Aku duduk di tepi bak mandi lebih lama dari yang perlu.
Rabu subuh itu tidak ada kejutan, tidak ada yang berdarah-darah seperti Jumat dini hari lama sekali di rumah ini. Hanya tanda yang datang tepat waktu, wajar, sesuai hitungan siapa pun yang mau menghitung. Tubuhku berkata bahwa sebulan lagi berlalu. Dadaku berkata hal lain yang tidak bisa kuberi nama selain sesak kecil.
Aku membasuh muka dan memandang cermin. "Tidak apa-apa," kataku pada perempuan di dalamnya. "Dokter bilang tiga sampai lima bulan. Baru dua pekan lebih."
Perempuan di cermin tidak percaya sepenuhnya, tetapi mengangguk.
Mas Indra sudah di dapur ketika aku turun. Ia membuat teh dengan cara yang baru ia pelajari, mencelup kantong, mengangkatnya setelah tiga menit, menghitung dengan lirih di bawah napas. Rambutnya masih acak. Ia menoleh dan tersenyum, senyum pagi yang sudah beberapa hari kembali ke wajahnya.
"Dek, kamu mau satu atau dua gula?"
"Mas." Aku menarik kursi dan duduk. "Adek datang bulan pagi ini."
Aku mengatakannya datar saja, seperti menyebut jadwal belanja. Aku sengaja. Dulu kami membiarkan hal-hal semacam ini menggantung sampai membusuk, dan sekarang kami harus belajar mengucapkannya dengan nada yang tidak membuat siapa pun jatuh.
Sendok di tangannya berhenti. Senyumnya tidak langsung hilang, tetapi bergeser, pelan sekali, seperti lampu yang diredupkan satu tingkat.
"Oh," katanya. "Iya. Baik."
"Mas."
"Mas ada laporan yang harus dibereskan sebelum berangkat." Ia menaruh sendok. Cangkir teh yang belum selesai ia dorong ke tengah meja. "Minum saja, dek. Mas ke ruang kerja sebentar."
Pintu ruang kerja menutup dengan bunyi klik halus.
Klik halus yang sama. Aku mengenalnya seperti mengenal bau obat di rumah sakit.
Dadaku mendingin, bukan karena marah, tetapi karena takut. Takut setengah bulan terakhir ini ternyata hanya bangunan pasir yang akan runtuh begitu ombak pertama datang.
Aku bisa menunggu. Dulu aku selalu menunggu: menyiapkan sarapan, menaruh teh di depan pintu, menahan diri supaya tidak mengetuk. Tetapi aku sudah berjanji pada diriku di atas pematang bahwa tidak ada lagi menunggu yang berubah menjadi diam.
Aku membawa cangkirku sendiri ke depan pintu itu dan duduk di lantai, bersandar pada kusen, seperti dulu, tetapi kali ini dengan niat yang berbeda.
"Mas," kataku pada kayu pintu. "Adek di sini. Adek tidak akan pergi."
Tidak ada jawaban.
"Adek tahu Mas sedang menghitung. Adek juga sempat menghitung, dua pekan itu bukan nol. Adek kecewa sedikit. Itu boleh, kan? Kalau adek kecewa sedikit dan masih di sini?"
Lama sekali tidak ada bunyi. Lalu suara itu terdengar, rendah dan serak, dari jarak yang terlalu dekat dengan daun pintu.
"Kamu boleh pergi, dek."
Aku menahan napas.
"Mas ikhlas." Ia terdengar seperti orang yang mengucapkan kalimat yang sudah ia latih bertahun-tahun, dan itu yang paling menyakitkan. "Kalau lima bulan lagi hasilnya sama, kalau memang tidak bisa... Mas tidak mau kamu menghabiskan umur menunggu laki-laki yang tidak bisa memberi apa yang kamu mau. Mas ikhlas. Mas serius."
Aku berdiri. Rasa dingin tadi berubah panas dalam satu tarikan napas.
"Mas, adek boleh masuk?"
"Dek, jangan..."
"Adek tanya boleh atau tidak. Adek akan menunggu jawaban Mas, tapi adek tidak akan bicara dengan pintu."
Sunyi sebentar. Kunci diputar, dan pintu terbuka.
Mas Indra berdiri dengan wajah yang pucat dan mata yang tampak habis sedikit. Di sofa panjang di belakangnya, lembar hasil laboratorium terhampar di atas bantal, dan aku tahu ia duduk di sana memandangi angka-angka itu sejak kantong teh tadi mendingin.
Aku masuk dan menutup pintu di belakangku.
"Mas ikhlas?" ulangku. "Siapa yang minta Mas ikhlas?"
"Dek..."
"Adek bukan barang pinjaman yang tinggal dikembalikan kalau rusak, Mas. Adek bukan tanggal di kalender Mama." Suaraku naik dan aku membiarkannya. "Kita sepakat di pematang, tidak ada yang memutuskan sendirian untuk yang lain. Baru pagi ini, Mas. Dan sudah Mas langgar."
"Mas cuma ingin melindungi..."
"Mas ingin melindungi diri Mas sendiri dari kecewa. Dan itu boleh, manusia memang begitu. Tapi jangan bilang itu demi adek." Napasku sesak. "Adek tidak mau dibebaskan. Adek mau Mas ada di dapur, membuat teh dan menghitung sampai tiga menit, bahkan kalau tehnya hambar."
Mas Indra membuka mulut, lalu menutupnya. Bahunya jatuh. Ia duduk di sofa dengan kepala di antara tangan.
"Mas takut, dek," katanya ke lantai. "Mas takut ini tidak akan pernah terjadi."
"Adek juga takut."
Ia mengangkat kepala.
"Adek takut, Mas. Setiap pagi." Aku duduk di sampingnya, tidak menyentuh. "Dan kalau kita saling menyembunyikan takut itu, takutnya dua kali lebih besar. Kalau kita bagi, mungkin tetap takut, tapi tidak sendirian."
Ia menatapku lama. Lalu tangannya terulur, berhenti di tengah udara. "Boleh?"
"Boleh."
Ia menggenggam tanganku seperti orang yang menemukan pegangan di tengah arus.
***
Mas Indra mengirim pesan ke kantor dengan satu tangan, tangan satunya tidak melepas tanganku. "Mas masuk jam sepuluh," katanya sambil mengetik. "Pertama kali Mas terlambat bukan karena macet." Aku menahan senyum, dan ia, tanpa menoleh, tahu.
Setengah jam kemudian kami duduk berhadapan di meja kecil ruang kerja, dengan secarik kertas folio bergaris dan satu pulpen yang bergantian kami pegang.
"Aturan rumah," kataku. "Kita tulis. Supaya tidak cuma di kepala."
Mas Indra memegang pulpen. Tulisan tangannya rapi, huruf-huruf tegak. "Satu."
"Tidak ada diam yang lebih lama dari semalam."
Ia menulis, berhenti, mengerutkan dahi. "Semalam itu maksudnya?"
"Kalau Mas tidur dengan sesuatu yang mengganjal, paginya Mas harus bilang. Kalau adek juga."
"Dua."
"Malam Jumat adalah malam bicara. Apa pun. Tidak ada yang boleh dilewati."
"Kamis malam," gumamnya sambil menulis. "Besok."
"Besok."
"Tiga."
Aku mengambil pulpen dari tangannya, menulis sendiri dengan huruf yang kurang rapi: Tidak ada yang memutuskan sendirian untuk yang lain. "Itu yang paling penting."
Mas Indra membaca tiga baris itu, dan sudut bibirnya bergerak. Ia mengambil pulpen, menambahkan satu baris kecil di bawah: Kalau lupa, ingatkan dengan teh. Ia mengangkat alis. "Dek, ini tambahan Mas. Syaratnya, tehnya dari Mas."
Aku tertawa. Dan ia ikut tertawa, kecil, lalu lebih keras, lalu tawanya patah di tengah dan berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, dan bahunya berguncang.
Kertas itu nanti kami tempel di bagian dalam pintu lemari dapur, tempat hanya kami yang membukanya setiap hari. Aku tidak berpindah kursi. Aku hanya mengambil pulpen yang jatuh dari jarinya, menulis tanggal di sudut kertas dan tanda tanganku, lalu menaruh pulpen itu kembali di sampingnya, dan menunggu sampai ia siap menandatangani di bawahnya.