Di pematang yang sama, matahari sudah menggeser bayangan kami pendek-pendek ke tanah yang basah.
"Hari kedua pernikahan kita," kataku. "Di ruang keluarga rumah Mama, sesudah Mas memutar video Najwa. Mama memeluk adek, dan membisikkan sesuatu."
Mas Indra mengangkat wajahnya. "Yang adek bilang belum punya bukti."
"Iya. Adek bilang begitu karena takut Mas tidak percaya. Padahal alasan sebenarnya lebih jelek dari itu." Aku menarik napas, dan kata-katanya keluar dengan suara yang bukan suaraku, datar dan hafal. "Mama memberi adek waktu satu tahun. Kalau setahun lagi belum ada cucu, katanya ia sendiri yang akan menyingkirkan adek dari rumah anaknya." Aku menelan ludah. "Lalu: 'Indra akan menurut.' Dan yang terakhir, yang paling adek ingat: 'Dia selalu menurut padaku.'"
Pematang itu mendadak sepi. Air parit pun terdengar jelas.
"Selalu menurut," ulang Mas Indra nyaris tanpa suara. Bibirnya bergerak sekali lagi pada kata itu, lalu terkatup. Wajahnya tidak berubah, tetapi tangannya yang bertumpu di tanah menekan keras sampai buku-buku jarinya memutih. "Adek simpan ini sejak hari kedua?"
"Sejak hari kedua. Setahun yang mama hitung, Mas, bukan karangan adek. Kalender kecil di tasnya, tenggatnya jatuh Minggu, hari ulang tahun akad kita." Mataku panas. "Adek tidak bilang, karena adek pikir kalau adek bilang, Mas harus memilih antara mama dan adek. Adek tidak mau jadi alasan Mas kehilangan ibunya. Jadi adek menanggungnya sendirian. Seperti Mas menanggung hasil itu sendirian."
"Dek."
"Adek juga diam, Mas. Adek juga menutup mulut. Bedanya adek menyebutnya sabar." Suaraku pecah di kata terakhir. "Adek salah. Maafkan adek."
Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Mungkin ia, mungkin aku. Tiba-tiba kepalanya sudah bersandar di bahuku dan bahunya berguncang, tanpa suara, lalu dengan suara, tangisan seorang laki-laki dewasa yang terlalu lama dikurung. Aku merangkul punggungnya dengan satu tangan. Tangan yang lain menggenggam kerudungku sendiri supaya tidak ikut runtuh.
"Mas yang minta maaf," katanya di antara napas yang patah. "Mas mengira Mama hanya menghitung hari. Mas tidak tahu Mama sudah bilang akan menyingkirkan kamu, dan bahwa Mas akan menurut." Ia mengangkat wajahnya. Matanya merah, hidungnya basah, dan ia tidak malu. "Dan Mas memang hampir menurut. Mas hampir membuktikan ucapan Mama dengan diam Mas."
"Tapi Mas datang."
"Mas datang." Ia mengusap pipinya dengan lengan jaket. "Mas mau berobat sungguh-sungguh, dek. Tidak lagi sembunyi-sembunyi. Dan Mas mau bicara dengan Mama." Suaranya turun. "Tapi Mas takut."
"Takut apa?"
"Takut Mas bicara dan Mama menatap Mas seperti menatap orang asing. Seperti dulu Mama menatap dia." Ia tidak menyebut nama gadis kuliah itu. Tidak ada yang perlu menyebutnya. "Kalau Mas tidak sanggup lagi, dek, jangan..."
"Adek di sebelah Mas. Dan sekali ini Mas boleh gemetar."
Ia tertawa kecil, serak, basah. Dan di atas bukit, matahari akhirnya lepas sepenuhnya dari punggung gunung.
***
Siang itu rumah Bapak terasa lebih ramai dari biasanya, padahal hanya ada beberapa orang di dalamnya.
Mas Indra mencium tangan mamaku dengan kedua tangan, dan mamaku, yang tidak pernah berkata banyak, hanya menepuk punggung tangannya dua kali seperti memeriksa apakah ia benar-benar ada. Dari dapur aku melihat melalui celah pintu. Mamaku sempat menegurku, "Jangan mengintip, Teh," tetapi ia sendiri berdiri di belakangku dan ikut melihat. Bapak dan Mas Indra duduk berdua di serambi, bersisian, menghadap kebun. Aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku hanya melihat Mas Indra berbicara lama, kepalanya menunduk, dan Bapak mendengarkan seperti mendengarkan hujan. Lalu Bapak menepuk bahunya sekali. Hanya sekali, tapi bahu Mas Indra turun sejengkal.
Ketika Mas Indra masuk untuk mencuci muka, Bapak memanggilku ke serambi dengan satu lambaian jari. Ia masih memandang kebun.
"Dia menangis di depan Bapak tadi, Teh."
"Mas Indra?"
"Laki-laki yang bisa menangis di depan mertuanya masih punya tempat untuk disembuhkan." Bapak merapikan sarungnya. "Itu bukan jaminan. Tapi itu pertanda. Teteh yang menimbang."
"Iya, Pak."
"Dan jangan lupa makan," tambah Bapak. "Dari tadi Teteh cuma menatap."
"Teteh," bisik Rafi di sampingku sambil menyodorkan mangkuk. "Rafi masih nggak suka dia."
"Iya, dek."
"Tapi Rafi lihat dia nggak ngapa-ngapain tadi di mobil, dari pagi. Dia cuma menunggu." Rafi menggaruk tengkuk. "Rafi kasih dia waktu seminggu."
"Seminggu itu lama sekali, dek."
"Buat Rafi memang lama."
Makan siang digelar di tikar. Mamaku menaruh semangkuk besar lodeh di tengah, labu siam dan terong dan tempe yang kemarin kumasak bersamanya, dan Mas Indra, yang melihat mangkuk itu dengan tatapan orang melihat musuh lama, mengambil sendok tanpa disuruh. Ia menyendok kuahnya. Mengunyah. Berhenti. Menyendok lagi.
"Enak, Ma," katanya, kepada mamaku, dengan suara yang masih bergetar sisa tangis. "Terima kasih."
"Habiskan," jawab mamaku pendek. Tetapi matanya berair.
Aku mengamatinya menghabiskan satu piring, lalu tambah setengah, sambil sesekali tertawa kecil mendengar Rafi menggerutu. Sebuah tawa tipis dan canggung. Dadaku mengembang melihatnya.
Tidak lama sesudah itu terdengar deru mobil lain di ujung jalan setapak. Papa turun dengan jas kerja, melihat ke arah ruang tengah, dan berhenti di tangga teras.
"Papa datang untuk menyeretmu," katanya kepada Mas Indra. "Tapi tampaknya kamu sudah berjalan sendiri."
"Indra berangkat Selasa malam, Pa."
"Papa tahu." Papa menepuk bahu putranya. "Bibi sudah cerita."
Menjelang sore kami berpamitan. Mamaku membungkus lodeh dalam rantang kecil, sambal terasi dalam botol bekas, dan sebungkus ikan asin goreng yang ia letakkan di tanganku tanpa kata. Lalu, hanya ketika Mas Indra sudah keluar, ia menahan lenganku.
"Teteh boleh pulang kapan saja," bisiknya. "Rumah ini tidak punya jam tutup."
Aku mencium tangannya lama. Bapak mengantar sampai pagar. Di sana, di bawah pohon asem, Mas Indra menggenggam tanganku sekali, erat, lama, dan aku membiarkannya. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar.
Di dalam mobil, aku melepaskannya pelan-pelan.
"Dek?"
"Adek pulang bersama Mas, bukan karena sudah selesai." Aku menatap kaca depan, bukan wajahnya. "Masih ada yang harus Mas buktikan. Satu hari tidak menghapus berbulan-bulan."
"Mas tahu." Ia menggenggam setir. "Mas akan membuktikannya. Pelan-pelan." Ia diam sebentar. "Tapi yang satu ini tidak bisa pelan-pelan, dek. Malam ini juga Mas bicara dengan Mama. Di depan kamu, bukan di balik pintu."
"Mama tidak akan mau mendengar."
"Tidak perlu mau. Cukup mendengar."
Ia mengeluarkan amplop cokelat dari saku jaketnya dan menaruhnya di dasbor, menghadap ke atas, supaya kami berdua melihatnya sepanjang jalan pulang. Baru sesudah itu ia menyalakan mesin.