Tiga puluh lima hari sesudah Sabtu di terminal itu, tiap pagi Mas Indra masih menelan obatnya di meja dapur, lalu membuka telapak tangannya lebar-lebar seperti pesulap yang membuktikan tidak ada apa-apa di sana.
"Sudah, dek."
"Adek percaya, Mas."
"Mas mau dek lihat juga." Ia menunjuk kalender dapur, tempat ia sendiri mencentang tiap kotak setelah minum tanpa disuruh, dan kotak-kotak itu sudah berderet sampai ujung bulan. Dua kali kontrol tiap dua pekan lewat tanpa kabar buruk, mama dan papa datang tiap akhir pekan dengan bungkusan masakan yang makin lama makin bisa dimakan, dan malam Jumat kami isi dengan bicara, dari harga bensin sampai mimpi buruk Mas Indra yang makin jarang datang.
Sabtu pagi itu kami duduk lagi di kursi plastik biru di Jalan Kenanga nomor sebelas. Poster cuci tangan masih di dinding, dan aku sudah tidak perlu membacanya.
"Tenang, dek," bisik Mas Indra tanpa menoleh. Padahal tangannya yang menggenggam jemariku dingin sekali.
"Adek tenang. Mas yang berkeringat."
"Mas tidak berkeringat." Ia mengusap pelipis dengan punggung tangan yang bebas. "Ini sisa wudu."
"Wudu itu tadi pukul lima."
Ia menyeringai kecil, dan namanya dipanggil.
Dokter itu membuka map tebal yang sekarang berisi banyak lembar. Ia membaca dengan jari yang menelusuri deretan angka, bergerak lambat sekali, dan setiap kali jarinya berhenti aku merasakan jantungku ikut berhenti. Di ujung meja, jam dinding berdetak dengan bunyi yang kali ini terdengar sengaja.
"Pak Indra," katanya akhirnya. Ia melepas kacamata dan meletakkannya di atas map. "Saya ingin Bapak dan Ibu mendengar ini perlahan."
"Silakan, Dok."
"Hasil bulan ini membaik nyata. Bukan lagi naik sedikit seperti sebelumnya. Jumlah dan gerak sudah mendekati batas bawah normal." Ia mengetuk lembar paling atas dengan ujung jari. "Saya tidak akan mengatakan ini jaminan, karena tidak ada dokter yang pantas menjaminkan. Tapi peluang secara alami sekarang wajar. Wajar, Pak, bukan lagi sangat kecil."
Aku mendengar kata itu, dan dadaku ikut longgar.
Mas Indra tidak bergerak. Ia memandang dokter dengan mulut sedikit terbuka, dan aku mengira ia belum menangkap. "Maksud Dokter..."
"Maksud saya, obatnya cukup. Pola hidup Bapak baik, tidurnya lebih teratur, dan menurut catatan tekanan di kantor menurun." Dokter tersenyum lebar, senyum yang jarang ia perlihatkan. "Kita lanjutkan sebulan lagi supaya stabil. Setelah itu, Bapak dan Ibu tidak perlu menunggu lagi atas anjuran saya. Hidup saja seperti suami istri yang tidak sedang dikejar waktu."
"Dikejar waktu," ulangku lirih.
"Itu hal yang paling sering menghambat, Bu." Ia menatapku dengan mata lembut di balik kerut. "Tubuh tahu kapan dikejar."
Kami keluar dari ruangan itu tanpa kata. Mas Indra berjalan setengah langkah di depanku, tangannya yang tadi dingin sekarang kaku di sisi tubuh. Di lorong yang sempit, dengan lantai keramik putih dan dinding yang ditempeli foto-foto bayi dari pasien-pasien lama, ia berhenti.
Ia tidak berbalik. Ia berdiri menghadap dinding dengan punggung tegak sampai bahunya mulai bergetar.
"Mas?"
"Sebentar, dek."
"Mas tidak perlu sebentar."
Ia berbalik, dan wajahnya sudah basah. Tidak ada suara. Air mata hanya meluncur dan terus meluncur, dan matanya menatapku dengan keheranan.
"Mas pikir tidak akan pernah," bisiknya. "Mas pikir sampai akhir Mas akan mendengar 'maaf' dari dokter."
Aku melangkah maju. Tanpa bertanya, karena ia sudah membuka lengannya, kupeluk dia. Ia menempelkan dahinya ke dahiku sambil meraba saku jaket dengan satu tangan yang gemetar. "Mas mau telepon Mama. Tidak, tunggu. Mas belum bisa bicara." Perawat di ujung lorong yang membawa baki alat menunduk lalu berbalik arah dengan sopan.
"Mas tidak pernah mendengar 'maaf' dari dokter," kataku dengan dahi masih menempel. "Mas mendengar apa yang Mas kerjakan sendiri. Obat setiap hari. Datang setiap dua pekan. Mas yang berjalan, Mas."
"Tapi dek yang menunggu di ruang tunggu."
"Adek tidak menunggu. Adek duduk."
Ia tertawa di antara isak, tawa pecah yang membuat bahuku ikut berguncang, dan kami berdiri di lorong klinik itu lama sekali.
***
Kami tidak pulang. Di mobil, Mas Indra menyalakan mesin, tidak menurunkan rem tangan, lalu menoleh.
"Dek. Kita ke mana?"
"Pulang, kan?"
"Mas tidak mau pulang." Ia terdengar seperti anak kecil yang mengaku. "Mas mau... Lembang. Berdua. Seperti dulu, yang belum selesai."
Aku mengingat kabut pagi Lembang yang terputus telepon mama, bubur hangat, kalimat yang tidak sempat selesai. "Kalimat Mas dulu, 'kalau suatu hari Mas tidak bisa memberimu apa yang kamu mau'... Mas mau selesaikan?"
Ia menggeleng pelan. "Tidak perlu. Kalimat itu sudah dibatalkan." Ia menarik napas panjang. "Dek, dokter bilang jangan dikejar waktu. Mas juga tidak mau lagi. Kita tidak menunggu garis dua untuk bahagia."
Kalimat itu mendarat di dadaku dengan cara yang tidak kuduga.
"Siapa yang mengajari Mas?"
"Tidak ada yang mengajari." Ia mengerutkan dahi, mencari-cari. "Kayaknya Mas belajar dari kamu, deh. Waktu kamu duduk di depan pintu."
Kami berangkat ke Lembang tanpa membawa apa pun. Di jalan, ia membeli stroberi dari penjual di tikungan, menyuapkannya ke mulutku dengan satu tangan sambil menyetir, dan aku mengingatkannya, sambil tertawa, bahwa itu bukan cara menyetir yang benar. Ia hanya menjawab, "Boleh?" dan aku menjawab, "Boleh," dan stroberi berikutnya sampai di bibirku sebelum ia menunggu jawaban.
Kami duduk di warung bubur yang sama, makan di bangku kayu yang sama, dan udara dingin masih seperti dulu. Bedanya, kali ini ponsel tidak bergetar. Ponsel Mas Indra tergeletak di meja, layar menghadap ke bawah, dan ia tidak menyentuhnya sekali pun, kecuali sekali, ketika ia membalik layarnya, mengetik pesan pendek, lalu membaliknya lagi.
"Mas kirim ke siapa?" tanyaku.
"Mama." Ia menyodorkan ponselnya. Di layar tertulis: Hasilnya bagus, Ma. Besok Indra ceritakan semuanya, sekarang Indra mau makan bubur dulu sama Aisyah. Balasan mama datang sebelum bubur kami dingin: satu kata, Alhamdulillah, disusul satu pesan lagi, Jangan lupa pakai jaket. Mas Indra tertawa sampai sendoknya berdenting di mangkuk.
***
Matahari sudah turun ke balik atap ketika kami tiba di rumah. Mas Indra tidak langsung masuk. Ia membuka bagasi dan menurunkan topi rajut yang tadi ia beli untukku di Lembang, menaruhnya di kepalaku sambil memiringkannya dua kali supaya pas. Lalu ia menurunkan dua kantong plastik dari toko tanaman di jalan pulang, dan berjalan ke halaman belakang.
Dua pot tanah liat yang kubeli diam-diam dulu masih bersandar di tembok. Tanahnya sudah lama kubiarkan kosong, dan aku tidak pernah tahu harus menanam apa. Mas Indra berjongkok, merobek bungkus kecil berisi benih, dan menuang sedikit ke telapak tangannya.
"Brokoli," katanya, tanpa mengangkat kepala.
Aku hampir tertawa. "Mas yang tidak mau makan sayur."
"Mas yang mau makan sayur yang Mas tanam sendiri." Dengan jari telunjuk, ia membuat lubang kecil di tanah, menaruh benih satu per satu, lalu menutupnya pelan-pelan seperti menidurkan bayi. "Kalau tumbuh, kita makan. Kalau tidak tumbuh, kita tanam lagi."
Aku berjongkok di sampingnya, mengambil bungkus kedua, dan menanam benih di pot satunya. Tanah dingin menempel di ujung jariku. Langit di atas tembok berubah jingga, lalu ungu muda. Dan di antara dua pot tanah liat itu, tangan kami bersentuhan, tidak sengaja, lalu sengaja.