Sabtu sesudah arisan itu, mama sendiri yang menelepon Bapak dan memaksa menjemput mereka. Terminal pukul sembilan pagi bau solar dan gorengan, dan di antara kerumunan calo yang menawarkan taksi, mama berdiri tegak dengan tas kecil di dada seperti murid yang menunggu giliran dipanggil.
"Mama sudah di sini sejak setengah delapan," bisik sopir kepadaku sambil menahan senyum. "Dua kali beliau tanya apakah bus dari kampung bisa datang lebih awal."
"Bus tidak bisa lebih awal, Pak," kata mama tanpa menoleh. "Sopir busnya yang atur."
Aku tertawa pelan. Mas Indra menyusul di belakang kami, kemejanya rapi, rambutnya disisir lebih serius dari biasanya.
Bus dari arah kampung berhenti dengan desis rem. Orang-orang turun dengan karung dan tas plastik, dan di antaranya, pelan-pelan, Bapak muncul dengan peci hitam dan jaket tipis, menenteng karung beras kecil. Di belakangnya mamaku menggendong bakul bambu yang tertutup kain. Rafi turun terakhir, dengan ransel besar dan wajah menahan kantuk.
Mama mertuaku maju. Ia berhenti satu langkah dari Bapak dan menjulurkan kedua tangannya.
"Selamat datang, Pak. Bu." Ia mengangguk kepada mamaku. "Terima kasih sudah mau datang."
"Terima kasih sudah dijemput, Bu," jawab Bapak. "Kami bisa naik angkot."
"Tidak bisa," kata mama tegas. "Tamu dijemput." Ia mengambil karung dari tangan Bapak, yang tidak sempat menolak, dan memberikannya kepada sopir seolah itu hal paling biasa di dunia.
Rafi menyalamiku sambil berbisik, "Teh, mamanya Mas Indra jemput di terminal. Itu bukan mimpi, kan?"
"Bukan. Jangan bilang-bilang."
***
Di dapur rumah kami, tiga perempuan berdiri di sekeliling meja yang penuh dengan cabai merah, tomat, terasi bakar, dan jeruk limau yang baru dipotong. Aku menyingkir ke pojok dengan pisau di tangan, memotong kangkung yang sebenarnya sudah terlalu rapi.
"Terasinya harus dibakar sampai wangi, Bu, bukan sampai hangus," kata mamaku sambil memutar tusuk bambu di atas api. "Kalau hangus pahit. Kalau mentah anyir. Di tengah-tengahnya saja."
Mama mertua memperhatikan dengan alis berkerut. "Di tengah-tengah itu berapa lama?"
"Sampai Ibu mencium bau yang membuat perut keroncongan."
Mama mertua mengendus. Matanya menyipit. "Ini. Sekarang?"
"Sebentar lagi." Mamaku tersenyum kecil. "Ibu sabar saja."
Aku menatap punggung kedua perempuan itu. Mama mertua yang dulu merampas dapurku dengan jadwal di pintu kulkas sekarang berdiri patuh, menerima ulekan dari tangan ibuku, menekan cabai dengan garam, dan ketika tanah liat ulekan itu berbunyi nyaring ia mengerutkan bibir dan berkata, "Tangan saya tidak cocok."
"Sini, Bu. Begini." Mamaku menumpangkan tangannya di atas tangan mama mertua, menggerakkan ulekan memutar. "Jangan ditekan, diputar. Biar cabainya menyerah sendiri."
"Menyerah sendiri," ulang mama mertua pelan, dan aku merasakan kalimat itu menggelitik sesuatu di ulu hatiku.
Mamaku menoleh padaku. "Teh, ambilkan buku resep. Mama mau menuliskan takarannya untuk Ibu."
Buku resep itu berada di rak atas lemari dapur, buku tulis bersampul hijau yang kuisi dengan catatan masakan sejak menikah. Aku mengambilnya dan baru ingat, ketika menyerahkannya, bahwa di halaman tengah ada selembar kertas yang kulipat dan kuselipkan sendiri pada malam sesudah mama merobeknya.
Terlambat. Mamaku sudah membuka halaman itu.
Kertas lipatan itu jatuh ke meja. Tepinya bergerigi bekas robekan. Di tengahnya, lingkaran merah tebal bolong dan kasar.
Mamaku menatapnya. Lalu mengangkat kepala, dan matanya mencari mata mama mertua.
Dapur mendadak sunyi. Hanya bunyi api kompor dan terasi yang mendesis.
"Itu hitungan saya, Bu," kata mama mertua.
Aku menahan napas. Dari ambang pintu, Mas Indra yang baru masuk membawa gelas air terhenti di tempat.
"Tanggal yang saya lingkari itu tepat satu tahun sejak akad anak-anak." Suara mama mertua datar, tanpa menyembunyikan apa-apa. "Saya menetapkannya sendiri. Saya bilang pada diri saya, kalau sampai hari itu belum ada cucu, Aisyah harus pergi dari rumah anak saya. Saya bahkan bilang itu padanya, di telinganya, di hari kedua pernikahannya." Ia menelan ludah. "Itu salah, Bu. Saya merobeknya sendiri di ruang tamu anak-anak, dan Aisyah yang menyimpannya. Mungkin supaya saya tidak lupa saya pernah sejahat itu."
Mamaku menatapnya lama. Tidak terkejut, tidak marah, hanya menimbang. Aku mengenali tatapan itu. Itu tatapan yang diwariskan kepadaku.
Ia melipat kertas itu kembali, hati-hati sekali, lalu menaruhnya di tengah buku resep seperti menaruh daun kering di antara halaman.
"Anak saya kuat karena dibesarkan sabar, Bu," katanya, pelan dan jelas. "Bukan karena tidak pernah disakiti. Dia kuat karena dia belajar dari kami bahwa orang bisa salah, lalu belajar." Ia menyentuh punggung tangan mama mertua yang masih memegang ulekan. "Terima kasih sudah belajar, Bu."
Mama mertua menunduk. Bahunya bergetar sebentar. Lalu ia mengangkat ulekan dan berkata dengan suara serak, "Cabainya belum menyerah."
"Putar saja, Bu," sahut mamaku. "Pelan-pelan."
***
Siang itu kami makan di meja panjang yang ditarik dari ruang makan ke ruang tengah, dua keluarga, satu hidangan: nasi putih mengepul, ikan asin goreng, tumis kangkung, tempe goreng, dan satu mangkuk besar sambal terasi yang warnanya jauh lebih pucat dari buatan Mama.
Papa menyusul dari pabrik sebelum tengah hari, dan sebelum meja siap ia dan Bapak sudah duduk berdua di teras. Dari dalam rumah aku mendengar potongan percakapan mereka: soal ladang yang kekurangan hujan, soal harga bahan jati yang naik, soal cara memasang pagar bambu yang tahan rayap. Dua laki-laki yang jarang bicara itu ternyata lancar berbicara pada hal-hal yang tidak berat.
Mama mertua menyendokkan tempe ke piring Bapak lebih dulu, bahkan sebelum ke piring papa. "Atuh, Bu, saya bisa ambil sendiri," kata Bapak.
"Biarkan saya melayani tamu, Pak," jawab mama mertua, dan Bapak, yang tidak pernah dilayani siapa pun selain istrinya, menerima piring itu dengan kedua tangan dan tampak salah tingkah.
Mas Indra mengambil nasi dua centong dan tumis kangkung segunung. Ia menuangkan sambal di atasnya tanpa menunggu siapa pun, lalu memakan semuanya dengan suapan yang mantap, tanpa lirikan ke piring orang lain. Rafi, yang duduk di sebelahnya, melongo.
"Mas, katanya nggak suka sayur?"
"Dulu." Mas Indra menelan. "Sekarang suka. Tapi jangan bilang-bilang Mama."
"Mama dengar," kata mama mertua dari ujung meja, dan seluruh meja tertawa. Rafi tertawa paling keras, sampai tersedak, dan Mas Indra menepuk punggungnya dengan ekspresi pura-pura serius, dua laki-laki yang sebulan lalu saling mengabaikan sekarang saling mengejek soal sambal.
Mama mertua mencicipi sambalnya sendiri, mengerutkan dahi. "Kurang pedas."
"Bagus untuk pemula, Bu," ujar mamaku.
Menjelang sore, kami mengantar mereka ke teras. Bapak berdiri bersama Mas Indra di dekat pagar, dan aku menangkap kalimat terakhir yang diucapkannya, rendah, hanya untuk satu telinga.
"Jaga Teteh, Nak Indra." Bapak menepuk bahu menantunya dua kali. "Tapi lebih dari itu, jaga dirimu."
Mas Indra mengangguk, lalu menggenggam tangan Bapak dengan kedua tangannya.