Ketukan itu datang Senin sore, tiga kali, pelan dan teratur, dan aku berdiri membeku di dapur dengan piring basah di tangan.
Bukan bel. Selama aku tinggal di rumah ini, mama selalu masuk tanpa mengetuk, dengan kunci, dengan suara, dengan bayangan yang lebih dulu sampai di lantai. Sekarang ada kayu yang diketuk dari luar, dan siapa pun yang mengetuk menunggu.
Aku menaruh piring, mengeringkan tangan di rok, dan membuka pintu.
Mama berdiri di teras dengan gamis abu-abu dan tas tangan di dada. Tidak ada sopir di belakangnya, tidak ada Bibi, tidak ada bungkusan. Mobil hitam itu diparkir di seberang jalan, dan aku melihat sopirnya membaca koran di balik kemudi.
"Mama mengetuk," katanya.
"Iya, Ma." Dadaku hangat dan geli bersamaan. "Mama mau masuk?"
"Kalau boleh."
"Boleh. Silakan, Ma."
Ia melangkah masuk dengan hati-hati, melepas sandal di tikar kecil, dan memandang ruang tamu seperti tamu sungguhan. Foto pernikahan kami masih di dinding. Dua cangkir kopi Mas Indra dari pagi masih di meja, belum kucuci.
"Indra ada?"
"Ada, Ma. Baru pulang tadi, lagi mandi." Aku menelan ludah. "Mau Aisyah panggilkan?"
"Tunggu saja." Mama duduk di kursi tunggal, memangku tasnya, dan menatap tangannya sendiri. "Papa bilang tiap dua pekan Indra kontrol dan obatnya tidak pernah ia lewatkan. Papa pernah mengantar sekali, diam-diam, dari jauh. Mama juga ingin lihat dia sendiri, sebelum Mama bicara."
Aku tidak menanyakan apa pun. Aku membuat teh, menyuguhkannya, dan duduk di sofa seberang. Mama menyeruput sedikit, mengerutkan dahi, lalu menyeruput lagi.
"Tehnya kurang gula."
"Maaf, Ma. Aisyah ambilkan."
"Jangan. Kurang gula bagus untuk Mama." Ia meletakkan cangkir. Pandangannya naik ke langit-langit, ke arah kamar atas. "Ranjang itu masih ada di kamar sebelah tangga?"
"Masih, Ma."
"Masih kosong?"
"Masih kosong. Kami sering buka pintunya buat lewat angin."
"Bagus," kata mama, dan ia tidak menjelaskan apa yang bagus.
Mas Indra turun sepuluh menit kemudian, rambutnya basah dan kausnya terbalik di bagian leher. Ia berhenti di anak tangga terakhir, melihat mama, dan seluruh tubuhnya yang tadinya ringan seperti habis mandi menjadi kaku sedetik. Lalu sedetik berikutnya ia mengatur napas, persis seperti yang diajarkan dokter, dan menghampiri.
"Ma."
"Duduk, Ndra. Mama mau bicara berdua. Aisyah boleh di dekat sini saja."
Mas Indra melirikku, dan aku mengangguk. Aku berdiri dan berjalan ke ambang pintu penghubung ruang makan, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh supaya mereka tahu aku tidak sedang ikut campur. Mas Indra duduk di sofa tempatku tadi.
Mama membuka tas tangannya, mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul kulit hitam yang tepinya sudah aus. Aku mengenalnya seketika. Kalender saku. Buku itu yang dulu terbuka di meja dapur dengan hari-hari yang dicoret satu per satu.
Mas Indra juga mengenalnya. Aku melihat jakunnya naik turun.
"Mama dulu bilang," kata mama, pelan, "Mama tidak tahu itu membuat anak Mama dingin pada istrinya. Itu benar. Tapi itu belum seluruhnya." Ia menaruh buku itu di pangkuannya. "Waktu kamu kecil, Ndra, kamu pernah bertanya pada Mama, kenapa adik-adik teman-temanmu banyak dan kamu tidak punya. Mama jawab apa, kamu ingat?"
Mas Indra menggeleng.
"Mama jawab, 'Karena Mama menunggu lama sekali untuk kamu, jadi kamu harus jadi anak yang pantas.'" Suara mama bergetar tipis. "Kamu enam tahun. Mama bilang begitu pada anak enam tahun."
"Ma..."
"Biar Mama selesai." Ia mengangkat tangan, bukan sebagai perintah. "Mama membuatmu merasa ukuran laki-laki adalah cucu. Mama tidak sadar sampai Papa bercerita malam itu. Setiap kali Mama bertanya 'kapan', Mama kira Mama sedang menyayangi. Padahal Mama sedang menaruh beban. Dan kamu, Ndra, kamu terlalu baik untuk menaruhnya kembali."
Mas Indra menunduk. Tangannya mencengkeram lutut. Aku nyaris melangkah maju, tetapi tangannya sendiri mengangkat sedikit, isyarat kecil, jangan, biar. Aku bertahan di ambang.
"Indra bukan ukuran itu, Ma," katanya akhirnya, hampir berbisik. "Tapi Indra sempat percaya. Sampai takut menatap Aisyah."
"Mama tahu." Mama mengatupkan mata sebentar. "Dan Mama tidak minta kamu memaafkan Mama hari ini. Mama cuma mau menaruh sesuatu."
Ia membuka kalender saku itu. Halaman-halamannya penuh tulisan tangan kecil-kecil, coretan, lingkaran. Ia membalik ke satu halaman di dekat bagian belakang, dan aku bisa melihat dari tempatku berdiri: satu tanggal dilingkari tinta merah tebal, begitu tebal hingga kertasnya mencekung dan tembus ke balik halaman.
"Ini hari yang Mama janjikan pada diri Mama," katanya. "Satu tahun sejak akad. Lima bulan lagi dari sekarang." Ia menyentuh lingkaran itu dengan telunjuk. "Mama menunggu hari ini seperti menunggu vonis. Padahal yang divonis bukan kalian. Yang divonis Mama sendiri."
Mama memegang tepi halaman itu dengan dua jari. Lalu, tanpa pidato, tanpa kata pembuka, ia merobeknya.
Bunyi kertas yang tercabik itu lebih keras dari yang kubayangkan. Sreeeet, pelan, dari atas ke bawah, melewati jahitan buku yang menahan. Halaman itu lepas utuh, dengan lingkaran merah di tengahnya yang bolong dan kasar, dan mama memegangnya di udara beberapa saat sebelum bangkit.
Ia berjalan ke ambang pintu tempat aku berdiri.
"Aisyah."
"Iya, Ma."
"Ini punya kamu." Ia menaruh kertas itu di telapak tanganku, sama seperti dulu menaruh kunci. "Simpan atau buang. Terserah. Mama sudah tidak perlu melihatnya lagi."
Kertas itu ringan. Tetapi di pegangan tanganku, rasanya lebih berat dari kunci.
"Ma." Suaraku pecah. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada." Mama menepuk lenganku dua kali, kaku, tetapi hangat. Lalu ia menoleh pada anaknya yang masih duduk dengan mata basah.
"Ndra."
"Iya, Ma."
"Kalau Allah tidak kasih," katanya, dan suaranya akhirnya benar-benar bergetar, "Mama tetap punya kalian."
Mas Indra bangkit, menyeberangi ruang tamu dalam tiga langkah panjang, dan memeluk mama. Mama berdiri kaku, tangannya terkulai, kemudian pelan-pelan, sangat pelan, kedua lengannya naik dan melingkari punggung anaknya, dan jari-jarinya meremas kain jaket Mas Indra seperti takut ia akan hilang lagi.
Ketika pelukan itu terlepas, mama merapikan kerudungnya dan memeriksa jam di pergelangan, seolah baru saja menyelesaikan urusan arisan biasa.
"Mama pulang. Sopir sudah menunggu." Di depan pintu ia berhenti. "Hari Minggu Mama ada arisan keluarga di rumah. Kalian datang, ya. Pakaian yang biasa saja, tidak usah bawa apa-apa."
"Datang, Ma," kata Mas Indra.
"Mama tidak bilang pakai jas." Mama mengangkat alis, lalu pergi. Aku mendengar langkahnya menuruni tangga teras, bunyi sandal yang ia pakai ulang, lalu pintu mobil.
Aku berdiri dengan selembar kertas robek di tanganku. "Dek," kata Mas Indra pelan, "arisan keluarga itu berarti tante-tante dari pihak Papa." Ia tidak perlu menjelaskan sisanya. Tante-tante itu hafal persis tanggal berapa kami menikah.