Seratus satu hari berlalu sejak malam sambal rawit setan itu, dan pagi Minggu ini genap setahun sejak akad kami, hari yang mama janjikan untuk dimasaki sendiri. Hasil kontrol di Jalan Kenanga tetap baik, dua pot brokoli tumbuh lebih tinggi dari dugaan siapa pun, mama kini menitip resep baru di setiap telepon, dan pagi Minggu itu aku terlambat sembilan hari.
Semalam aku sudah mengatakannya. Aturan rumah di dalam pintu lemari dapur berbunyi tidak ada diam yang lebih lama dari semalam, jadi sehabis Isya aku duduk di tepi ranjang, memegang ujung selimut, dan berkata pelan, "Mas, adek terlambat."
Mas Indra menatapku beberapa detik. Lalu ia menarik napas panjang. "Sudah berapa hari?"
"Sembilan."
"Kita jangan berharap dulu, dek." Suaranya serak, tetapi tangannya yang memegang tanganku mantap. "Besok pagi kita lihat bersama. Apa pun hasilnya, kita lihat bersama."
"Janji?"
"Janji. Pakai teh."
Pagi itu aku masuk kamar mandi dengan bungkus kecil di tangan dan jantung yang berdegup di tempat yang salah. Mas Indra berdiri di luar pintu, punggung menempel di dinding, mata terpejam, dan aku mendengarnya berzikir dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Mas," panggilku dari dalam.
"Iya, dek."
"Adek buka pintunya."
"Boleh."
Aku membuka pintu. Ia membuka matanya. Alat kecil itu ada di tanganku, menghadap ke arahnya, dan di jendela mungilnya tampak dua garis merah. Bukan samar seperti dulu, bukan garis yang harus dimiringkan ke arah cahaya. Dua garis tegas, setegas lingkaran tinta merah mama di halaman yang pernah dirobek.
Mas Indra memandanginya lama sekali.
Lalu lututnya menekuk. Ia tidak jatuh. Ia turun pelan-pelan, sampai dahinya menyentuh ubin yang dingin, dan dari tubuhnya yang meringkuk itu keluar suara yang kuingat dari subuh di ladang Bapak, suara orang yang kehabisan kalimat untuk bersyukur dan hanya sanggup bersujud.
Aku duduk di sampingnya dan meletakkan tangan di punggungnya. Dua garis itu bersinar di tangan kiriku, dan aku menangis sambil tertawa.
"Dek," katanya akhirnya, dengan wajah basah, masih di lantai. "Besok kita ke Dokter Hanifah. Kita pastikan. Jangan ditunda."
"Besok. Dan hari ini?"
"Hari ini kita ke rumah Mama." Ia menyeka mata dengan lengan baju. "Mas mau bawa brokoli."
***
Rumah mama dan papa sore itu terang benderang untuk makan malam peringatan setahun kami. Meja panjang di ruang makan sudah ditata dengan taplak putih, dan di setiap kursi ada kartu kecil dengan tulisan tangan mama yang miring-miring: Bapak, Mama, Rafi, Bibi. Bibi menolak duduk tiga kali sebelum papa memaksanya dengan satu kalimat pendek.
"Bi, ini perintah majikan."
"Aduh, Pak, kalau perintah ya Bibi duduk."
Bapak datang dengan peci hitam dan karung beras kecil, mamaku dengan bakul bambu berisi peyek yang kacangnya utuh. Rafi memeluk Mas Indra di pintu dan memukul punggungnya.
"Awas, Mas, kalau Teteh capek."
"Mama masak semuanya, Fi. Mas cuma kebagian brokoli, dan Teteh tidak boleh pegang pisau malam ini."
"Serius?"
"Serius. Aturan rumah."
Mas Indra membawa tas kain besar. Ia meletakkannya di tengah meja, merogoh, dan mengeluarkan seikat brokoli kecil dengan akar yang masih menempel tanah. Kuntumnya hijau gelap, sebesar kepalan anak.
"Panen pot halaman belakang," katanya, setengah malu. "Yang kiri. Yang kanan menyusul."
Ia sendiri yang menumisnya di dapur mama, dengan bawang putih dan sedikit udang kering, ditonton mama yang berdiri di sampingnya membawa piring saji. Ketika piring itu mengepul di meja, percakapan berhenti. Mas Indra menyendok sendiri tanpa menunggu siapa pun, memindahkannya ke piringnya, dan memakan suapan pertama dengan tenang.
"Enak?" tanya Rafi dengan mulut penuh.
"Enak." Mas Indra mengunyah. "Agak pahit di ujung. Mas kurang sabar menunggu mekar."
"Brokoli itu memang begitu, Nak," kata mamaku pelan. "Kalau dipetik terlalu cepat, ada pahitnya. Tapi tetap bisa dimakan."
"Belum bukan tidak," timpal Bapak, dan seisi meja tertawa karena semua hafal kalimat itu.
Mama mengulurkan sendok ke piring saji dan mengambil satu kuntum. Dahinya mengerut begitu pahitnya sampai di lidah, tetapi ia mengunyah sampai habis, lalu mengambil satu lagi. "Pahit," katanya, kepada siapa pun yang mau mendengar. "Mama habiskan." Hanya itu, dan Mas Indra, yang pura-pura sibuk dengan nasinya, tersenyum ke piringnya.
Sesudah makan, mama bangkit dan berjalan ke sampingku. Aku menyangka ia hendak mengambil piring.
Ia menyentuh gelang emas tuanya, bukan memutar, melainkan melepasnya, perlahan, sisi demi sisi, dan gelang itu terlepas dengan denting halus yang membuat seluruh meja menoleh.
"Aisyah."
"Iya, Ma."
Ia memegang tanganku, membalik telapaknya, dan meletakkan gelang itu di sana. Berat, hangat dari kulitnya. Nenek Indra yang tak pernah kukenal pernah menyerahkannya sambil berkata satu kata, akhirnya, dan benda ini sudah mengurung mama selama dua puluh delapan tahun.
"Ini bukan bayaran untuk cucu," kata mama. "Ini untuk menantu Mama."
Ia menutup jemariku di atas gelang itu dengan tangannya sendiri, seperti dulu menutup jemariku di atas kunci rumah. Papa menunduk. Bapak mengangguk pelan. Di ujung meja, mamaku menutup bibir dengan tangan, dan Bibi mulai menyeka mata dengan serbet makan.
Aku menarik napas panjang.
"Ma. Aisyah punya kabar."
Mama menatapku.
"Mama akan menjadi nenek."
Kalimat itu menggantung sepanjang satu napas. Lalu mama menutup mulut dengan kedua tangan, dan sebelum aku sempat menambah apa pun, ia menarikku ke dalam pelukannya. Bukan pelukan kaku seperti di dapur, bukan pelukan kecil. Lengannya melingkariku seperti merangkul sesuatu yang hampir hilang.
"Alhamdulillah," bisiknya di telingaku. "Alhamdulillah, alhamdulillah."
"Baru tes di rumah, Ma. Besok baru ke dokter."
"Mama tidak peduli." Ia tertawa di antara isak. "Mama sudah mendengar dari Allah."
"Jadi Rafi paman?" seru Rafi, menoleh ke mama dan ke aku bergantian.
"Paman Rafi," sahut papa dari kepala meja, suaranya bergetar. "Ya Allah, anak-anak ini."
Bibi sudah menangis keras dengan serbet di wajah. Mamaku bangkit dan memelukku dari belakang. Bapak hanya menepuk bahu Mas Indra dan berbisik sesuatu yang tak terdengar, dan Mas Indra, di ujung meja, tak bergerak dari tempatnya, menatapku dengan mata yang sudah tahu semuanya.
***
Malam itu kami duduk di teras rumah kami sendiri. Langit bersih, dan di halaman belakang dua pot tanah liat berdiri di dekat tembok, menunggu giliran panen. Gelang emas tua itu melingkar di pergelangan tanganku, terlalu besar, berdenting setiap kali aku bergerak, bunyi yang dulu membuat perutku mengerut dan sekarang terdengar seperti lonceng kecil.
Mas Indra duduk di sampingku, bahu kami bersentuhan. Kami diam beberapa menit. Itu boleh. Diam yang tak berumur sampai semalam berikutnya.
"Dek," katanya, memecah sunyi itu sendiri. "Kamu ingat apa kata Mama soal warna?"
"Apa?"
"Kuning. Katanya jangan biru, jangan merah muda." Ia terkekeh. "Padahal dokter belum konfirmasi."
"Mama memang selalu satu langkah di depan."
"Kali ini Mas tidak keberatan." Ia memandang langit. "Dek takut?"
"Sedikit."
"Mas juga. Banyak." Ia mengusap pergelangan tanganku yang bergelang. "Tapi kita bicara, kan, tiap malam Jumat?"
"Tiap malam Jumat. Dan tiap malam lainnya kalau perlu."
"Pakai teh."
"Pakai teh."
"Mas," kataku.
"Iya, dek."
"Terima kasih sudah kembali."
Mas Indra menoleh. Cahaya lampu teras jatuh separuh di wajahnya. Ia tersenyum, senyum paling kecil dan paling jujur yang pernah kulihat sejak ia mengecup keningku di hari akad.
"Mas tidak pernah pergi jauh, dek," katanya. "Mas cuma tersesat sebentar."
Tangannya mencari tanganku, dan kali ini ia tidak bertanya.
TAMAT