Dengan masih tersenyum dan memandangi raya. Tiba tiba raya membangunkan lamunanya
“nyari kak deni pak? Kaget dengan pertanyaan raya yang memanggilnya bapak. Mau tidak mau ia menjawab, “ ia saya udah buat janji untuk menunggunya disini karna dia juga sudah arah pulang.
“oh. Jawaban singkat dari raya dan lang sung menutup pintunya kembali.
Tanpa disuruh duduk, ia pun berinisiatif sendiri untuk duduk saat hendak mendaraktkan bokongnya. Tiba2 raya nongol di balik pintu dengan kepala keluar pintu dan rambutnya terjuntai ke samping membuatnya kaget dan beristigfar kecil.
“Silahkan duduk dulu pak. Sambil tersenyum menyadari kekagetan arya.
Mengumpat dalam hati 2 kali arya di panggil bapak, apa aku setua itu sampai2 raya memanggilku bpk pdhal aku dan kakaknya seumuran. Ucapan dalam hatinya membuatnya bertanya2 apakah ia setua itu. Mungkin alasanya karna ia menggunakan pakaian batik, celana hitam dan sepatu hitam membuatnya terlihat formal karna ia baru saja keluar dari sekolah. Terus terus menggerutu dalam hatinya. Apakah aku setua itu.. apakah aku setua itu.
Terbuka kembalinya pintu rumah raya pun keluar dan membawakanya segelas air putih. Membuat buyar lamunanya kembali.
“Minum dulu pak. Sambil menaruh segelas air putih di atas meja di smping kursi tempat arya duduk. Setelah selesai ia kembali masuk kedalam rumah.
Melihat kepergian raya memasuki kedalam rumah, arya menarik nafas dan menghambuskanya secara kasar. Ketiga kalinya raya memanggilnya bapak.
Setengan jam berlalu akhirnya deni tiba dirumahnya melihat sahabatnya dari kejauhan. Bergegas turun dan menarik helmnya dan segera mendekati sahabatnya dan saling berjabat tangan. Satu jam berlalu begitu cepat saking asiknya mereka mengobrol hingga arya melihat jam tangan disebelah kerinya menunjukan jam setengan 5 sore. Aryapun pamitan kepada deni.
“den.. sudah sore saya pamit pulang .
“maaf tdi menunggu lama, terimakasih sudah mampir Hati2 dijalan bro.
Mereka berjabat tangan dan saling mungucp salam.