Air sumur Rabu subuh itu dingin sampai ke tulang. Tiga hari sejak Sabtu kuhabiskan dengan menyiangi ladang, menumbuk sambal, dan menghitung kendaraan yang lewat di ujung gang, dan tak satu pun membawa Mas Indra. Aku baru selesai berwudu, tetesan masih jatuh dari ujung daguku, ketika langkah Rafi menderap dari arah gang dan berhenti di depanku dengan napas memburu.
"Teh." Ia menelan ludah. "Tadi Rafi mau ke musala, lewat ujung gang. Ada mobil parkir di bawah pohon mangga. Plat Bandung. Mesinnya mati. Orangnya di dalam, duduk saja, nggak turun." Rafi menatapku lurus. "Rafi kenal mobilnya, Teh. Rafi nggak ngomong apa-apa sama dia."
Tubuhku terasa dingin dan panas dalam satu tarikan napas. Aku menyambar kerudung dari tali jemuran dan memakainya dengan jari yang salah-salah.
"Rafi ikut."
"Jangan. Teteh sendiri."
"Teh..."
"Rafi, tolong." Aku memegang bahunya. "Kalau Teteh butuh, Teteh teriak."
Ia mengatupkan rahang, lalu menggeser tubuh dari pintu. "Kalau lama, Rafi susul. Rafi cuma berdiri di kebun pisang."
"Rafi."
"Cuma berdiri, Teh."
Aku hampir tersenyum, tetapi dadaku terlalu sesak untuk itu.
Jalan setapak menuju ujung gang masih basah oleh embun, dan angin subuh memasuki lengan gamisku. Pohon mangga itu tumbuh di tikungan tempat kami dulu bermain kelereng, dan di bawahnya berdiri mobil yang kukenali dari goresan kecil di bumper depan, bekas tiang parkir yang pernah kami tertawakan berdua. Kaca depannya berembun. Di balik embun itu tampak bahu seseorang yang sedang bersandar pada setir.
Aku mengetuk kaca sisi pengemudi, dua kali, pelan.
Kaca turun. Mas Indra menatapku dari jarak yang terlalu dekat dan terlalu jauh sekaligus. Matanya cekung, kulitnya pucat kekuningan, dan kemeja yang ia kenakan terlihat seperti habis dipakai tidur di kursi: dua kancing atasnya terlepas, kerahnya berkerut.
"Dek," katanya.
"Mas sudah lama di sini?"
"Sejak semalam." Ia menelan ludah. Suaranya serak seperti orang yang berhari-hari tidak bicara. "Mas tidak berani turun. Mas belum punya hak."
"Mas tidak perlu hak untuk duduk di mobil sendiri." Aku bersandar pada pintu mobil supaya lututku tidak gemetar. "Mas sudah makan?"
Ia berkedip, seperti tidak mengira itu pertanyaan pertamaku. "Roti. Kemarin siang, di pom bensin. Setengah."
"Bibi bilang Mas dua hari tidak makan."
"Bibi bilang begitu?" Ada sesuatu yang hampir seperti tawa di ujung suaranya, lalu hilang. "Bibi memang tidak bisa berbohong."
"Mas tidak boleh menyiksa diri."
"Mas tidak menyiksa. Mas cuma tidak lapar."
Ia terdiam. Lalu, sangat pelan, ia mengangkat sesuatu dari dasbor dan menaruhnya di telapak tangannya, menyodorkannya ke jendela. Ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan daftar panggilan.
"Mas ingin dek lihat," katanya. "Papa tidak menelepon Mas. Siapa pun tidak menyuruh Mas. Mas berangkat dari Bandung Selasa malam, sebelum Papa menelepon siapa pun. Mas datang karena mau, dek. Bukan karena disuruh."
Aku menatap layar itu cukup lama. Daftar itu tidak bohong, dan aku tahu, dari cara ia menahan napas, ia sendiri tidak yakin aku akan percaya. Panggilan masuk sejak Selasa sore: kantor tiga kali, Bibi dua kali. Papa dan mama tak tercatat sama sekali.
"Mas melewatkan Sabtu," kataku. Suaraku datar, bukan karena aku tidak merasa apa-apa, melainkan karena kalau kuberi nada aku akan retak.
"Mas tahu."
"Mas berjanji Sabtu."
"Mas tahu, dek." Napasnya patah. "Mas melewatkan Sabtu karena kamu sudah tidak di rumah. Tapi itu bukan alasan. Itu cuma kenyataan. Mas minta maaf."
Aku tidak menjawab. Angin bertiup membawa bau tanah dan asap kayu dari dapur rumah-rumah di sekitar. Di atas kami, pohon mangga menggugurkan satu daun kuning ke kap mobil.
"Turun, Mas."
"Dek..."
"Bapak biasa menunggu matahari di pematang sawah di bawah ladang. Kalau Mas mau bicara, bicara di sana. Bukan di mobil, bukan di rumah, bukan di depan siapa-siapa."
***
Kami berjalan berdampingan, tapi tidak bersentuhan. Ia membawa sesuatu di saku jaketnya yang sesekali ia raba, seperti memastikan benda itu belum jatuh. Aku tidak bertanya. Sepanjang jalan yang kukenal sejak kecil itu kami hanya mendengar langkah sendiri dan suara air parit. Aku di sisi kiri jalan setapak, Mas Indra di sisi kanan, ada ruang selebar satu orang di antara kami.
Di tikungan dekat kebun pisang, Bapak muncul dari arah ladang dengan cangkul di bahu. Langkah kami sama-sama melambat. Mas Indra berhenti sampai tubuhnya kaku. Bapak memandangnya dari ujung kepala sampai kaki, tanpa tergesa, lalu mengangguk satu kali dan meneruskan langkahnya ke arah rumah seolah sedang bertemu tetangga yang biasa lewat.
"Bapak tidak marah?" bisik Mas Indra begitu Bapak sudah jauh.
"Bapak menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu apa yang mau Mas bilang."
Kami menuruni undakan tanah. Padi di sawah kecil itu masih hijau muda dan setinggi lutut, dan di atas bukit matahari baru menyembul separuh. Aku duduk di batu pipih tempat Bapak biasa duduk. Mas Indra tidak duduk. Ia berdiri di pematang dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh, menatap air sawah yang berkilau.
"Mas yang menutup mulut berbulan-bulan, dek," katanya akhirnya.
Aku diam.
"Bukan Mama yang menutupnya. Mama cuma memukul tempat yang sudah retak. Mas yang memilih diam, tiap kali Mama bicara, tiap kali dek menatap Mas. Mas pikir kalau Mas tidak mengatakannya, tidak akan benar-benar terjadi." Suaranya bergetar. "Mas takut, dek. Mas takut kamu pergi."
"Adek sudah pergi, Mas."
"Iya." Ia menutup mata sebentar. "Dan Mas melihat bahwa takut yang Mas pelihara itu justru yang membuat kamu pergi."
Itu kalimat paling jujur yang pernah kudengar dari mulutnya sejak mama pindah ke rumah kami. Aku menelan air mata yang naik ke tenggorokan.
"Mas ingat malam adek mengemas tas?" tanyaku.
"Setiap detiknya."
"Waktu itu adek tidak sedang menghukum Mas. Adek cuma tidak sanggup lagi jadi satu-satunya yang bicara di rumah itu."
"Mas tahu sekarang." Ia akhirnya menoleh, dan di matanya tidak ada pembelaan apa pun. "Mas dengar semuanya, dek. Setiap kalimat. Tapi Mas dengar terlalu lambat."
Cahaya matahari mulai menyentuh pucuk padi, dan kulihat bahunya, yang selama berbulan-bulan tegak seperti papan, merosot beberapa senti.
Ia merogoh saku jaketnya, dan lebih dulu yang keluar adalah selembar kertas lipat yang tepinya sudah lembut seperti kain. Suratku. Ia menaruhnya di batu di sampingku tanpa komentar, lalu merogoh lagi dan mengeluarkan amplop cokelat yang sudut-sudutnya sudah melengkung karena sering dipegang. Aku mengenali amplop itu. Aku pernah melihat amplop sejenis di laci ruang kerjanya, dan malam itu aku memilih tidak membukanya.
"Baca," katanya, dan tangannya yang terulur sampai bergetar. "Bagian hasilnya Mas tidak sanggup mengucapkannya."