Mobil keluar dari perumahan pukul lima lewat sedikit, ketika lampu jalan masih menyala dan tukang bubur baru membuka lapaknya.
Mas Indra memegang kemudi. Papa duduk di sebelahnya dengan kopiah hitam di pangkuan, persis seperti yang diminta Mas Indra semalam. Aku dan mama duduk di kursi belakang, dengan satu bungkusan besar di antara kami: jeruk, kue kering dari toko langganan, dan sekarung kecil beras yang mama minta Bibi masukkan tanpa penjelasan. Sepanjang tol, mama tidak berbicara. Ia hanya meremas tali tas tangannya hingga ruas jarinya memutih.
Menjelang gerbang desa, jalanan menyempit dan berlubang. Mama melihat ke luar jendela pada deretan bedeng dan kebun sayur, pada ibu-ibu yang menjemur pakaian di pagar bambu, dan bertanya dengan suara yang kecil sekali, "Di sini?"
"Sebentar lagi, Ma," jawabku. "Kelokan terakhir, rumah yang berpagar kayu."
"Mama ingat."
Tetapi tangannya sudah lepas dari tali tas dan sekarang menggenggam gelang di pergelangannya, bukan memutar, hanya menggenggam seolah menahannya agar tidak jatuh.
Bapak berdiri di teras, berpeci hitam dan berkemeja batik yang kupikir hanya ia pakai untuk kondangan. Mama ibuku berdiri setengah langkah di belakangnya. Rafi bersandar di tiang dengan tangan terlipat di dada, dan di pagar sebelah, tiga tetangga yang tadi tampak sibuk menyapu halaman sekarang berhenti menyapu.
Papa turun lebih dulu. Mas Indra menyusul, lalu aku. Mama yang terakhir, dan ia berdiri lama di sisi mobil sebelum melangkah masuk pagar.
"Selamat datang, Pak, Bu," kata Bapak. "Sok, naik. Teras kami sempit, tapi cukup."
"Pak." Mama berhenti di anak tangga pertama. Suaranya serak. "Boleh Mama bicara di sini dulu? Sebelum duduk."
Bapak mengangguk sekali.
Mama menaiki dua anak tangga lagi. Ia berhenti di tempat yang sama persis, aku mengenali bekas kakinya di debu lantai ubin yang retak. Di bawah bangku kayu yang sama, ia menatap Bapak, bukan menunduk.
"Waktu itu Mama berdiri di sini," katanya, lambat-lambat, seperti orang membaca tulisan yang tidak ingin ia baca. "Mama bilang, 'Anak Bapak sudah berbulan-bulan menikah dan belum isi. Siapa tahu memang tidak bisa memberi keturunan.'"
Tetangga di pagar menahan napas. Rafi menegakkan tubuhnya.
"Mama ulang supaya semua yang dengar waktu itu, dengar juga sekarang. Kalimat itu salah. Mama tarik." Ia menelan ludah. "Anak Bapak tidak kurang apa-apa. Dia istri yang baik, dan Mama, ibu mertua yang tidak tahu diri. Mama minta maaf, Pak. Mama minta maaf, Bu."
Suaranya patah di kalimat terakhir. Ia membungkuk, tidak dalam, tetapi cukup supaya ubun-ubun kerudung instannya terlihat. Papa di belakangnya tidak mengucapkan apa-apa. Di sampingku, Mas Indra menutup mata sebentar.
Bapak tidak langsung menjawab. Ia memandang mama lama, dengan tatapan datar yang kukenal sejak kecil, tatapan yang tidak menghakimi dan tidak pula memaafkan sebelum selesai menimbang.
"Bu," katanya akhirnya. "Saya ini orang kampung, tidak pintar menyusun kata. Tapi saya tahu bedanya orang yang minta maaf supaya tenang dan orang yang minta maaf supaya berubah." Ia menarik kursi kayu dan menepuk sandarannya. "Ibu minta maaf di tempat Ibu menyakiti, di depan orang yang mendengarnya. Itu bukan perkara kecil. Saya terima. Sok, duduk atuh."
Mama ibuku maju selangkah. "Kami juga bukan tanpa salah, Bu," katanya lirih. "Kami memang tidak punya apa-apa untuk diberikan, selain anak."
"Itu yang paling mahal," bisik mama, dan ia tersenyum dengan mata yang basah.
Papa maju ke tangga dan menjabat tangan Bapak, lama, tanpa kata. Lalu ia mengeluarkan sebungkus jeruk dari kantong plastik dan berkata, "Dari kebun teman di Lembang, Pak. Jangan dikira ini bayaran. Ini cuma jeruk." Bapak tertawa kecil. "Kalau cuma jeruk, saya terima, Pak. Kami di sini makan jeruk pun tidak sering." Tetangga di pagar mulai menyapu lagi, dan sapu mereka kini terdengar jauh lebih pelan.
***
Kami makan di tikar di ruang tengah. Lodeh buatan mamaku, sambal terasi dengan jeruk limau, ikan asin goreng, dan nasi yang masih mengepul dari dandang. Mama mertua duduk bersila dengan susah payah karena lututnya, tetapi ia menolak kursi yang ditawarkan Rafi. Ia makan dengan tangan, sedikit, pelan, dan menghabiskan nasinya.
Waktu piring-piring dikumpulkan, ia berdiri lebih dulu daripada aku. "Biar Mama."
"Ma, tamu tidak boleh—" Aku berusaha mengambil tumpukan piring.
"Biar Mama." Ia menepis tanganku dengan lembut dan membawa piring-piring itu ke dapur.
Aku mengikutinya sampai ambang pintu dapur dan berhenti, karena mamaku sudah ada di sana. Ia sedang menjerang air di atas tungku kayu, punggungnya kecil di antara asap tipis. Mama mertua berdiri di sisinya, menyingsingkan lengan gamis, memegang spons yang sudah dipakai ribuan kali.
"Ibu tidak perlu," kata mamaku.
"Perlu," jawab mama mertua. "Saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya kerjakan."
Beberapa saat mereka diam. Bunyi air mengalir dari ember ke baskom.
"Saya juga takut, Bu," ujar mamaku pelan, tanpa menoleh. "Anak saya jauh dari saya. Setiap kali telepon dia selalu bilang baik-baik saja, dan setiap kali saya tahu dia bohong. Saya juga takut anak saya tidak bahagia."
"Anak saya yang membuatnya begitu," bisik mama mertua.
"Anak kita sama-sama keras kepala." Mamaku mengambil piring dari tangannya, mengelapnya, dan menaruhnya di rak. "Dua-duanya belajar dari ibunya."
Mama mertua tertawa. Tertawa sungguhan, pendek, dan terkejut oleh suaranya sendiri. Aku mundur pelan dari ambang pintu dengan dada sesak. Air mataku jatuh begitu saja, bukan karena sedih, tetapi karena dua perempuan yang paling mengenal arti menunggu sedang berdiri bersisian di depan tungku, mencuci piring yang sama, dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu aku melihat. Di lorong aku berpapasan dengan Rafi, yang langsung mengerutkan dahi melihat mataku.
"Teteh nangis?"
"Debu tungku."
"Teh, dapur tungku itu nggak berdebu." Tetapi ia membiarkanku lewat.
***
Rafi sedang berdiri di halaman samping, tempat ia menyendiri tiap kali kesal. Mas Indra menyusulnya dengan dua gelas teh, dan aku berpura-pura menjemur kain di tali, supaya dekat.
"Rafi," kata Mas Indra. "Mas tidak minta kamu memaafkan Mas. Mas cuma mau kamu tahu: Mas tahu Mas salah. Pada Teteh dan pada keluarga kita."
Rafi memandang gelas yang disodorkan, lalu tangan yang menyodorkannya. Rahangnya mengeras, kemudian mengendur.
"Rafi bilang waktu itu Rafi tidak suka Mas."
"Ya."
"Rafi masih belum." Ia mengambil gelas itu, menyesap, dan meletakkannya di pagar. "Tapi Mas datang sendiri ke kampung. Itu Rafi lihat." Ia mengulurkan tangannya, kaku, seperti sedang menandatangani perjanjian. "Awas kalau Teteh nangis lagi."
Mas Indra menyambut tangan itu dengan kedua tangannya. "Mas tidak janji tidak ada air mata. Mas janji Mas tidak akan membiarkan Teteh menangis sendirian."
Rafi mendengus, tetapi tidak menarik tangannya.
***
Bapak mengantar kami sampai pagar menjelang sore. Ia menjabat tangan papa dua kali, menepuk bahu Mas Indra, dan menatap mama sebentar. "Hati-hati di jalan, Bu. Kapan-kapan mampir lagi, sok."
Mama mengangguk. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia naik ke mobil, duduk di belakang dengan bungkusan peyek yang diselipkan mamaku ke tangannya, lalu menoleh ke jendela. Kami melambai, mobil bergerak, dan sepanjang jalan keluar desa mama tidak sekali pun berpaling dari jendela sebelahnya. Papa menoleh dari kursi depan, hendak berbicara, lalu mengurungkannya. Mas Indra menatap kaca spion dan mencari mataku, dan aku hanya menggeleng pelan: jangan sekarang. Bungkusan peyek itu tetap di pangkuan mama, dan jemarinya, yang biasa memutar gelang, kali ini memegang plastiknya erat-erat sampai berkerut.