"Pakai yang biru saja, dek," kata Mas Indra dari ambang kamar. "Yang biru membuat Mas tenang."
"Mas yang mau tenang, atau adek yang harus tampil tenang?"
"Dua-duanya." Ia tersenyum miring. "Tapi biru lebih cocok."
Aku memakai gamis biru itu. Kami berangkat Minggu siang, dan sepanjang jalan Mas Indra berkali-kali mengusap setir dengan ibu jari, kebiasaan yang kutandai sebagai tanda gugup. Rumah mama dan papa tampak asing dari luar. Pagar dicat ulang, taman depan dirapikan, dan di halaman berderet mobil-mobil yang belum pernah kulihat.
"Dua puluh orang," bisik Mas Indra sambil mematikan mesin. "Mama bilang dua puluh dua, tapi pasti lebih."
"Kita datang sebagai apa, Mas?"
"Sebagai suami istri yang belum tahu apa-apa." Ia mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya.
"Sampai dalam sekalian," kataku.
Di ruang keluarga, karpet digulung dan tikar-tikar besar dibentangkan. Orang-orang duduk melingkar: om-om berkopiah, tante-tante dengan kerudung berbagai warna, sepupu yang sibuk dengan ponsel, nenek-nenek yang dipapah ke kursi paling dekat jendela. Aroma rendang dan nasi kuning memenuhi udara. Bibi melintas dengan baki, memberiku kerlingan cepat yang artinya, bertahanlah.
Mama muncul dari dapur dengan gamis hijau zaitun dan gelang emas tuanya. Ia tidak memelukku di depan orang banyak, tetapi ia menunjuk bantal di samping tempat duduknya sendiri. "Aisyah. Di sini."
Tempat duduk di sebelah mama. Ruang yang selama ini dijaga untuk Najwa, untuk siapa pun kecuali aku. Aku duduk di sana dengan lutut sedikit gemetar, dan Mas Indra duduk di sisi kananku.
Percakapan mengalir. Soal harga cabai, soal pembangunan jalan tol baru, soal anak sepupu yang diterima kerja di luar negeri. Aku mengangguk di waktu yang tepat dan menyuap nasi kuning pelan-pelan. Beberapa ibu menatapku sekilas, lalu menatap perutku, lalu menatap piring mereka, dan aku sudah terlalu lama hidup dengan tatapan itu untuk tidak mengenali artinya.
***
Tante dari pihak papa duduk di seberang kami, seorang perempuan bertubuh besar dengan kerudung satin ungu dan cincin di hampir setiap jarinya. Dari tadi ia lebih banyak mengunyah daripada berbicara, tetapi matanya tidak berhenti mengikuti.
"Wah, Indra sudah setengah tahun lebih ya, menikahnya," katanya riang, dengan nada orang yang membuka percakapan ringan. "Waktu itu cepat sekali."
"Iya, Tante," jawab Mas Indra sopan.
"Terus mana cucunya?" Ia terkekeh kecil, seolah menyebut kue yang belum disajikan. "Atau Indra nikah lagi saja? Daripada keburu tua, kan, Mbak." Ia menoleh kepada mama. "Anak tetangga Tante, cantik, belum menikah. Bisa Tante kenalkan."
Ruangan itu tidak sunyi sekaligus. Sunyinya merayap dari ujung ke ujung, dari kelompok yang paling dekat dengan tante itu, sampai ke nenek-nenek di dekat jendela yang berhenti menyendok. Sendok seseorang menyentuh piring, dan bunyi itu terdengar kencang.
Di bawah tikar, tangan Mas Indra tidak bergerak. Aku tahu betul isi kepalanya. Aku tahu keringat dingin di telapaknya, dan aku tahu betapa dekatnya ia pada garis yang dulu membuatnya membeku.
Aku sendiri tidak punya kata. Selama berbulan-bulan kalimat seperti itu datang kepadaku di dapur, di pengajian, di telepon, dan aku selalu membalasnya dengan senyum. Aku sudah menyiapkan senyumku.
Tetapi mama berdiri.
Ia berdiri pelan, dengan satu tangan bertumpu pada lututnya, seperti orang tua yang bangkit dari tikar. Ia merapikan gamisnya, memegang gelang di pergelangan, lalu menatap tante itu, bukan dengan marah, bukan juga dengan senyum yang pernah kulihat di wajah mama di depan tamu.
"Rezeki anak itu urusan Allah," katanya. Suaranya tidak keras, tetapi sampai ke ujung ruangan tanpa perlu diangkat. "Bukan urusan Mbak, bukan urusan saya, bukan urusan siapa pun yang duduk di tikar ini."
"Mbak, Tante cuma bercanda..."
"Menantu saya tidak bermasalah." Mama memotongnya tanpa meninggikan nada. "Anak saya tidak bermasalah. Mereka berdua baik-baik saja, dan mereka tidak berhutang jawaban pada siapa pun." Ia menarik napas, dan aku melihat tangannya yang bergelang bergetar sedikit di sisi tubuh. "Saya dulu pernah menanyakan hal yang sama, dengan cara yang lebih jahat daripada Mbak. Saya tahu betapa sakitnya, karena saya sendiri sudah belajar. Siapa yang bertanya lagi, jangan injak rumah saya."
Aku mendengar napas seisi ruangan. Seseorang mengambil gelas dan meletakkannya kembali tanpa minum. Di sudut, sepupu yang sejak tadi menunduk pada ponselnya mengangkat kepala dan menatap mama dengan mulut sedikit terbuka. Papa, duduk di kepala tikar, tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk dengan sudut bibir bergetar, sudut bibir orang yang menahan sesuatu yang bukan tawa.
"Saya..." Tante itu menutup mulutnya. Cincin-cincinnya berkilat saat ia mengambil gelas. "Maaf, Mbak. Tante kebablasan."
"Kebablasan itu manusiawi," kata mama. "Asal tidak diulang."
Dari dekat jendela, salah satu nenek yang sejak tadi paling lama menatapku berdeham. Ia mengangkat cangkir tehnya dengan dua tangan yang keriput. "Cucu saya yang pertama lahir sesudah tujuh tahun menikah," ujarnya pelan, kepada langit-langit lebih dari kepada siapa pun. "Dikirim Allah waktu kami sudah berhenti menghitung. Jalan rezeki itu lain-lain, Nduk."
"Iya, Nek," kataku, nyaris tak bersuara.
Papa mengambil teko, berdiri, dan menuang teh ke cangkir tante berkerudung ungu dengan wajah yang sangat tenang. "Tambah, Mbak?" tanyanya ramah, dan tante itu mengangguk cepat tanpa berani mengangkat mata.
Ia duduk kembali. Tangannya sedikit gemetar ketika meraih sendok, dan aku, tanpa memikirkannya, menyentuh punggung tangannya dengan ujung jariku. Mama melirik, lalu membalik tangannya supaya jari kami bertaut sebentar di bawah tepi tikar.
Di sisi kananku, Mas Indra yang sejak tadi menggenggam tanganku dengan keringat dingin, perlahan mengangkat tangan kami berdua dan meletakkannya di atas lutut, di atas tikar, di tempat semua orang bisa melihatnya.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak perlu.
***
Aku ke dapur membawa tumpukan piring bekas, lebih karena kakiku butuh bergerak ketimbang karena ada yang perlu dicuci. Bibi sedang menata risoles di nampan, punggungnya membungkuk. Ketika ia mendengar langkahku ia menoleh, dan wajahnya yang biasa sabar tiba-tiba merekah.
"Mba," katanya. "Bibi dengar semua dari sini. Pintunya tipis."
"Bibi..."
"Bibi tidak pernah dengar Ibu bicara begitu, Mba. Sudah bertahun-tahun Bibi di rumah ini." Ia meletakkan nampan, menyeka tangan di celemek, lalu menepuk bahuku dua kali, keras-keras, seperti ibu yang menepuk anaknya yang baru lulus. "Bibi bangga. Bibi bangga sekali, Mba."
Aku mau menjawab, tetapi tenggorokanku sudah menutup. Air mata yang kutahan sepanjang siang, di bawah tatapan dua puluh orang, meluncur begitu saja. Aku menaruh piring di bak cuci, menutup wajah dengan kedua tangan, dan Bibi, tanpa bertanya apa pun, menyodorkan sepotong risoles hangat ke tanganku yang basah.
"Makan dulu, Mba," bisiknya. "Menangis itu perlu tenaga."