Kami sudah menunggu di halaman sejak pukul sembilan. Bibi mengintip dari balik tirai, dan Mas Indra sempat berbisik di telingaku, "Dek, kalau Mas mundur, tarik tangan Mas." Aku menjawab, "Adek tarik," dan itu sudah cukup untuk menenangkan kami berdua.
Ojek berhenti di depan pagar pukul sepuluh lewat, dan perempuan yang turun dari boncengannya mengenakan gamis hijau zaitun yang rapi, kerudung yang disetrika, dan tas besar yang kukenali dari rekaman.
Aku berdiri di belakang papa, sedikit ke samping, di bawah bayangan pohon jambu. Mas Indra di sisi kiriku, bahunya hampir menyentuh bahuku. Dari tadi pagi ia tidak berkata apa-apa, tetapi setiap kali aku menoleh, ia sudah menatapku lebih dulu, seperti memastikan aku masih di sana.
Bu Ratih membayar ongkos, merapikan kerudungnya di kaca spion ojek, lalu mendorong pagar kecil. Ia berhenti begitu melihat siapa yang berdiri di jalan setapak.
"Loh." Senyumnya naik cepat, lebar, dan sempurna. "Pak, selamat pagi. Saya kira Mbak yang..."
"Mbak masih di dalam," potong papa. "Selamat pagi, Bu Ratih."
Papa tidak membuka pagar lebih lebar. Ia berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung di tengah jalan setapak, dan itu cukup untuk membuat siapa pun mengerti bahwa pintu tidak dibuka.
"Saya ke sini mau lihat Mbak." Bu Ratih mengeluarkan tisu dari tasnya dan menepuk-nepuk pelipis. "Najwa baru melahirkan dua hari lalu, Pak. Perempuan, prematur, tapi alhamdulillah sehat. Tapi biaya rumah sakit... Mbak sudah janji."
"Janji apa?"
"Uang bulanan, Pak. Yang selama ini."
"Yang selama ini," ulang papa. "Boleh saya tahu uang bulanan untuk apa?"
Wajahnya berkedut sebentar, hampir tidak terlihat. "Untuk Najwa, tentu. Dia ibu yang kesepian, Pak, dan Mbak sangat sayang pada..."
"Pak Handoyo sudah menanggung biaya rumah sakit dan nafkah anak itu," ujar papa datar. "Saya sendiri yang menjemputnya Minggu itu. Dia sudah bicara dengan Pak Warto dan Bu Fitri. Jadi saya ulangi: uang bulanan untuk apa, Bu Ratih?"
Kali ini Bu Ratih tidak menjawab. Matanya bergeser cepat dari papa ke Mas Indra, lalu ke arahku, dan di sana mereka berhenti. Senyumnya tetap menempel di wajah, tetapi kini terlihat seperti topeng yang dilekatkan terlalu tergesa.
"Nak Aisyah," katanya manis. "Kamu juga di sini. Sudah baikan dengan Mbak?"
"Bu Ratih," kataku. "Aisyah ada yang mau ditunjukkan."
Aku mengangkat ponsel dan menekan layar. Satu klip, sama seperti yang kutunjukkan kepada papa dua hari lalu. Teras. Siang. Mama dengan gamis abu-abu. Amplop cokelat tebal berpindah tangan.
Bu Ratih menonton dengan dagu terangkat. Namun ketika amplop itu masuk ke tas dan wajahnya sendiri tampak di layar membungkuk sedikit, seperti orang menerima gaji, senyum di wajahnya akhirnya runtuh, bukan perlahan, tetapi sekaligus.
"Kamu merekam saya."
"Kamera pagar kami merekam siapa pun yang datang, Bu."
"Itu pinjaman," desisnya. "Itu bukan..."
"Pinjaman yang tidak pernah ditagih sampai tujuh kali dalam empat pekan?" Mas Indra bersuara untuk pertama kalinya, pelan tetapi jelas. "Bu Ratih, Indra mau tahu satu hal. Kenapa Mama memberi Ibu uang?"
"Karena Mbak tahu aku yang paling mengerti kebutuhannya!" Suaranya meninggi tiba-tiba, kehilangan semua kemanisan. "Karena Mbak butuh seseorang yang tidak lemah! Kamu tidak tahu Mbak menunggu apa sepanjang hidupnya, Indra. Kamu tidak tahu apa yang dia korbankan!"
"Bu Ratih," kata papa.
"Mbak sendiri yang bilang!" Ia mengabaikan papa dan melangkah maju, telunjuknya menunjuk ke arahku seperti menunjuk benda. "Mbak sendiri yang bilang di kamar itu, tidak peduli siapa istri Indra, asal ada cucu! Tidak peduli! Dan gadisnya sudah saya carikan! Sudah saya siapkan! Kalian mau tahu berapa lama saya mengurus ini? Berbulan-bulan! Dan sekarang kalian bilang saya tidak boleh ambil upah saya?"
Kalimat itu menggantung di udara pagi seperti benda yang jatuh dari tempat tinggi dan belum menyentuh tanah.
Aku merasakan Mas Indra menegang di sampingku.
Lalu aku mendengar sesuatu di belakang kami. Bunyi kecil, nyaris tak terdengar, dari engsel pintu teras.
Mama berdiri di ambang pintu rumah dengan kerudung instan yang terpasang miring. Wajahnya putih seperti kertas. Satu tangannya memegang kusen, tangan satunya, yang bergelang emas tua itu, gemetar hebat sampai gelang itu berdenting pelan. Ia mendengar semuanya. Aku tahu itu dari cara bibirnya terbuka tetapi tidak ada suara yang keluar.
Bu Ratih menoleh. Wajahnya berubah ketika melihat mama, dari marah menjadi pucat, dari pucat menjadi sesuatu yang lebih kecil dan lebih licik.
"Mbak," katanya, suaranya mendadak lemah, "Mbak, saya bisa jelaskan..."
"Jangan injak rumah ini lagi," kata papa.
Ia tidak berteriak. Ia tidak menaikkan suaranya sedikit pun. Tetapi kalimat itu keluar dalam nada yang tidak memberi ruang untuk satu kata tambahan.
Bu Ratih menatap papa, menatap Mas Indra, menatapku. Lalu matanya tertuju pada mama, dan ia berdiri lama di sana dengan tatapan yang tidak bisa kubaca seluruhnya. Ada kebencian di dalamnya, ya. Tetapi juga sesuatu yang lebih buruk: seperti orang yang baru sadar semua yang ia andalkan sudah lepas, dan tidak ada lagi yang bisa disalahkan selain orang di depannya.
Ia membalikkan badan dan keluar dari pagar. Siapa pun tak menahannya. Ojeknya sudah pergi; ia berjalan kaki, bahunya tegak, tasnya diayun di sisi tubuh, dan sampai ujung jalan ia tidak menoleh lagi.
***
Ketika aku berbalik, mama sudah tidak berdiri di ambang pintu.
Aku masuk lewat ruang tamu yang kosong. Kursi tunggal tempat ia duduk malam itu masih berada di posisi yang sama, sedikit miring. Dari lorong aku mendengar pintu kamar tamu tertutup. Tidak dibanting. Ditutup pelan, hampir hati-hati, seperti seseorang yang tidak lagi punya tenaga untuk marah.
Mas Indra menyusulku di lorong dan berhenti satu langkah di belakangku. Ia mengulurkan tangan ke arah bahuku, lalu menariknya setengah jalan.
"Boleh, dek?"
"Boleh."
Tangannya hangat dan berat di bahuku. Itu cukup untuk membuatku berdiri di depan pintu itu dengan tangan terangkat.
"Ma?"
Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk, dua kali, sangat pelan. "Ma. Ini Aisyah. Aisyah tidak mau masuk kalau Mama tidak mau. Aisyah cuma mau bilang..." Aku berhenti, tidak tahu harus bilang apa. "Aisyah cuma di sini."
Hening. Lalu dari balik pintu terdengar bunyi samar, bukan tangis, bukan kata-kata. Bunyi gelang emas tua yang diputar-putar tanpa henti, logam bertemu kulit, berdenting satu per satu dalam sunyi.
Mama tidak menjawab ketukanku.