Papa yang pertama bergerak. Ia menyeberangi halaman dalam tiga langkah panjang, tidak menjawab apa pun yang tadi dikatakan mama, dan melingkarkan lengannya di bahu istrinya seperti yang tak pernah ia lakukan di depan orang lain.
"Pa, Mama..." Suara mama hilang di kerah baju papa.
"Papa di sini."
Mas Indra berdiri kaku dengan tangan setengah terangkat, tidak tahu harus menyentuh siapa. Aku ke dapur, mengisi segelas air putih dengan tangan yang baru sekarang terasa gemetar, lalu berlutut di depan mama dan menaruh gelas itu di tangannya.
"Minum dulu, Ma."
Mama minum dua tegukan dengan mata kosong, kemudian menatapku lama, seperti hendak mengatakan sesuatu yang belum punya bentuk.
"Mama mau masuk," bisiknya akhirnya.
Papa mengantarnya sampai pintu kamar tamu. Pintu itu menutup pelan, tanpa dikunci.
"Biarkan," kata papa kepada kami dari ambang. "Dia perlu sendirian dulu. Besok, kalau Mama keluar, jangan ada yang menanyakan apa pun."
Mas Indra mengangguk. Aku menatap pintu yang tidak dikunci itu lama sekali, dan sadar bahwa untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan sebuah pintu di rumah ini ditutup tanpa maksud melarang siapa pun.
***
Bunyi sendok beradu dengan gelas kaca membangunkanku sebelum azan, pelan dan teratur, dan datangnya dari dapur.
Aku turun dengan sandal rumah di tangan supaya anak tangga tidak berderit. Bibi tidak mungkin sudah bangun; kamar kecilnya di belakang masih gelap, dan Bibi tidak pernah memakai sendok sepelan itu. Cahaya kuning merembes dari ambang dapur ke lorong. Aku melangkah ke sana dan berhenti.
Mama berdiri di depan kompor, membelakangiku. Kerudung instannya rapi hari ini, gamisnya berganti yang bersih, dan di meja ada dua cangkir tanpa gagang dari rak paling atas, yang sudah lama tidak dipakai siapa pun. Ia sedang menuang air mendidih ke dalam teko kecil dengan tangan yang tidak gemetar.
"Mama?"
"Duduk, Aisyah." Ia tidak menoleh. "Teh Mama belum jadi."
Dua hari sejak malam itu, mama keluar kamar hanya untuk makan di meja, diam, lalu masuk lagi. Papa tidak memaksa. Mas Indra menyodorkan lauk ke piring mama tanpa banyak bicara, dan mama menerima tanpa membalas. Subuh ini adalah pertama kalinya ia memilih datang ke tempatku sendiri.
Aku duduk di kursi makan. Mama menyeduh dua cangkir, satu untukku, satu untuknya, dan duduk di seberangku. Uap naik tipis di antara kami. Ia memutar cangkir sekali, dua kali, lalu menaruh telapak tangannya yang kurus di atas meja.
"Mama bilang setahun," katanya.
Aku menunggu.
"Mama bilang setahun, dan Mama kira itu cuma kalimat. Mama kira waktu Mama menghitung, yang berubah cuma Mama." Matanya tidak melihatku. Matanya melihat uap teh. "Mama tidak tahu itu membuat anak Mama dingin pada istrinya."
"Mama..."
"Biar Mama selesai." Ia mengangkat satu jari, bukan memerintah, lebih seperti meminta. "Mama sudah mendengar Papa. Mama sudah mendengar Indra bentak Mama. Mama sudah melihat klip dari kamera pagar itu, yang kamu kirim ke ponsel Papa. Papa memutarnya pelan-pelan, empat kali, di kamar, sampai Mama tidak bisa bilang itu bukan Mama." Suaranya merendah. "Dua puluh delapan tahun Mama bersumpah tidak ada yang boleh gagal di rumah ini. Ternyata yang gagal Mama sendiri."
Aku menggenggam cangkir erat-erat agar tanganku tidak ikut bergetar. Teh itu panas sekali, tetapi aku membiarkannya.
"Mama minta maaf," katanya akhirnya.
Tiga kata itu keluar tanpa nada. Kata yang sudah terlalu lama dipendam sampai bentuknya kehilangan sudut. Ia sendiri tampak terkejut mendengarnya, seperti orang yang menemukan sesuatu di saku jaket lama.
"Itu kecil, Mama tahu," tambahnya cepat. "Maaf di dapur, pagi-pagi, tidak sebanding dengan apa yang Mama katakan pada orang tuamu."
Hening sebentar. Dari luar, azan subuh mulai terdengar samar dari musala di ujung perumahan. Mama mendongak mendengarkannya, seperti sedang menunda sesuatu.
"Mama tahu Indra tidur di sofa ruang kerja," katanya tiba-tiba. "Mama tidak buta."
"Itu urusan kami, Ma." Aku mengatakannya pelan, tanpa menantang.
"Iya." Mama mengangguk, sekali. "Itu urusan kalian. Mama tidak akan bertanya."
Aku menatapnya. Mungkin itu bagian dari maaf yang tidak ia ucapkan dengan kata: tahu persis kapan berhenti masuk ke ruang yang bukan miliknya.
Aku meletakkan cangkir. Aku sudah menyusun kalimat ini berulang-ulang dalam kepala, di atas ranjang yang separuh kosong, di pematang, di depan pintu kamar tamu. Sekarang aku tahu tak satu pun versi hafalan itu cocok. Aku memutuskan bicara dengan yang ada.
"Ma. Aisyah dengar Mama. Aisyah menerima kata itu." Aku berhenti sebentar. "Tapi Aisyah tidak mau bohong, nanti Mama tahu. Aisyah belum bisa melupakan."
Mama mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang ia tunggu dan ia takuti sekaligus.
"Aisyah bukan pengganti siapa-siapa, Ma, dan Aisyah bukan lawan. Aisyah tidak pernah ingin menggantikan tempat Mama di hati Mas Indra, dan Aisyah tidak pernah mengambil apa pun dari Mama." Napasku bergetar. "Tapi Aisyah mau menemani Mama, karena Mama sedang sendirian di sini. Dan karena ada yang berhak mendengar maaf itu lebih dari Aisyah."
"Bapakmu."
"Bapak. Dan ibuku, yang menggenggam tanganku waktu itu. Mereka yang mendengar hinaan itu di teras mereka sendiri, Ma. Maaf di dapur ini bagus, tapi belum selesai."
Mama menunduk lama. Ketika ia mengangkat wajah, matanya merah tetapi kering. "Kamu keras kepala."
"Aisyah belajar dari Mama."
Ia mendengus. Dan, sangat tipis, sudut mulutnya bergerak. Itu mungkin senyum paling pendek yang pernah kulihat. Tetapi aku tahu itu senyum.
***
Matahari sudah menembus tirai ruang makan ketika kami sarapan berempat.
Papa duduk di ujung meja dengan koran yang tidak ia baca. Mas Indra di sebelahku, sesekali menatap mama dari sudut mata dengan hati-hati seperti orang yang takut mengejutkan burung. Bibi mondar-mandir membawa nasi goreng yang tidak seharusnya ia masak sepagi itu, tetapi tidak ada yang menegurnya.
Mama makan. Bukan menyuap sesendok sekadar sopan, bukan juga menyisakan separuh seperti hari-hari kemarin, tetapi benar-benar makan, pelan, dengan wajah orang yang sedang belajar kembali bahwa nasi punya rasa. Mas Indra menggeser sepiring tempe goreng ke arahnya.
"Ma, tempenya."
Mama memandang piring itu, lalu anaknya. "Kamu tahu Mama suka tempe?"
"Indra tahu dari kecil, Ma."
"Kamu tidak pernah bilang kamu tahu."
"Indra juga tidak pernah bilang banyak hal." Mas Indra menunduk, tersenyum samar. "Indra sedang belajar."
Papa mengangkat koran lebih tinggi, tetapi bahunya bergetar sedikit. Bibi, di ambang pintu dapur dengan sendok nasi di tangan, menyeka matanya dengan ujung lengan baju dan pura-pura ada asap.
"Bi, kopinya belum," kata papa dari balik koran.
"Sebentar, Pak." Suara Bibi bergetar, tetapi ia tertawa kecil di sela kalimatnya, dan itu bunyi yang sudah lama tidak ada di rumah ini.
Selesai makan, mama menaruh sendoknya, mengelap bibir dengan serbet, dan menyentuh gelang emas di pergelangannya. Bukan memutarnya, hanya menyentuhnya, dengan ujung jari, seperti memeriksa apakah benda itu masih terasa berat.
Koran papa turun perlahan. Mas Indra berhenti mengunyah. Di bawah meja, ujung jarinya menyentuh punggung tanganku, bertanya tanpa suara, dan aku membalik tanganku supaya jawabannya jelas.
"Aisyah," katanya.
"Iya, Ma."
Aku menahan diri untuk tidak menoleh pada siapa pun. Aku tahu betul seberapa besar yang sedang ia minta. Rumah Bapak tidak punya lantai keramik, dapurnya masih tungku kayu, dan teras tempat ia berkata tentang keturunan itu masih berdiri di sana, dengan bangku kayu yang sama.
"Antar Mama ke kampungmu." Matanya hanya padaku. Suaranya rendah, hampir kehilangan tenaga tetapi tidak goyah. "Sabtu ini."