Dua helai daun mungil muncul di pot sebelah kiri pada hari kelima, dan Mas Indra mengabarkannya kepadaku seperti kabar kelahiran.
"Dek! Dek, sini! Keluar dulu!"
Aku berlari ke halaman belakang dengan sendok di tangan, mengira ada kecoak atau ular. Mas Indra berjongkok di depan pot tanah liat dengan senter ponsel menyorot tanah. Dua daun sebesar kuku jempol tegak di sana, hijau pucat, gemetar tertiup angin.
"Itu brokoli?" tanyaku.
"Itu brokoli." Ia mendongak dengan wajah yang belum pernah kulihat seriang ini. "Kamu lihat? Yang kanan belum tumbuh, tapi yang kiri sudah."
"Mas, itu baru dua daun."
"Baru!" Ia membantah sambil berdiri. "Dulu Mas bahkan tidak kenal brokoli sampai kamu mengancamnya di meja makan."
"Adek tidak mengancam brokolinya. Adek mengancam Mas."
"Sama saja bagi brokoli." Ia mengambil sendok dari tanganku, mengetuk bibir pot pelan-pelan seperti memberi salam, lalu menggandengku masuk. "Ayo. Malam Jumat."
***
Kertas aturan rumah kami tempel di dalam pintu lemari dapur, di bawah foto kecil rak bumbu. Kami membukanya tiap Kamis sesudah Isya, menaruh dua cangkir teh di meja makan, mematikan televisi, dan menjauhkan ponsel masing-masing hingga ke ujung meja. Sudah delapan Kamis kami lewati, mulai dari saling canggung sampai bisa menyebut hal-hal kecil, seperti ujung kaos kaki yang ditaruh sembarangan, tanpa merasa dihakimi.
Malam itu dimulai seperti biasa. Mas Indra menceritakan rapat dengan klien yang menawar terlalu rendah. Aku menceritakan Bu Ratna yang mampir membawa bolu pandan dan bertanya kapan kami berkunjung ke rumahnya. Mas Indra mengaku hampir lupa minum obat siang tadi dan teringat setelah lima menit. Aku mengaku salah memarahi Bibi, lewat telepon, karena bumbu yang ia kirim ternyata benar.
"Sudah?" tanyaku.
"Sudah." Ia menyesap teh. "Tapi Mas merasa masih ada satu."
Aku menunggu.
"Rahasia kecil," katanya, ragu. "Terakhir. Mas curiga kamu juga punya."
Aku menatap cangkirku. Uap teh naik tipis di antara kami, dan di belakangku terdengar jam dinding berdetak.
"Boleh adek duluan?"
"Silakan."
"Adek masih menghitung hari." Kata-kata itu keluar lebih mudah dari yang kukira, dan justru karena mudah, dadaku terasa perih. "Tiap pagi, di kamar mandi, tanpa sadar. Dokter sudah bilang jangan, dan adek tahu itu tidak membantu, tapi tangan adek menghitung sendiri. Dua puluh delapan, dua puluh sembilan, angkanya muncul sendiri di kepala adek. Adek ingin berhenti, Mas. Adek tidak tahu cara."
Mas Indra tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangan di seberang meja, telapak menghadap atas, dan menunggu. Aku meletakkan tanganku di atasnya.
"Mas juga," katanya. "Mas masih berdebar tiap ponsel berbunyi dengan nama Mama di layar. Padahal sekarang Mama cuma bertanya Mas sudah makan atau belum, atau jaket Mas sudah dibawa. Tapi badan Mas masih mengira itu 17 panggilan tak terjawab." Ia tersenyum miris. "Badan Mas belum percaya sama Mama."
"Itu wajar."
"Wajar, tapi Mas tidak mau menyimpannya. Itu kesepakatan kita." Ia meremas tanganku. "Jadi Mas bilang."
"Adek juga."
Kami saling pandang, dan keheningan yang menyusul bukan keheningan yang dulu. Tidak ada yang mengancam di dalamnya.
"Kalau adek terlalu banyak menghitung, Mas ingatkan," kataku. "Kalau Mas berdebar, adek duduk di sebelah Mas, tanpa bertanya."
"Pakai teh."
"Pakai teh," aku mengulang, dan kami tertawa pelan.
***
Sebelum tidur, ketika aku membereskan sajadah di sisi ranjang, ada selembar kertas terlipat di dalam lipatannya. Kertas yang sama dengan yang dulu kuselipkan di sajadah suamiku, dengan lipatan dua yang sudah lusuh, hanya saja kali ini tulisan tangannya bukan tulisanku.
Aku membukanya.
Terima kasih sudah mengajakku pulang.
Hanya itu. Satu kalimat, dengan tanda tangan di bawahnya dan tanggal di pojok, huruf-hurufnya tegak dan rapi tetapi ujung pulpennya menekan terlalu dalam di huruf terakhir, seperti tangan yang gemetar saat menulis.
Mas Indra masih di kamar mandi. Aku mengambil pulpen dari laci meja rias, duduk di tepi ranjang, dan menulis satu kalimat di bawah kalimatnya, lalu melipat kertas itu dan menaruhnya kembali di atas bantalnya.
Pintunya memang tidak pernah dikunci, Mas.
Ketika ia keluar dengan rambut basah, ia melihat kertas itu, membacanya, dan tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di tepi ranjang di sampingku dan menyandarkan kepala di bahuku selama waktu yang cukup panjang.
Lalu pintu depan diketuk, dua kali tergesa, lalu satu kali ragu.
Aku melirik jam. Hampir pukul sembilan malam. Mas Indra mengangkat kepala dan mengerutkan dahi, lalu wajahnya melunak dengan cepat.
"Mama," kata kami berbarengan.
***
Mama berdiri di teras dengan rantang bersusun tiga di dua tangan dan tas kain tersandang di bahu. Sopir menunggu di mobil, kali ini bukan membaca koran, melainkan menatap kami dengan ekspresi orang yang sudah diberi pesan jangan ikut campur.
"Mama ketuk dulu," katanya, seperti melaporkan hasil ujian.
"Mama mengetuk bagus sekali," kata Mas Indra. "Silakan masuk, Ma."
"Tidak. Mama cuma mengantar ini." Ia menyodorkan rantang. "Mama tahu malam Jumat kalian malam bicara. Papa bilang jangan mengganggu. Tapi sambal ini sudah jadi dan kalau tidak diantar sekarang basi."
Aku membuka tutup rantang paling atas. Di dalamnya, sambal terasi merah tua, dengan irisan jeruk limau di sampingnya. Aku mencium baunya dan hampir menjatuhkan tutup.
"Mama," kataku, menahan napas. "Ini..."
"Kenapa? Kurang pedas?" Mama mencondongkan tubuh. "Ibumu bilang jangan pelit cabai."
Mas Indra mencelupkan jarinya ke sambal, merasakan, dan matanya langsung berair. "Ma, ini pedasnya... pedas bukan main."
"Tidak mungkin." Mama mencicip sendiri dengan ujung sendok, dan wajahnya berubah beberapa warna dalam tiga detik. "Astaghfirullah. Cabainya salah jenis. Bibi tidak bilang itu cabai rawit setan."
Aku tertawa sampai terbungkuk. Mas Indra bersandar ke kusen dengan wajah merah dan air mata di sudut mata, entah karena pedas atau karena tawa. Dan mama, yang berdiri dengan sendok di tangan dan keringat di dahi, ikut tertawa. Bukan senyum tipis atau dengusan, tetapi tawa lepas yang membuat bahunya berguncang dan kerudungnya miring. Dari mobil, sopir yang tadi pura-pura tak melihat menekan klakson pendek, mungkin kaget.
"Lain kali pakai yang biasa," kataku sambil mengusap mata. "Mama sudah dekat."
"Dekat?" Mama masih terengah.
"Sudah hampir pas."
Mama menarik napas, merapikan kerudung, dan menatap kami berdua bergantian dengan mata yang hangat dan agak basah. Lalu ia menepuk rantang itu seperti menepuk kepala anak.
"Setahun kalian sebentar lagi," katanya. "Mama yang masak."