Hendra Salim terlihat lebih tua sepuluh tahun dari saat terakhir Alana berbicara dengannya di ruang rapat. Lelaki lima puluh delapan tahun itu duduk di kursi seberang meja eboni, di kantor lantai dua puluh enam yang dulu milik ayahnya, dengan jas yang sedikit terlalu longgar. Dalam dua minggu terakhir ia kehilangan kursi, sekutu, dan—yang paling menyiksanya—kepastian bahwa ia berada di pihak yang menang.
"Anda sudah menyerahkan semuanya," kata Alana. Di antara mereka terbentang map cokelat berisi mutasi rekening PT Bahari Logistik Nusantara, kontrak mark-up, dan kesaksian tertulis Hendra yang ditandatangani di hadapan pengacaranya kemarin malam. "Aliran dana ke Sentra Abadi. Tanda tangan Surya. Semuanya. Tapi saya tahu Anda menahan sesuatu, Pak Hendra."
Hendra tidak menatapnya. Ia menatap jam tangan di pergelangan Alana—jam tangan Bramantyo.
"Bagaimana Nona tahu?"
"Karena selama dua dekade Anda hidup dari menyimpan kartu di balik lengan baju. Orang seperti itu tidak menyerahkan kartu terakhirnya hanya karena takut penjara." Alana menutup map. "Dan karena Sekar mencatat: di hari Anda menandatangani pembelotan, Anda menanyakan satu hal sebelum tanda tangan. Anda bertanya apakah perlindungan saksi mencakup peristiwa di luar urusan vendor."
Sebuah otot di rahang Hendra berkedut.
"Apa yang Anda tahu soal tahun sembilan puluh delapan?" tanya Alana langsung.
Untuk waktu yang lama Hendra diam. Hujan mulai turun di luar dinding kaca, menggaris-garis langit Jakarta menjadi abu-abu.
"Saya bukan siapa-siapa di tahun itu," akhirnya Hendra bicara, suaranya serak. "Saya staf keuangan biasa, baru tiga tahun bekerja. Tapi saya yang diminta ayah Nona merapikan dokumen-dokumen yang belakangan saya sadari dipakai untuk menjerat Surya Danuatmaja."
Alana menahan diri agar wajahnya tidak berubah. "Merapikan."
"Saya tidak tahu apa isinya saat itu. Saya hanya disuruh memindahkan catatan transaksi dari satu rekening ke rekening lain di pembukuan, lalu membubuhkan tip-ex di atas satu nama dan memberi cap tanggal mundur." Hendra menelan ludah. "Pak Bramantyo bilang itu untuk merapikan administrasi. Saya percaya. Saya masih muda dan dia bos saya. Saya bahkan tidak sempat membaca nama yang saya tutup waktu itu. Baru bertahun-tahun kemudian saya sadar apa yang sebenarnya saya bantu sembunyikan—jejak orang lain yang sebenarnya menyusun jebakan, sementara Surya yang menanggung semuanya."
"Anda membantu menghapus jejak yang membuat Surya tampak menggelapkan dana."
"Saya tidak tahu siapa yang sebenarnya mengambil dana itu saat itu, Nona. Sumpah." Hendra mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya Alana melihat sesuatu yang menyerupai ketakutan jujur di matanya. "Yang saya tahu, dana itu memang hilang. Itu nyata. Tapi cara Surya dijadikan satu-satunya yang bersalah—itu disusun orang lain. Saya hanya tangan yang menutup namanya."
Ruangan terasa menyempit. Selama berminggu-minggu Alana mengejar gambaran ayahnya sebagai korban: lelaki yang ditikam dari belakang oleh sahabat lama. Kini gambar itu retak.
"Kenapa Anda menyimpan ini selama tiga puluh tahun?"
Hendra tersenyum pahit. "Karena ini satu-satunya alasan ayah Nona tidak pernah memecat saya, sekalipun ia tahu saya mencuri lewat PT Bahari. Saya tahu rahasianya. Dia tahu rahasia saya. Kami saling memegang leher." Ia menunduk. "Itu sebabnya Surya merekrut saya. Dia tahu saya pernah menjadi tangan yang membantu menutupi jebakan atas dirinya. Dia ingin tangan itu kembali—kali ini untuk merobohkan keluarga yang dulu menyuruh saya."
Alana berdiri perlahan dan berjalan ke dinding kaca. Refleksinya tipis di atas kota yang basah.
"Anda menukar potongan kebenaran ini," katanya tanpa menoleh, "untuk keselamatan Anda sendiri. Bukan karena Anda menyesal."
"Saya tidak akan berbohong soal itu di hadapan orang yang sudah memegang seluruh dokumen saya," jawab Hendra. "Tapi, Nona—ada satu hal lagi yang harus Nona pahami. Kalau benar saya hanya tangan, kalau benar bukan saya yang mengambil dananya... maka pertanyaannya bukan apakah Surya bersalah. Pertanyaannya: siapa yang benar-benar mengantongi uang yang hilang itu. Karena orang itu masih hidup. Dan dia membiarkan Surya membakar segalanya untuk menutupi jejaknya sendiri."
Alana berbalik. "Anda tahu siapa orangnya?"
Hendra menggeleng pelan. "Tidak. Tapi saya tahu di mana Nona harus mulai mencari. Arsip krisis sembilan puluh delapan—bukan yang resmi. Yang dipindahkan ayah Nona ke gudang pribadinya, di luar kantor." Ia menarik napas. "Dia tidak pernah membakarnya, Nona. Pria yang membakar bukti tidak menyimpan kuncinya seumur hidup. Pertanyaannya, kenapa dia menyimpannya."
Alana menggenggam jam tangan di pergelangannya. Untuk pertama kalinya sejak ayahnya wafat, ia tidak yakin apakah ia sedang mengejar pembunuh ayahnya—atau membongkar dosa ayahnya sendiri.