Lampu teras rumah kami menyala ketika mobil Mas Indra membelok ke halaman, dan itu cukup untuk membuat perutku mengencang.
Hampir pukul sembilan malam. Mobil papa sudah lebih dulu terparkir di sebelah pagar, mesinnya masih berbau panas. Mas Indra mematikan mesin dan tidak langsung turun. Kedua tangannya masih di setir.
"Dek, kalau adek mau menunggu di mobil..."
"Adek ikut masuk." Aku melepas sabuk pengaman. "Mas tidak sendirian lagi, ingat? Itu yang kita janjikan di pematang."
Ia menoleh, dan sesuatu yang kecil dan pasti tampak di matanya. Ia mengangguk sekali, mengambil amplop cokelat dari dasbor, dan turun.
Bibi membuka pintu sebelum kami sempat mengetuk. Ia berdiri di balik daun pintu dengan kerudung yang miring dan mata sembap, dan ketika melihatku ia menutup mulut dengan telapak tangan.
"Mba pulang."
"Aisyah pulang, Bi. Ibu bagaimana?"
"Masih di dalam, Mba. Bapak sudah dua kali mengetuk. Ibu tidak jawab." Bibi mundur memberi jalan. "Bapak di ruang tamu."
Papa duduk di sofa panjang dengan jas yang sudah ia lepas dan lipat di sandaran. Di meja depannya ada gelas teh yang tidak tersentuh. Begitu melihat kami berdua masuk, ia berdiri.
"Duduk," katanya kepada Mas Indra. Lalu kepadaku, lebih pelan, "Nak, kamu juga."
Papa tidak menunggu lebih lama. Ia berjalan ke lorong, ke pintu kamar tamu, dan mengetuk tiga kali dengan buku jari.
"Ma. Keluar. Indra dan Aisyah sudah pulang."
Hening. Aku menahan napas. Bunyi detik jam dinding terdengar terlalu keras.
"Ma," ulang papa, kali ini tanpa nada memohon. "Papa tidak akan mengetuk lagi."
Kunci diputar dari dalam. Pintu terbuka sejengkal, lalu lebar. Mama berdiri di ambangnya dengan mukena yang belum dilepas dan wajah yang jauh lebih kurus dari yang kuingat sepekan lalu. Matanya merah di tepinya, tetapi dagunya terangkat seperti biasa. Ia melihat papa. Ia melihat Mas Indra. Dan ketika matanya sampai padaku, rahangnya mengeras.
"Dia pulang juga," katanya.
"Duduk, Ma," ujar papa.
Mama duduk di kursi tunggal, tegak, dengan kedua tangan terlipat di pangkuan. Jarinya memutar gelang emas tuanya, pelan, berulang.
Mas Indra tetap berdiri. Aku melihat tangannya memegang amplop sampai plastik tipisnya berbunyi. Papa tidak memintanya duduk lagi.
"Ma," kata Mas Indra. "Indra mau bicara."
"Bicara apa? Sudah minta maaf pada istrimu? Sudah puas?"
"Aisyah tidak bermasalah." Suaranya bergetar di dua kata pertama, lalu mantap. "Yang bermasalah Indra."
Mama berkedip. "Maksudmu?"
Mas Indra menyodorkan amplop itu bukan kepada mama, melainkan kepada papa. "Pa, ini hasil pemeriksaan Indra. Dua kali, di dua tempat. Indra menyimpannya berbulan-bulan." Ia menelan ludah. "Jumlah dan gerak jauh di bawah normal. Dokter bilang peluang alami kecil, tapi bukan nol, dan bisa dibantu dengan pengobatan. Indra sudah minum obatnya sejak lama."
Papa mengambil lembaran itu, membacanya perlahan dengan kacamata yang ia keluarkan dari saku kemeja. Mama memandangi wajah papa, bukan kertasnya, seolah ia sedang menunggu hukuman dibacakan dari ekspresinya.
Papa selesai membaca. Ia melipat kertas itu rapi, menaruhnya di meja, dan hanya berkata, "Terima kasih sudah berani bilang, Ndra."
"Itu bohong," kata Mama.
Suaranya datar dan rapuh. Semua kepala menoleh.
"Itu bohong. Anak Mama tidak mungkin..." Ia berhenti, lalu menoleh tajam padaku. "Kamu. Kamu yang membujuknya berbohong, supaya semua kesalahan jatuh pada anak Mama. Dua lembar kertas bisa dibeli, Aisyah. Kamu pikir Mama tidak tahu cara perempuan seperti kamu menyelamatkan diri?"
Aku merasakan kata itu menghantam tepat di tempat yang sama seperti dulu. Tetapi aku sudah belajar. Aku tidak menjawab, dan tidak menunduk.
"Cukup, Ma."
Suara itu bukan suara papa. Suara itu datang dari seseorang yang berdiri tiga langkah dari mama, dengan wajah yang pucat dan tangan yang terkepal di sisi tubuh. Ruang tamu mendadak seperti kehilangan udara.
Mas Indra belum pernah menaikkan suaranya kepada mama. Aku tahu itu dari cara Bibi, yang berdiri di ujung lorong, menekap dadanya.
"Cukup, Ma," ulangnya, kali ini dengan suara yang lebih rendah tetapi lebih berat. "Aisyah tidak membujuk Indra. Aisyah bahkan tidak tahu isi kertas itu sampai tadi pagi. Indra yang menyimpannya, Indra yang diam, Indra yang takut. Kalau Mama mau marah, marahlah pada Indra. Tapi jangan pernah lagi menyebut istri Indra seperti itu."
Mama menatapnya seolah ia baru saja melihat anak laki-lakinya berubah menjadi orang lain.
"Kamu membentak Mama."
"Indra minta maaf karena nadanya. Tapi bukan karena isinya."
Hening yang menyusul begitu panjang sampai aku bisa mendengar napas Mama tersendat. Bibirnya bergetar. Ia berdiri dengan gerak tiba-tiba, kursinya bergeser mundur dengan bunyi menyakitkan di lantai.
"Kalian semua sama," katanya, suaranya bergetar. "Kalian semua sama."
Ia berjalan cepat ke lorong. Pintu kamar tamu dibanting begitu keras sampai foto pernikahan kami di dinding bergetar dan nyaris jatuh. Kunci diputar dua kali.
Bibi memejamkan mata. Mas Indra berdiri mematung, napasnya naik turun, dan baru ketika papa menyentuh bahunya aku melihat tangannya gemetar hebat.
"Duduk, Ndra," kata papa. Mas Indra jatuh ke sofa, dan aku langsung duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin dan basah.
Papa tidak ikut duduk. Ia menatap pintu kamar tamu yang tertutup itu, bahunya yang lebar tampak menyusut di bawah lampu ruang tamu. Ia mengambil jasnya dari sandaran, merapikannya, lalu mengenakan kembali seolah akan menghadiri sesuatu yang tidak bisa ia tunda.
"Papa perlu bicara dengan Mama," katanya pelan. "Berdua. Malam ini."
Ia mengetuk pintu kamar tamu sekali, memanggil nama mama dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya, lembut dan lelah. Entah apa yang membuat kunci itu akhirnya berputar. Pintu terbuka seukuran satu tubuh. Papa masuk, dan daun pintu menutup di belakangnya dengan bunyi pelan.
***
Dapur terasa hangat dan terlalu terang untuk malam seperti itu.
Aku membuka rantang kecil dari Mama yang masih kubawa, memindahkan lodehnya ke panci, dan menyalakan kompor kecil-kecil. Bibi berdiri di dekatku tanpa bicara, mengambil mangkuk, mengelapnya dua kali padahal sudah bersih.
"Mba, biar Bibi."
"Bibi duduk saja. Bibi pasti belum makan juga."
Bibi tersenyum dengan matanya yang basah, tetapi ia tidak duduk. Ia mengambil piring lain dan mulai menata nasi.
Mas Indra duduk di kursi makan, masih dengan jaketnya, memandangi taplak meja tanpa melihat apa pun. Ketika aku menaruh mangkuk lodeh di depannya, ia mengangkat wajah.
"Dek, Mas tidak lapar."
"Adek tahu. Makan saja sedikit." Aku duduk di seberangnya. "Mas bilang tadi, Mas tidak mau menyiksa diri lagi."
Ia menatap mangkuk itu, lalu aku. Ia mengambil sendok. Gerakannya pelan, seperti orang yang mengangkat beban, tetapi ia menyuap, mengunyah, dan menelan. Setelah suapan ketiga, bahunya yang kaku turun sedikit.
"Mas tadi membentak Mama," katanya pelan.
"Iya."
"Mas tidak pernah..."
"Adek tahu."
"Dan Mas tidak menyesal isinya." Ia memandang sendok di tangannya. "Itu yang menakutkan."
"Itu bukan menakutkan, Mas." Aku menggeser gelas air ke arahnya. "Itu Mas berdiri di tempat yang benar."
Dari lorong yang menyusuri kamar tamu, terdengar sesuatu. Awalnya hanya gumam, suara papa yang rendah dan tertahan, lalu hening panjang. Bibi berhenti mengelap, kepalanya miring ke arah dinding. Mas Indra menaruh sendoknya.
Kemudian suara lain terdengar, serak dan retak, suara yang tidak kukenali sebagai milik mama, bergetar di balik pintu yang tertutup.
"Bertahun-tahun, Pa," kata suara itu. "Bertahun-tahun Mama menanggungnya sendirian, dan kamu masih tanya kenapa Mama begini?"