Pintu kamar tamu baru terbuka lewat subuh, dan yang keluar dari sana adalah papa, bukan mama.
Aku sudah duduk di meja makan sejak azan, dengan teh yang tidak kuminum. Mas Indra duduk di sampingku, matanya sembap karena tidur di sofa ruang kerja yang terlalu pendek untuk badannya. Bibi bolak-balik antara kompor dan meja dengan gerak yang terlalu sibuk untuk orang yang tidak mengerjakan apa-apa.
Papa menutup pintu di belakangnya pelan-pelan. Kemejanya kusut, lengannya digulung sembarangan, dan wajahnya abu-abu. Orang yang semalaman berbicara, kataku dalam hati, wajahnya selalu begitu.
"Mama tidur," katanya sebelum ada yang bertanya. "Jangan dibangunkan."
"Pa..." ujar Mas Indra.
"Nanti, Ndra. Bukan sekarang." Papa menarik kursi di ujung meja dan duduk perlahan. Ia menatap teh di depannya, tapi tidak menyentuhnya. "Papa tidak akan menceritakan apa yang Mama katakan malam tadi. Itu bukan hak Papa. Tapi ada hal lain yang Papa mau dengar. Dari kamu, Nak."
Ia menoleh padaku. Mata yang di ruang kerja dulu pernah menatapku lurus tanpa menghakimi kini lebih tua beberapa tahun.
"Bisikan Mama di hari kedua. Indra sudah cerita bahwa kamu menyimpannya. Papa mau dengar langsung, utuh, seperti yang Mama ucapkan. Di depan Indra, supaya tidak ada yang bisa mengubah ceritanya."
Mas Indra menggenggam tanganku di bawah meja. Aku mengangguk.
Aku bercerita lagi, kata demi kata, seperti di pematang kemarin. Kali ini tidak ada angin dan padi yang menahan suaraku, hanya bunyi jam dinding dan denting sendok di dapur yang tiba-tiba berhenti. Papa mendengarkan tanpa memotong. Ketika aku sampai pada bagian "Indra akan menurut," ia memejamkan mata, dan kulihat urat di pelipisnya berdenyut.
"Setahun," gumamnya. "Dia menetapkan tenggat, di bawah atap Papa, di hari kedua."
"Papa tidak tahu?" tanya Mas Indra.
"Papa tahu Mamamu keras. Papa tidak tahu sejauh itu." Papa membuka mata. "Dan itu bukan pembelaan, Ndra. Itu bagian dari kesalahan Papa."
Dari arah dapur terdengar bunyi piring jatuh, tidak pecah, hanya berdentang di lantai. Kami bertiga menoleh.
Bibi berdiri di ambang pintu dapur dengan kedua tangan terlipat di depan perut, wajahnya pucat seperti kapas. Piring yang jatuh itu tergeletak di dekat kakinya.
"Bapak," katanya. Suaranya hampir tak terdengar. "Bibi mau bicara."
"Bibi duduk dulu," kata papa lembut.
"Bibi berdiri saja." Ia meremas ujung dasternya. "Bibi sudah bertahun-tahun di rumah Bapak. Bibi tidak pernah bicara apa pun tentang Ibu. Tapi Bibi... Bibi tidak sanggup lagi."
Ia menarik napas sampai bahunya naik.
"Ibu sering telepon Bu Ratih. Bisik-bisik, di kamar, sampai tengah malam. Bibi dengar waktu bawa teh. Ibu bilang Mba Aisyah harus menyerah, bilang Mba Aisyah pasti angkat kaki kalau terus ditekan. Dan uang, Pak. Ibu kasih uang ke Bu Ratih tiap pekan, dari tabungan Ibu sendiri. Bibi disuruh ambilkan buku tabungan dua kali. Bibi... Bibi takut."
Hening di meja makan itu tebal sekali. Papa tidak bergerak. Mas Indra yang bergerak lebih dulu: ia berdiri, melewati meja, dan berhenti di depan Bibi.
"Bi," katanya.
Bibi menunduk.
"Dulu Indra bilang Bibi menjelek-jelekkan Mama, di depan Aisyah. Indra melarang Aisyah percaya Bibi." Suaranya serak. "Indra salah. Indra minta maaf."
Bibi mengangkat wajah, dan air matanya langsung jatuh. "Den..."
"Indra tidak pantas dimaafkan secepat itu. Tapi Indra minta."
"Den Indra sudah Bibi anggap anak Bibi sendiri," kata Bibi, terisak. "Mana mungkin Bibi dendam."
***
Papa meminta kami pindah ke ruang kerja, supaya suara tidak merembes ke kamar tamu.
Ruang kerja itu kecil. Sofa panjang yang semalam menampung Mas Indra masih berbantal, selimutnya terlipat asal. Papa duduk di kursi kerja, kami bertiga di sofa dan tikar tipis di lantai, Bibi di kursi lipat dekat pintu.
"Nak," kata papa. "Bibi bilang ada rekaman?"
Aku sudah menyiapkan ponsel. Satu kali, aturan yang kutetapkan pada diriku sendiri berminggu-minggu lalu, dan aku tidak melanggarnya malam ini pun: hanya satu klip yang kutunjukkan, tidak yang lain.
"Kamera di pagar, Pa. Aisyah pasang supaya ada catatan siapa yang datang. Waktu Mama pindah ke sini, Aisyah lihat Bu Ratih datang tujuh kali dalam empat pekan, selalu ketika Mas Indra di kantor dan Aisyah keluar." Aku menekan layar. "Ini yang terakhir."
Layar kecil itu terasa terlalu sempit untuk memuat sebanyak ini. Aku memegang ponsel dengan dua tangan agar tidak gemetar, dan baru ketika papa mencondongkan badan aku sadar Mas Indra juga menahan napas di sampingku.
Gambar itu kasar dan tanpa suara. Teras rumah kami dalam cahaya siang, mama dengan gamis abu-abu, Bu Ratih dengan tas besar di bahu. Mama mengulurkan amplop cokelat tebal. Bu Ratih menerimanya, memasukkannya ke tas dengan gerak cepat yang sudah terlatih, dan membungkuk sedikit seperti orang yang menerima gaji.
Papa menonton sampai rekaman berakhir. Lalu ia minta diputar sekali lagi. Dan sekali lagi.
"Tabungan Mama," katanya lirih, hampir kepada dirinya sendiri. "Papa kira tabungan itu untuk umrah."
Ia menaruh ponsel itu di meja, perlahan, seperti benda yang bisa pecah. Lama ia memandangi permukaan meja yang kosong.
"Papa yang membiarkan ini bertahun-tahun," katanya. Bukan kepada kami. Ke udara di antara kami. "Yang Papa sebut ketenangan, Nak, ternyata Papa membayarnya dengan kamu. Dengan Indra. Dengan Bibi."
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang berkata tidak. Itu cara menghormati papa yang paling jujur: membiarkan kalimatnya selesai.
Bibi mengangkat tangan kecil, seperti anak sekolah. "Bapak. Satu lagi."
"Katakan, Bi."
"Semalam, sesudah Ibu membanting pintu, ponselnya ketinggalan di kursi ruang tamu. Bibi mau mengantar, dan layarnya menyala. Dari 'Dek Ratih'." Ia menelan ludah. "Pesannya: 'Sabtu aku ke sana. Uang bulanan jangan lupa, Mbak.' Bibi tidak berani menghapus."
Papa menutup mata sebentar, lalu membukanya. Dan kali ini ada sesuatu di sana yang tidak kulihat selama ini di wajahnya: bukan marah, bukan sedih. Keputusan.
"Pa," kata Mas Indra. Suaranya mantap, lebih dari yang kuduga. "Indra ikut menunggu."
"Kamu yakin?"
"Indra tidak mau lagi bersembunyi di belakang pintu." Ia melirikku sekilas, dan aku tahu kalimat itu bukan hanya untuk papa. "Kalau ada yang harus berdiri di gerbang, biar Indra berdiri bersama Aisyah."
Papa memandang kami berdua. Ada sesuatu yang bergerak di sudut matanya, mungkin lega, mungkin iri pada keberanian yang datang terlambat untuk dirinya sendiri.
"Kalau begitu," katanya, "Sabtu kita tunggu Bu Ratih di gerbang."