Aku menerima amplop itu dengan kedua tangan.
Kertasnya hangat, entah oleh saku jaket atau oleh genggaman Mas Indra yang terlalu lama. Di sudut kirinya masih ada logo hijau laboratorium yang sama seperti yang kulihat di laci ruang kerja, tetapi kali ini tutupnya sudah terbuka dan lipatan di dalamnya sudah lusuh. Aku menarik isinya pelan-pelan. Dua lembar. Yang satu tabel angka dengan kolom nilai rujukan, yang satu lagi surat ringkasan dari dokter, ditulis rapi dengan pulpen biru di bagian bawahnya.
Aku membaca dari atas, kata per kata, supaya tidak ada yang salah kutangkap.
Pemeriksaan kesuburan pria. Jumlah dan gerak jauh di bawah rentang normal. Disarankan evaluasi lanjutan dan pengobatan dalam beberapa bulan. Di bawahnya, tulisan tangan dokter: Peluang alami kecil, bukan nol. Dapat dibantu.
Bukan nol. Dua kata itu kubaca tiga kali, dan tiga kali pula mereka menolak berubah menjadi apa pun selain yang tertulis.
Mas Indra masih berdiri di pematang. Ia tidak memandangku. Ia memandang air sawah, dan rahangnya bergerak-gerak.
"Itu sejak kapan?" tanyaku, pelan.
"Sejak Dokter Hanifah bilang Mas perlu periksa." Ia menarik napas. "Mas periksa ulang di tempat lain, supaya yakin salah baca. Hasilnya sama. Sama kecil."
"Berbulan-bulan."
"Iya."
"Mas membawa ini sendirian berbulan-bulan."
Ia tidak menjawab. Matahari sudah naik sejengkal di atas bukit, dan cahayanya menyentuh bahunya yang kurus.
"Duduk, Mas."
"Mas tidak pantas..."
"Duduk." Aku menggeser badan di batu pipih itu. "Di tempat ini Bapak tidak pernah menyuruh orang berdiri kalau mau bicara."
Ia duduk. Bukan di batu, tapi di tanah pematang, di bawah, dengan lutut ditekuk dan kedua lengan menggantung di atasnya. Posisinya seperti anak yang sedang dihukum, dan aku harus berpaling sebentar karena ingin memeluknya.
"Mas mau cerita dari mana?" tanyaku.
"Dari malam Mama bertanya." Suaranya turun, nyaris tak terdengar. "Waktu itu Mas di kamar tamu bersama Mama. Mama tanya kenapa kita belum punya momongan, apakah ada masalah dengan kamu atau kita menunda. Mas sudah tahu hasilnya. Mas hampir bilang, Ma, bukan dia. Tapi Mas menoleh, dan kamu lewat di depan pintu."
Aku mengingat hari itu: handuk yang kulipat, celah pintu selebar dua jari, panci sop yang mendidih tanpa pernah kuingat menyalakannya. "Adek ingat."
"Mas melihat wajah kamu, dan Mas tidak sanggup." Ia menekan telapak tangannya ke dahi. "Kalau Mas bilang di depan Mama, kamu ikut mendengar. Kamu akan tahu bahwa Mas yang tidak bisa memberi apa yang kamu mau, dan bahwa Mama menghitung hari untuk sesuatu yang mustahil. Mas membeku. Setelah itu Mas tidak bisa membuka mulut lagi. Setiap hari yang lewat, makin sulit."
"Lalu Mas memilih dingin."
"Mas pikir kalau Mas jauh, kamu tidak akan tersakiti oleh hasilnya." Ia tertawa getir tanpa suara. "Padahal Mas yang menyakiti."
"Kantong obat dari klinik itu," kataku. "Adek lihat dari seberang jalan. Hari ulang tahun adek."
Kepalanya terangkat cepat. Wajahnya memucat, lalu pelan-pelan melunak, seolah satu ketakutan lagi ikut gugur. "Adek ke sana?"
"Adek menunggu di taksi. Adek tidak turun. Adek cuma tidak mau Mas sendirian di mobil itu."
"Mas minum obatnya setiap hari, dek. Diam-diam. Kata dokter, pengobatannya memang berbulan-bulan." Ia menatap telapak tangannya sendiri. "Mas tidak mau berhenti, walaupun Mas tidak berani menjanjikan apa-apa."
Aku menggenggam kertas itu sampai ujungnya kusut.
***
Matahari sudah cukup tinggi ketika ia melanjutkan. Seekor burung bangau terbang rendah di atas sawah, bayangannya melintas di air.
"Dulu, waktu kuliah, Mas punya seseorang," katanya. "Bibi sudah pernah cerita, kan."
"Sedikit. Tanpa nama."
"Mama mempermalukannya di ruang tamu sesudah makan malam, sambil tersenyum, di depan Bibi yang membereskan meja. Dia anak baik. Dia tidak membalas." Rahangnya mengencang. "Mas berdiri di pintu dan tidak bilang apa-apa. Dia menatap Mas lama sekali, menunggu satu kalimat, dek. Mas melihat dia pergi, dan Mas tetap tidak bergerak."
Ada getar di bahuku. "Dan Mas takut mengulanginya."
"Mas mengulanginya. Di ruang tamu, seminggu lalu, ketika kamu minta satu kalimat tentang Bapak dan Mama." Suaranya patah. "Mas berdiri di pintu yang sama, melihat orang yang Mas sayang menunggu. Dan Mas lagi-lagi diam."
Aku tidak menyela. Ada jenis sunyi yang tidak boleh diisi oleh pembelaan.
"Hanya Radit yang tahu soal ini," lanjutnya. "Sudah lama. Selasa subuh, sebelum Mas berangkat, dia menelepon dan bilang, 'Kamu bukan melindunginya, Ndra. Kamu menghukumnya.' Mas matikan telepon. Lalu Mas duduk di sajadah sampai pagi, memegang surat kamu yang sudah Mas baca ratusan kali. Dan Mas tahu Radit benar."
"Kenapa surat itu, Mas?"
"Karena adek tidak minta apa-apa." Matanya basah. "Adek bilang tidak butuh jawabannya malam itu. Tidak ada orang yang pernah memberi Mas ruang seperti itu. Mama selalu butuh jawaban. Mas sendiri selalu butuh jawaban. Adek yang pertama kali bilang boleh tidak ada."
Aku menutup mulut dengan punggung tangan sampai napasku bisa kukendalikan.
"Ada satu hal lagi," katanya. "Dan ini yang paling memalukan."
"Katakan."
"Beberapa minggu lalu Mas berpikir untuk membebaskan kamu." Ia menunduk sampai dagunya hampir menyentuh lutut. "Kalau Mas lepas, kamu bisa menikah dengan laki-laki yang bisa memberi anak. Kamu tidak perlu menunggu bulan-bulan pengobatan yang belum tentu berhasil. Mas pikir itu tanda cinta. Mas pikir itu satu-satunya hal berani yang bisa Mas lakukan."
Sesuatu di dadaku berubah dari sedih menjadi marah, panas dan bersih.
"Mas."
"Dek, Mas..."
"Mas tidak berhak memutuskan sendirian apa yang membahagiakan adek."
Ia mengangkat kepala. Aku berdiri dari batu pipih itu supaya sejajar dengannya, dan aku tidak berteriak, karena yang kukatakan tidak butuh teriakan.
"Adek menikah dengan Mas, bukan dengan hasil laboratorium." Rahangku gemetar. "Adek gak tanda tangan janji ini pakai syarat punya anak. Kalau Allah titipkan, alhamdulillah. Kalau ditunda..." Aku menelan ludah. "Ya adek tetap di sini. Itu keputusan adek, Mas. Bukan keputusan Mas atas nama adek."
"Dek..."
"Yang lebih sakit..." Suaraku bergetar, tetapi tidak jatuh. "Mas bikin adek kayak orang asing di rumah sendiri. Berbulan-bulan adek nunggu, gak tahu nunggu apa."
Mas Indra menatapku lama, dan wajahnya perlahan berubah, seakan baru sadar pintu yang ia kira terkunci selama ini hanya perlu didorong. Air matanya jatuh tanpa suara, mengalir ke dagu, dan ia tidak menyekanya.
Aku duduk kembali, kali ini di tanah di sampingnya, dan menaruh kertas itu di pangkuan kami berdua. Aku menarik napas panjang. Dadaku masih terbuka dan perih, tetapi anehnya lebih lapang daripada berbulan-bulan terakhir.
"Sekarang giliran adek," kataku. "Ada yang adek simpan juga."