Mama baru bersuara ketika mobil berbelok masuk ke perumahan kami, saat lampu jalan pertama menyala di atas pos satpam.
"Aisyah."
Aku menoleh dari kursi belakang. Mama masih menatap jendela, tetapi bungkusan peyek di pangkuannya sudah berpindah ke tangan kirinya, dan tangan kanannya tergeletak terbuka di jok, di antara kami.
"Peyek ibumu," katanya. "Kacangnya utuh, tidak ada yang gosong. Mama tidak pernah bisa membuat begitu."
"Nanti Aisyah sampaikan, Ma."
"Jangan." Ia menggeleng. "Mama sampaikan sendiri. Kalau sempat."
Tetapi aku melihat papa menunduk di kursi depan dan memijit pangkal hidungnya, dan Mas Indra menarik napas dalam-dalam sebelum membelokkan setir ke arah pagar rumah kami. Satu kalimat tentang peyek. Dari mama yang beberapa hari lalu masih mengurung diri, itu terasa seperti pintu yang digeser sejengkal.
***
Mama dan papa masih menumpang di kamar tamu kami sampai Jumat, belajar membagi dapur tanpa saling menyerobot. Pagi itu telepon papa berbunyi ketika kami sedang sarapan, dan wajah papa berubah sedikit demi sedikit saat mendengarkan.
"Jadi benar-benar selesai?" Ia berdiri, mengangguk beberapa kali, lalu menutup telepon dan menatap mama dari seberang meja. "Mandor bilang cat terakhir kering kemarin. Listrik sudah dinyalakan, plafon kamar kita sudah dipasang. Kita bisa pulang hari ini kalau Mama mau."
Mama menurunkan sendoknya. Rumah itu, yang menurut perkiraan mandor pada malam hujan dulu hanya butuh dua bulan, ternyata menelan hampir lima bulan sebab kerusakan di balik plafon merembet sampai ke kabel dan talang. Sekarang kabar selesainya datang tepat ketika mama baru belajar duduk satu meja dengan kami.
"Hari ini?" tanya mama.
"Kalau Mama siap."
Mama menatap piringnya sebentar. "Mama siap," katanya. "Setelah makan."
Bibi, yang berdiri di belakang kursi mama dengan teko air, menjatuhkan tutup teko ke piring dengan bunyi nyaring. Semua menoleh. "Maaf, Bu," bisiknya, dan mukanya merah sampai ke telinga.
Aku membantu mama melipat pakaian di kamar tamu sebelum Bibi datang membawa koper. Ia duduk di tepi kasur dengan sajadah di pangkuan, melipatnya sekali, membukanya lagi, lalu melipatnya lagi seolah lipatan pertama kurang pas.
"Obatnya Indra, dia minum teratur?" tanyanya tanpa mengangkat kepala.
"Teratur, Ma. Dia yang mengingatkan Aisyah malah."
"Dulu waktu demam dia tidak mau minum obat." Jemarinya berhenti di ujung sajadah. "Mama harus merayu pakai kerupuk, satu sendok pahit, satu kerupuk. Sampai SMP masih begitu." Ia mendengus kecil. "Sekarang dia membawa kantong obat sendiri dan membaca aturannya. Mama tidak sadar kapan anak itu jadi laki-laki."
"Mama masih bisa merayunya pakai kerupuk," kataku. "Barangkali dia mau."
Mama menoleh, dan di wajahnya ada sesuatu yang belum pernah kulihat: bukan senyum, tetapi ruang kosong tempat senyum bisa muncul kapan-kapan.
Pukul sepuluh, koper-koper yang dulu masuk ke rumah ini sudah berderet di teras, jumlahnya sama persis. Bingkai foto di tangan Bibi, kalender saku disimpan mama sendiri di dalam tas tangannya. Sopir menaikkan barang satu per satu, dan Mas Indra, yang sengaja pulang dari kantor setengah hari, membantu tanpa bicara.
Aku berdiri di pintu. Mama berhenti di depanku.
Ia membuka tas tangan, merogoh, lalu menarik sesuatu dari saku dalam. Sebuah kunci dengan gantungan kecil berbentuk daun, yang sudah ia pegang sejak sebelum kami berangkat umrah. Ia tidak melemparnya, tidak juga menyerahkannya dengan gaya penguasa yang mengembalikan pinjaman. Ia membuka telapak tanganku dengan jari-jarinya yang kurus, meletakkan kunci itu di tengah, dan menutup jariku di atasnya.
"Ini punya kamu," katanya. "Seharusnya memang punya kamu dari awal."
Logam itu masih hangat dari sakunya.
"Mama akan mengetuk," lanjutnya, rendah. "Kalau Mama datang, Mama mengetuk dulu. Kalau kamu bilang jangan, Mama pulang."
Aku mengangguk, dan yang keluar dari mulutku bukan kata, hanya napas yang bergetar. Aku menggenggam kunci itu seperti orang menerima sesuatu yang bisa pecah.
"Soal kamar atas," kata mama, berdeham. "Ranjang bayi dan lemari itu. Mama bawa pulang saja, ya? Mama yang memasangnya tanpa izin. Sopir bisa mengangkutnya sekarang."
Mas Indra melirikku. Aku sudah tahu jawabanku sejak malam di kamar atas, ketika aku duduk di samping ranjang kayu itu dan mengusap pinggirannya yang halus.
"Simpan dulu di sana, Ma," kataku. "Kalau Allah mengizinkan, kami panggil Mama memilih warnanya."
Mama tidak menjawab. Dagunya bergetar sedikit, lalu cepat-cepat ia mengangkat wajah dan memperbaiki letak kerudungnya, pura-pura memeriksa sesuatu di kejauhan. "Warna kuning saja nanti," gumamnya. "Jangan biru, jangan merah muda. Anak lahir itu tidak tahu beda laki-laki dan perempuan."
Aku tertawa, benar-benar tertawa, dan mama mendengus meski sudut matanya basah.
***
Bibi yang paling lama berpamitan. Ia berdiri di gerbang dengan bingkai foto yang terlalu besar untuk lengannya, menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Mba, Bibi balik ke rumah Bapak sama Ibu."
"Iya, Bi."
"Tapi Bibi tidak pergi jauh." Ia meremas jariku. "Hari Selasa dan Kamis Bibi biasanya belanja ke pasar ini. Bibi mampir bawa sayur. Kalau Mba tidak keberatan."
"Bibi bawa apa pun, Aisyah terima." Aku memeluknya sebentar. "Bibi yang dulu meminjamkan selimut di lorong. Itu tidak akan Aisyah lupa."
"Aduh, Mba." Bibi menggeleng-geleng, menangis sambil tertawa, lalu cepat-cepat naik ke mobil kedua.
Papa menunggu di anak tangga teras, topinya sudah di tangan. Ketika aku lewat, ia menahan lenganku sebentar.
"Nak. Terima kasih sudah tidak pergi."
"Aisyah pernah pergi, Pa. Ke kampung."
"Dan kamu pulang." Ia menepuk tanganku dua kali. "Itu yang Papa hitung. Bukan perginya."
Mas Indra membukakan pintu mobil mama. Mama masuk ke kursi belakang dengan hati-hati, merapikan gamisnya, dan kaca jendela di sebelahnya turun sedikit demi sedikit sebelum mobil bergerak. Aku mengira ia hanya ingin udara.
"Aisyah," panggilnya.
Aku mendekat dan menunduk di depan kaca. Papa di kursi depan memandang lurus ke jalan dengan ketekunan orang yang sedang berpura-pura tidak mendengar.
"Mama belum bisa menyayangimu seperti seharusnya." Matanya menatapku, jernih, tanpa pelindung dan tanpa taktik. "Mama tidak mau bohong. Hati Mama masih keras, dan hati yang keras tidak bisa diperintah lunak dalam semalam. Tapi Mama mau belajar."
"Mama tidak harus..."
"Mama mau," potongnya. "Itu bedanya dengan kemarin."
Kaca naik kembali. Mobil bergerak pelan, melewati pagar dan pos satpam, dan menghilang di tikungan. Mas Indra berdiri di sampingku, merangkul bahuku dengan satu lengan, dan kami tidak berbicara sampai suara mesin benar-benar lenyap.
Kunci di tanganku masih hangat. Aku membukanya dan memandangnya sekali lagi, lalu menyimpannya di laci dapur, di sebelah sendok-sendok, tempat benda-benda yang dipakai sehari-hari.