Mama mertua berdiri di teras ketika kami berangkat, dengan gelang emasnya yang tidak diputar-putar lagi, dan hanya berkata, "Hati-hati di jalan." Dua kata biasa. Tetapi ia tidak bertanya ke mana kami pergi, tidak bertanya kapan pulang, dan tidak melirik jam, dan Mas Indra, yang menyadarinya lebih dulu daripada aku, memegang kemudi dengan jari yang lebih santai dari biasanya.
"Mama bilang apa semalam?" tanya Mas Indra tanpa melepas pandangan dari jalan.
Mobil kami berhenti di lampu merah dekat pasar. Pagi Jumat itu langit Bandung berwarna susu, dan di kursi belakang tidak ada siapa pun, hanya tas kecil berisi map cokelat yang sudah dua kali ia periksa sebelum kami berangkat.
"Mama ibuku?" Aku sengaja memperjelas. "Mama cuma bilang, kalau mama mertua mau datang, rumah sudah ada. Tungku sudah ada. Lantai belum keramik, tapi ikat kepala Bapak sudah dicuci."
Mas Indra tertawa kecil, hanya lewat hidung. "Dan Bapak?"
"Bapak tidak bilang apa-apa. Bapak cuma bilang, 'Sok.'" Aku menirukan nadanya yang pendek dan datar. "Satu kata itu cukup, Mas. Kalau Bapak bilang sok, artinya pintu terbuka dan tidak ada yang perlu dipikirkan lagi."
Lampu hijau. Mas Indra menginjak gas pelan-pelan, lalu bertanya tanpa menoleh, "Besok Mas boleh ikut menyetir?"
"Mas mau Mama duduk di sebelah Mas?"
"Tidak. Mas mau Papa yang duduk di sebelah Mas." Ia menelan ludah. "Supaya Mas tidak sendirian di depan."
Aku tidak menjawab. Aku hanya meletakkan tanganku di atas tuas persneling, di samping tangannya, tanpa menyentuhnya. Ia menurunkan pandangan sebentar ke tanganku, lalu kembali ke jalan, dan bahunya yang tegang turun satu senti.
***
Klinik di Jalan Kenanga nomor sebelas itu kali ini tidak kulihat dari seberang jalan. Aku masuk lewat pintu kacanya, duduk di kursi plastik biru, dan membaca poster tentang cuci tangan sampai hurufnya hafal. Mas Indra mengisi formulir dengan pulpen yang ditambatkan benang. Tulisan tangannya rapi, lalu sempat berhenti di kolom status.
"Menikah," katanya pelan, setengah kepada formulir, setengah kepadaku. "Mas selalu mengisinya sendirian."
"Sekarang tidak."
Namanya dipanggil. Ia berdiri, mengulurkan tangan, dan bertanya hampir tak terdengar, "Boleh, dek, kamu masuk?"
"Boleh. Adek memang mau masuk."
Dokter itu laki-laki paruh baya dengan kacamata bertengger di ujung hidung. Ia mempersilakan kami duduk dan membuka map yang sama dengan yang dibawa Mas Indra, ditambah satu lembar hasil terbaru yang lebih tipis. Ia membacanya lama sampai aku sempat menghitung detik jam dinding.
"Pak Indra," katanya akhirnya, "saya ingin bicara apa adanya, dan Ibu juga boleh bertanya sepanjang yang Ibu mau."
"Silakan, Dok." Suara Mas Indra stabil, tetapi jemarinya di pangkuan saling mencengkeram.
"Pemeriksaan terakhir menunjukkan perbaikan. Belum besar, tapi nyata. Jumlah dan gerak sedikit naik dibanding pemeriksaan pertama. Itu berarti obat bekerja dan Bapak minum dengan teratur." Dokter mengangkat kepala. "Pengobatan lanjutan kita rencanakan tiga sampai lima bulan, kontrol tiap dua pekan. Peluang secara alami masih kecil, tapi bukan nol. Dan arahnya sekarang menuju ke atas."
Aku menahan napas. Di samping kiriku, Mas Indra tidak bergerak sama sekali. Lalu, pelan, ia membuka mulut.
"Dok." Ia menelan ludah. "Kalau lima bulan lagi hasilnya sama? Atau turun?"
Pertanyaan itu mungkin yang paling berat yang pernah kudengar dari mulutnya. Selama ini ia membeku di setiap kalimat yang berisi kemungkinan buruk. Sekarang ia menyebutnya sendiri, keras-keras, di ruangan berpendingin udara yang berbau antiseptik.
"Kalau sama," jawab dokter tenang, "kita lihat sebabnya dan kita bicarakan pilihan berikutnya. Bersama Ibu juga. Tidak ada langkah yang diambil sebelum Bapak dan Ibu sama-sama paham." Ia menatapku sebentar. "Pasangan yang datang berdua biasanya lebih kuat menjalani ini. Tidak selalu berhasil, tapi lebih kuat."
"Dok," kataku. "Apa yang bisa Aisyah bantu di rumah?"
"Menjaga hati dan tidur cukup." Ia tersenyum tipis. "Dan jangan menghitung hari setiap pagi. Itu yang sering diam-diam dilakukan para istri."
Wajahku panas. Dokter itu tahu persis, rupanya, tanpa pernah bertemu aku sebelumnya.
Mas Indra mengajukan tiga pertanyaan lagi. Soal makanan, soal obat yang harus diminum sebelum atau sesudah makan, soal apakah ia boleh tetap bekerja sampai larut. Ia menulis jawabannya sendiri di lembar kecil yang dilipatnya dua kali. Ketika kami berdiri untuk pulang, tangannya mencari tanganku di antara kursi dan meja, dan aku membiarkannya menemukan.
Di tempat parkir ia berhenti di samping mobil. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap atap mobil lama sekali, lalu berkata, "Dulu Mas kira kalau Mas dengar angkanya, Mas akan hancur."
"Dan sekarang?"
"Mas masih takut. Tapi Mas tidak sendirian di ruangan itu." Ia menoleh kepadaku. "Terima kasih sudah ikut masuk."
"Adek yang berterima kasih sudah diajak masuk."
Di apotek sebelah, ia menyerahkan resep ke petugas dan menunggu dengan tangan di saku. Kantong obat itu, kantong yang dulu kulihat dibawanya sambil menangis di setir, kini ia pegang di depan dadaku dan ia bertanya, "Dek, kamu mau tahu isinya?"
"Kalau Mas mau menunjukkan."
Ia membuka kantongnya dan menjelaskan satu per satu, kapan diminum, kapan jangan, kapan boleh lupa dan kapan tidak boleh. Suaranya seperti anak sekolah yang menghafal pelajaran. Aku mendengarkan sampai habis, dan di akhir ia menutup kantong sambil tertawa pendek. "Mas kedengaran seperti guru, ya."
"Guru yang baru lulus," kataku, dan tawanya pecah sedikit lebih panjang.
***
Malam itu aku menyetrika mukena sampai agak lama di kamar atas, sengaja memperlambat. Papa dan mama sudah masuk kamar tamu. Rumah sunyi, dan dari bawah tidak terdengar bunyi pintu ruang kerja. Sudah berbulan-bulan sofa di ruang kerja itu menjadi tempat tidurnya, dan aku, yang menaruh dua bantal di sisi kiri ranjang tiap malam, sudah lama tidak berharap bantal itu terpakai.
Ketukan di pintu kamar terdengar pelan. Dua kali. Aku menaruh setrika dan membukanya.
Mas Indra berdiri dengan bantal di tangan, bantal yang dulu ia bawa ke ruang kerja. Rambutnya basah sehabis wudu. Ia tidak tersenyum, tidak bergurau, wajahnya seperti anak yang berdiri di depan pintu rumah orang lain.
"Dek," katanya. "Boleh Mas pulang?"
Kalimat itu menusuk lebih tajam dari yang kuduga. Aku berdiri diam beberapa detik, lalu bergeser selebar tubuhku.
"Boleh, Mas."
Ia masuk, meletakkan bantal di sisi kanan, lalu duduk di tepi ranjang dengan punggung membungkuk. Aku duduk di sebelahnya, tidak terlalu dekat. Cahaya lampu tidur membuat bayangan kami menempel di dinding.
Ia mengangkat satu lengan setengah jalan, lalu berhenti dan menunggu. Aku bergeser sampai bahu kami bersentuhan, dan itu jawaban yang cukup. Ia memelukku dari samping, ragu, lalu semakin erat. Dagunya jatuh di bahuku. Beberapa saat tidak ada suara apa pun selain jam dinding, sampai kurasakan kain bajuku basah, pelan, hangat, dan bahu yang menempel di bahuku bergetar tanpa bunyi.
Aku menepuk punggungnya, seperti Mama dulu menepuk punggungku. Aku tidak berkata apa-apa. Ada tangis yang tidak butuh jawaban, hanya butuh bahu.
Lama kemudian ia mengangkat wajah, matanya merah tetapi lebih jernih dari beberapa pekan terakhir. Lampu dipadamkan. Pintu kamar tetap tertutup, dan selebihnya milik kami berdua.
Menjelang tidur, dalam gelap, suaranya terdengar dekat sekali di telingaku.
"Terima kasih sudah menunggu, dek."
"Adek tidak menunggu, Mas." Aku menggenggam tangannya di atas selimut. "Adek di sini."