Baki bubur itu kembali ke dapur pukul tiga sore, dan isinya berkurang sesendok.
Aku menatapnya lama di atas meja. Sejak Sabtu, sejak Bu Ratih pergi, mama tidak pernah keluar kamar tamu. Pintunya terkunci siang dan malam, hanya dibuka sejengkal setiap kali Bibi mengetuk dan mengulurkan baki, lalu ditutup lagi sebelum Bibi sempat mengucapkan apa pun. Piring-piring kembali hampir utuh. Gelas teh kembali dingin.
"Sudah begini sejak Sabtu, Mba," bisik Bibi. "Bibi takut Ibu sakit."
"Besok Aisyah yang antar, Bi."
"Ibu tidak akan buka."
"Tidak apa-apa. Aisyah letakkan saja di depan pintu."
Itu yang kulakukan malam sesudahnya, dan paginya, dan siang tadi: bubur, teh hangat, sepiring kecil pisang rebus yang menurut Bibi dulu kesukaan Ibu waktu muda. Aku tidak mengetuk lagi. Aku hanya menaruh baki di lantai di depan pintu dan berkata pelan, "Mama, makan dulu ya. Aisyah di dapur kalau Mama perlu."
Senin sore baki itu kembali kosong separuh. Dari pisang rebus itu, sebiji pun tidak tersentuh, tetapi bubur berkurang setengah mangkuk. Itu cukup membuat Bibi menangis di wastafel.
***
Selepas Isya malam itu, papa mengetuk pintu ruang kerja tempat Mas Indra membaca dan aku menemaninya di sofa.
"Bawa tikar," katanya. "Kita ke belakang."
Halaman belakang rumah kami sempit, hanya selebar jemuran dan dua pot tanah liat kosong yang kubeli diam-diam beberapa pekan lalu, bersandar ke tembok. Langit malam itu jernih. Jangkrik bersahutan di rerumputan, dan dari arah dapur terdengar air menetes dari keran yang belum kencang. Papa duduk di atas tikar, bersila, tidak bersandar apa pun. Kami duduk di hadapannya.
"Papa mau cerita," katanya. "Bukan supaya kalian memaafkan Mama. Supaya kalian mengerti, itu saja."
Mas Indra mengangguk. Aku merapikan ujung kerudung, merasakan dinginnya tanah di bawah tikar.
"Mama menikah dengan Papa, dan Indra baru lahir sembilan tahun sesudahnya."
Aku menoleh cepat. Mas Indra membeku di sampingku.
"Sembilan tahun," ulang papa pelan. "Sembilan kali Ramadan Mama duduk di meja makan keluarga besar dan mendengar orang bertanya, kapan, kapan, kapan. Sembilan kali lebaran, mama dipandangi seperti barang yang rusak. Tak seorang pun mengucapkannya keras, Nak. Orang kita pandai bicara tanpa bicara."
"Pa," bisik Mas Indra. "Indra tidak pernah tahu..."
"Karena Papa tidak pernah cerita." Papa menatap tanah di antara lututnya. "Kalau Papa bercerita, Papa harus mengaku diamnya sendiri, dan Papa pengecut untuk itu. Nenekmu, ibu Papa, ingin cucu. Itu wajar. Tetapi keinginan yang wajar kalau dibiarkan tumbuh sendiri bisa jadi sesuatu yang lain. Tahun keenam, Nenek mulai membawa foto. Anak teman ini, anak teman itu. Tahun kedelapan, Nenek berhenti membawa foto dan mulai membawa orangnya."
Napasku berhenti sebentar. Aku teringat Najwa, Bu Ratih, dan seorang gadis tanpa nama di balik rencana yang sudah gagal. Pola itu bukan baru. Pola itu sudah bertahun-tahun sebelum aku lahir.
"Papa menolak," lanjut papa. "Tiap kali. Papa bilang tidak, tidak akan ada perempuan kedua di rumah ini. Tapi Papa bilang itu di kamar. Berdua dengan Mama, dengan pintu tertutup." Ia mengangkat wajah. Cahaya lampu dapur menyorot garis-garis lelah di sekitar matanya. "Di meja makan, di depan Nenek, Papa diam. Papa tidak membela Mama cukup keras. Papa bilang pada diri sendiri, Papa tidak mau ribut dengan ibu Papa. Papa bilang, yang penting Papa tidak menikah lagi."
"Itu cukup, Pa," kata Mas Indra.
"Tidak cukup." Suara papa tidak naik, tetapi tegas. "Bagi Mama, sembilan tahun diam Papa sama beratnya dengan satu foto yang dibawa Nenek. Malam Indra lahir, Mama menggendongmu, Ndra, dan bersumpah di telinga Papa: tidak akan ada perempuan lain di rumah ini yang gagal memberi cucu. Tidak ada. Papa kira itu sumpah syukur. Ternyata sumpah luka."
"Gelang itu," kataku, sebelum sempat menahan diri.
Papa menoleh. "Kamu perhatikan. Nenek memasukkannya ke tangan Mama sehari sesudah Indra lahir, sambil bilang satu kata saja: akhirnya. Mama memutar gelang itu tiap kali merasa sedang ditimbang. Papa sudah bertahun-tahun melihatnya, dan tidak pernah bertanya kenapa."
Jangkrik berhenti sebentar. Atau aku yang berhenti mendengarnya.
"Jadi ini bukan soal kamu, Nak," papa menatapku. "Bukan soal Indra. Mama menghitung setahun di kalender kecilnya karena bertahun-tahun yang lalu tidak ada yang berhenti menghitung untuk Mama. Papa tidak membenarkan caranya. Papa cuma ingin kamu tahu dari mana ia belajar."
"Indra mengulangi Papa," kata Mas Indra, lirih, nyaris kepada tanah. "Diam di meja makan, bicara hanya di kamar."
"Kamu mengulangi Papa, dan Papa mengulangi Nenek." Papa mengangguk pelan. "Rantainya panjang, Ndra. Malam ini Papa mau memutusnya, kalau kalian mau membantu Papa memegang ujungnya."
Mas Indra mengulurkan tangan, dan papa, tanpa kata, menggenggamnya. Dua laki-laki itu duduk di atas tikar dengan tangan terpaut di antara lutut mereka, tidak saling memandang, dan aku menunduk karena merasa sedang menyaksikan sesuatu yang terlalu pribadi untuk dilihat.
Aku membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang cocok. Di sebelahku Mas Indra menutup wajah dengan kedua tangan.
"Cukup, Pa."
Suara itu datang dari belakang kami. Kami bertiga menoleh.
Mama berdiri di ambang pintu dapur, bayangannya jatuh panjang ke halaman. Ia mengenakan kerudung instan yang miring dan gamis rumah yang kusut, wajahnya sembab sampai matanya hampir tertutup. Tasbih di tangannya sudah berhenti bergerak. Kakinya yang telanjang menginjak lantai semen dingin, seperti orang yang keluar tanpa sempat memikirkan apa-apa.
"Cukup," ulangnya, lebih pelan. "Mama tidak butuh Papa menjelaskan Mama kepada anak-anak."
"Ma..." kata papa.
"Jangan." Ia mengangkat tangan, lalu menatap tepat padaku. Tatapan yang sama seperti hari pertama di rumahnya, tajam, bukan karena benci, tetapi karena tidak tahu cara lain menatap. "Kamu puas?"
Mas Indra bergerak hendak berdiri. Aku menahan lengannya dengan satu sentuhan. Lalu aku berdiri sendiri, pelan, dan menghadap mama.
"Tidak, Ma."
Mama menyipitkan mata, seolah jawaban itu pernah ia dengar.
"Di lorong rumah sakit dulu Mama bertanya begitu juga, dan Aisyah menjawab sama, waktu itu sambil gemetar." Suaraku tenang, lebih tenang dari yang kuduga dari diriku. "Sekarang Aisyah tidak gemetar. Aisyah tidak pernah ingin menang dari Mama, dan Aisyah tidak puas melihat Mama begini. Tapi Aisyah juga belum lupa apa yang Mama katakan kepada Bapak di teras. Dua-duanya benar. Aisyah tidak bisa memilih salah satunya."
Hening panjang. Mama menatapku seolah mencari tempat yang bisa ia dorong, dan tidak menemukan apa pun kecuali jawaban yang jujur.
Lalu bahunya runtuh.
Bukan sekaligus. Mula-mula dagunya bergetar, lalu bibirnya, lalu kedua tangannya jatuh ke sisi tubuh. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, dan dari balik tangan itu suara yang keluar bukan suara yang pernah kudengar darinya: kecil, serak, dan retak.
"Tidak ada yang pernah minta maaf pada Mama," katanya terputus-putus. "Sembilan tahun. Tidak satu pun. Mama tidak tahu caranya, Pa. Mama tidak tahu caranya."