Rumah mama dan papa tidak berbau cat lagi. Itu hal pertama yang kusadari ketika Mas Indra memarkir mobil di halaman Kamis sore, dan hal kedua yang kusadari adalah mama berdiri di teras dengan celemek, memegang piring bolu yang miring sebelah.
"Mama kira kalian terlambat." Ia menyodorkan piring itu begitu aku turun. "Coba."
Aku mengambil sepotong. Bagian atasnya gosong tipis, dan tengahnya agak basah. Mas Indra yang berdiri di belakangku menahan sesuatu di wajahnya.
"Enak, Ma," kataku, dan separuhnya jujur karena aku bisa merasakan mentega dan telur kampung yang diaduk dengan sabar.
"Bohong." Mama mengerutkan kening. "Gosong. Oven baru itu panasnya beda. Bibi bilang jangan dibuka-buka pintunya tapi Mama penasaran." Ia menarik napas pendek. "Mama belajar, Aisyah. Pelan-pelan. Tidak semuanya bisa Mama kerjakan dengan benar sekali jalan."
"Kalau begitu Aisyah habiskan ini."
Mama mendengus, tetapi kerutan di keningnya mengendur. Papa membuka pintu dari dalam, memakai kemeja koko biru tua yang jarang kulihat, dan ia berbisik kepada kami berdua, "Mereka sebentar lagi sampai. Mama tidak tidur semalam."
"Papa," tegur mama dari belakang.
"Papa tidak bilang apa-apa."
Bel pintu berbunyi sebelum mama sempat membalas.
***
Pak Warto masuk lebih dulu, membungkuk di ambang pintu, memegang topinya dengan dua tangan. Jaketnya kebesaran, dan ada satu map plastik biru terselip di bawah lengannya. Di belakangnya Najwa melangkah pelan.
Aku hampir tidak mengenalinya. Perempuan yang dulu datang ke rumah ini dengan lipstik merah dan senyum yang diatur, sekarang berkerudung krem polos, wajahnya kurus, tanpa riasan sedikit pun, dengan lingkar gelap di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan. Di dadanya, di dalam gendongan kain batik, seorang bayi tidur dengan kepalan mungil terlipat di dekat pipi.
"Silakan duduk, Pak, Nak Najwa," kata papa.
Mereka duduk di sofa panjang. Mama duduk di kursi tunggal dekat jendela, sedikit menjauh, punggung lurus. Aku dan Mas Indra mengambil sofa kecil di sisi lain. Tak seorang pun menyentuh bolu di meja.
"Pak, Bu," Pak Warto membuka suara, serak. "Saya datang bukan minta apa-apa. Saya datang membawa yang harus dibawa." Ia menarik map biru dari bawah lengannya dan meletakkannya di meja kecil di depan papa. "Itu surat pernyataan dari Pak Handoyo, bermeterai, ditandatangani di depan saya dan di depan Bu Fitri. Isinya, dia mengakui anak ini anaknya dan menanggung semua biaya persalinan, perawatan bayi sampai sehat, juga nafkah tiap bulan sampai anak ini dewasa."
Papa membuka map itu dan membaca lama. Mas Indra membaca dari samping, bibirnya bergerak tanpa suara.
"Bu Fitri?" tanya papa tanpa mengangkat mata.
"Beliau yang menuntut, Pak. Bukan saya." Pak Warto menelan ludah. "Bu Fitri bilang, 'Anak itu tidak berdosa. Bapaknya yang harus bertanggung jawab, bukan dengan menikahi siapa pun, tapi dengan menanggung hidupnya.' Pak Handoyo tidak membantah satu kata pun. Katanya, itu yang paling pantas."
Papa menutup map. "Saya akan pastikan itu dijalankan, Pak Warto. Saya kenal Handoyo."
"Terima kasih, Pak."
"Satu lagi." Pak Warto meremas topinya. "Ratih tidak ikut. Dia di rumah, tidak mau keluar kamar sejak diusir dari sini. Dia bilang belum sanggup menatap Mbak." Ia melirik mama, lalu cepat-cepat menunduk. "Saya tidak membela. Saya cuma bilang apa adanya, karena kata Bu Fitri, bohong ke keluarga ini sudah terlalu banyak."
"Tidak apa-apa, Pak," ujar papa. "Biar dia tenang dulu."
Mama tidak berkomentar. Hanya jemarinya yang bergerak sedikit, menyentuh gelang, lalu berhenti.
Hening. Bayi di dada Najwa mengerutkan wajah dan menguap tanpa suara. Najwa menunduk, menepuk punggung bayinya sebentar, kemudian mengangkat kepala dan memandang mama.
"Budhe."
Mama tidak menjawab. Tangannya yang bergelang tidak bergerak.
"Najwa mau minta maaf." Suaranya kecil, tidak dibuat-buat, dan itulah yang membuatku mendengarkan. "Najwa bohong pada Budhe. Najwa bilang anak ini anak Mas Indra, padahal Najwa tahu bukan. Najwa pikir kalau Budhe percaya, Najwa dan anak ini aman." Ia menelan ludah. "Najwa sudah menyusahkan Budhe, menyusahkan rumah ini. Budhe yang bayar kontrakan Najwa pun, Najwa tidak pantas menerimanya."
Mama menatap Najwa lama, lalu menatap bayi itu. Rahangnya mengeras, dan aku menyangka ia akan bangkit dan pergi seperti yang selama ini ia lakukan setiap kali sesuatu mengenai ujung hatinya.
Najwa berpaling kepadaku.
"Aisyah."
Aku menegakkan punggung. Ia menyebut namaku tanpa nada sindiran sedikit pun, dan itu lebih mengejutkan daripada seluruh kata sebelumnya.
"Aku dulu pikir kamu akan kalah," katanya, jujur dan telanjang. "Waktu di klinik, di rumah ini, di gerbang. Aku bilang pada diriku sendiri kamu cuma perempuan kampung yang tidak akan bertahan, dan Budhe akan menang. Aku salah." Matanya basah. "Kamu tidak menang atas siapa pun. Kamu cuma tidak mau pergi. Aku tidak mengerti itu, sampai aku sendirian di rumah sakit."
"Mbak Najwa." Aku mencari kata. "Aisyah tidak menyimpan marah yang sebesar itu. Yang paling besar, Aisyah cuma ingin Mbak dan bayi ini sehat."
Najwa menutup mulut dengan punggung tangan, menahan sesuatu. Mas Indra, di sampingku, tidak menyela dan tidak menatapnya terlalu lama. Ia hanya berkata, singkat, "Terima kasih sudah datang, Najwa. Itu tidak mudah."
Najwa mengangguk, tidak sanggup bicara.
***
Mama berdiri.
Aku merasakan semua orang di ruangan itu menahan napas. Ia melangkah, bukan ke pintu tetapi ke sofa panjang, berhenti di depan Najwa, dan menjulurkan kedua tangannya.
"Boleh Budhe pegang?"
Najwa membuka gendongan dengan tangan gemetar dan menyerahkan bayi itu. Mama menerimanya dengan kaku, seperti orang yang telah lupa caranya tetapi tubuhnya masih ingat. Lengan kanannya menopang kepala, lengan kirinya menyangga pantat. Bayi itu menggeliat, membuka mata sedikit, dan mengatupkan bibir.
"Kecil sekali," bisik mama. "Dulu Indra juga sekecil ini."
"Iya, Budhe."
Mama menggoyang lengannya pelan, dua kali, tiga kali. Gelang emas tuanya berdenting halus di dekat selimut bayi itu. Dari tempatku duduk, aku melihat bahu mama turun, dan matanya, yang selama ini hanya tahu menghitung, sekarang hanya memandang.
Beberapa menit kemudian ia mengembalikan bayi itu ke tangan Najwa. "Jaga dia," katanya. "Dan jaga dirimu juga. Ibu yang sehat itu bagian dari bayi yang sehat."
"Baik, Budhe."
Pak Warto bangkit. Ia berdiri di depan papa, menyingkirkan topinya dari tangan, lalu membungkuk dalam-dalam, sampai kepalanya hampir sejajar dengan lutut papa.
"Pak," katanya, dengan suara yang hampir tak terdengar. "Saya malu sekali kepada Bapak dan keluarga. Anak saya, istri saya... saya yang tidak mendidik."
Papa berdiri, memegang kedua bahunya, dan mengangkat tubuh yang bungkuk itu sampai tegak. "Pak Warto," katanya perlahan. "Duduk dulu. Kita minum teh. Bolunya gosong, tapi bisa dimakan."
"Pa!" seru mama.
Bibi muncul dari dapur membawa nampan berisi cangkir-cangkir, dan ia hampir menumpahkan semuanya ketika mendengar tawa dari ruang tamu, tawa kecil, kikuk, dan tidak seorang pun berani menyebutnya terlalu keras. Mas Indra menyodorkan sepotong bolu gosong ke arah Pak Warto. Pak Warto menerimanya dengan dua tangan, menggigit, dan mengangguk-angguk seperti sedang menilai makanan di acara lomba.
"Enak, Mbak," katanya kepada mama.
"Bohong," ujar mama, dan matanya melembut.