuh teh itu.
"Pak, Bu," katanya. "Saya datang bukan untuk membela siapa-siapa. Saya sudah dengar dari orang yang melihat sendiri apa yang istri saya katakan kepada Bapak dan Ibu di teras ini. Kata-kata itu tidak pantas, dan tidak ada alasan yang membuatnya pantas."
Bapak diam.
"Istri saya salah," lanjut papa. Suaranya tidak naik, tetapi tiap katanya jatuh berat. "Dan saya terlalu lama membiarkan. Bertahun-tahun saya melihat dan memilih diam supaya rumah tetap tenang. Rumah itu memang tenang, Pak. Tenang karena ada yang menanggung semuanya sendirian." Ia menatap Bapak. "Sekarang yang menanggungnya anak Bapak. Saya malu."
Aku menunduk. Di sebelahku Rafi menarik napas pendek, seolah baru saja ditampar dengan kata-kata, bukan tangan.
Bapak membetulkan letak pecinya sebelum menjawab. "Pak," katanya, "anak saya pulang karena lelah, bukan karena diusir. Itu yang saya pegang dari awal. Soal ibu Indra, saya tidak menyimpan dendam. Saya hanya menyimpan satu hal." Ia berhenti sejenak. "Anak kami, kami titipkan. Bukan kami serahkan untuk dihabiskan."
"Saya mengerti."
"Kalau Bapak mengerti, itu sudah cukup bagi saya."
Papa menunduk dalam, lebih dalam dari yang pernah kulihat, dan ketika ia mengangkat wajah, matanya basah. Mamaku berdiri, mengambil kantong jeruk dari tangan papa tanpa bicara, dan membawanya ke dapur. Itu cara mamaku menerima permintaan maaf: ia menerima pemberiannya dulu.
Siang itu kami makan di tikar ruang tengah, dan papa duduk bersila di antara Bapak dan Rafi dengan lutut yang jelas tidak terbiasa. Mamaku menyendokkan nasi untuknya, ikan asin, sambal terasi, dan rebusan daun singkong. Papa makan dengan tangan, kaku di suapan pertama, lalu makin lancar.
"Pedas, Pak?" tanya Bapak.
"Pedas sekali." Papa terbatuk, matanya berair. "Tapi enak. Sudah lama saya tidak makan tanpa sendok."
"Nak Indra juga tidak suka sayur, kata Teteh," kata mamaku tiba-tiba, kepada daun singkong di piring papa.
"Dari kecil, Bu." Papa tersenyum samar. "Saya kira dia akan tumbuh keluar dari itu."
"Belum," kata mamaku, hanya itu, sambil mendorong piring sambal lebih dekat ke papa.
Rafi, yang sejak tadi menyendok nasi dengan muka datar, hampir tersedak, dan untuk satu detik ruang tengah itu hangat dengan cara yang tidak kuduga. Aku melihat Bapak menunduk menyembunyikan sudut bibirnya. Papa tidak tertawa, tetapi bahunya turun sedikit, seperti orang yang akhirnya meletakkan beban yang sudah ia pegang sejak masuk pagar.
***
Sore harinya aku duduk di kamar lamaku dan ponselku bergetar di atas kasur.
Bukan telepon. Sebuah foto.
Aku membukanya dengan jari yang tidak benar-benar mau patuh. Sebuah sajadah hijau yang kukenali, terbentang di lantai ruang kerja Mas Indra. Di atasnya sehelai kertas yang lipatannya sudah putih dan sobek di salah satu sudut, tulisan tanganku sendiri masih terbaca: Apa pun yang Mas simpan, adek di sini. Adek tidak butuh jawabannya malam ini.
Ada baris di bawah foto itu.
Mas sedang belajar mengucapkannya. Bukan lewat pesan.
Aku membacanya berkali-kali. Kertas itu terlihat seperti sudah dibuka dan dilipat ratusan kali. Di pojok foto, di bawah bayangan lampu meja, tampak ujung jari yang kuyakini jari Mas Indra, menahan kertas supaya tidak tertiup kipas angin.
"Kenapa, Teh?" tanya Rafi dari ambang pintu. Aku tidak sempat menyembunyikan ponselnya.
Ia membaca layar itu sampai habis, rahangnya bergerak-gerak. "Dia pakai surat Teteh buat bikin Teteh luluh."
"Bukan, Dek. Dia tidak minta apa-apa. Dia cuma bilang sedang belajar."
"Belajar bicara? Dia sudah dewasa, Teh."
"Ada orang yang belajar bicara pada umur dua puluh delapan." Aku menyimpan ponsel di pangkuan. "Dan ada orang yang belajar mendengar pada umur lima puluh. Papa baru belajar pagi ini."
Rafi tidak menjawab. Ia menatap lantai, menendang pelan ujung sandalnya, lalu pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tetapi pintu kamarku ia tutup pelan, bukan dibanting.
Menjelang Maghrib papa menemuiku di teras. Bapak dan mamaku sedang memandikan ayam di belakang, katanya, dan ia sengaja menunggu kami berdua. Ia berdiri bersandar pada tiang kayu, menghadap kebun yang mulai gelap.
"Nak, Papa tidak minta kamu pulang."
Aku menoleh.
"Papa sudah bicara dengan Bibi, dan dengan diri Papa sendiri sepanjang jalan ke sini semalam. Kamu berhak berada di tempat orang-orang yang memeluk kamu. Papa tidak akan memaksa." Ia menarik napas. "Yang Papa minta cuma satu: beri Indra kesempatan bicara. Kalau kamu sudah selesai marah, atau kalau belum pun, dengarkan dia dulu."
"Pintu Bapak terbuka, Pa," jawabku pelan. "Aisyah tidak ke mana-mana. Kalau Mas Indra mau bicara, dia tahu jalan ke sini."
Papa memandangku lama. Lalu sudut bibirnya naik sedikit, bukan senyum, lebih seperti pengakuan.
"Anak itu mirip ibunya soal keras kepala," katanya. "Tapi semoga dia mirip papanya soal menyesal tepat waktu." Ia melepas pegangan dari tiang. "Kalau Rabu dia belum datang, Papa sendiri yang menyeretnya ke sini."