Gudang pribadi Bramantyo berada di sebuah ruko tiga lantai di kawasan Glodok, atas nama sebuah perusahaan jasa pergudangan yang tidak pernah benar-benar beroperasi. Sekar yang menemukan jejaknya, dari tagihan listrik bulanan kecil yang tidak pernah masuk pembukuan resmi Wijaya Group—delapan ratus ribu rupiah per bulan, dibayar dari rekening pribadi mendiang Bramantyo selama hampir tiga dekade.
"Ayah saya membayar tagihan tempat ini bahkan sampai bulan ia meninggal," kata Alana, berdiri di depan pintu besi berkarat. Reza, teknisi dari Singapura, sudah memeriksa tempat itu lebih dulu: tidak ada penyadap, tidak ada yang mengikuti. "Tiga puluh tahun ia tidak membakar apa yang ada di dalam sini."
"Kadang orang menyimpan sesuatu bukan karena ingin mengingatnya," kata Sekar pelan. "Tapi karena tidak sanggup melepaskannya."
Di dalam, debu menggantung tebal di udara. Rak-rak baja penuh kardus berlabel tahun. Alana langsung menuju yang bertanda 1998. Di dalamnya: berbundel-bundel fotokopi pembukuan, korespondensi bank, dan—yang membuat napasnya tertahan—buku catatan kulit milik ayahnya, jenis yang sama dengan yang dipakai Bramantyo sampai akhir hayatnya.
Mereka membaca sampai larut. Lampu neon berdengung. Dan perlahan, kebenaran yang dijaga ayahnya selama tiga puluh tahun mulai tersusun.
Dana yang hilang di tahun sembilan puluh delapan berjumlah tiga ratus miliar rupiah—angka raksasa untuk masa itu, cukup untuk meruntuhkan perusahaan yang sedang sekarat dihantam krisis. Tuduhannya: Surya Danuatmaja memindahkan dana itu ke rekening luar negeri untuk kepentingan pribadi, lalu hendak menjual perusahaan ke investor asing untuk menutupi jejak.
Tapi pembukuan asli menceritakan hal lain.
"Lihat ini," kata Alana, jarinya menyusuri kolom angka. "Dana tiga ratus miliar itu memang keluar lewat instruksi yang tampaknya dari Surya. Tapi instruksinya difaksimile dari mesin di kantor cabang Surabaya. Dan tanggal di sini—" ia menunjuk—"Surya sedang berada di Jakarta hari itu. Ada di buku tamu rapat dewan, hari yang sama. Dia tidak mungkin mengirim faks itu dari Surabaya."
Sekar mengeryit. "Jadi seseorang memalsukan instruksi atas nama Surya."
"Lebih dari itu." Alana membuka buku catatan kulit ayahnya, ke halaman bertanggal tiga bulan setelah Surya dibuang. Tulisan tangan Bramantyo, tergesa, ditekan keras seakan menahan sesuatu:
*Aku tahu Surya tidak mengirim faks itu. Tapi dananya nyata hilang. Kalau bukan Surya, siapa? Aku tidak bisa membuka kembali kasus ini tanpa menghancurkan perusahaan yang baru mulai pulih. Lebih mudah membiarkan kota percaya Surya pencurinya. Tuhan ampuni aku.*
Alana membaca baris itu tiga kali. Tangannya mendingin.
Ayahnya tahu. Bramantyo Wijaya tahu sahabatnya tidak sepenuhnya bersalah—dan memilih membiarkannya hancur, karena kebenaran terlalu mahal untuk perusahaan.
"Dia tidak menjebak Surya," kata Alana, suaranya nyaris berbisik. "Tapi dia tahu Surya dijebak orang lain. Dan dia diam. Dia membiarkannya."
Sekar tidak berkata apa-apa. Tidak ada yang bisa dikatakan.
Alana terus membalik halaman. Di lembar berikutnya, Bramantyo menulis daftar tiga nama—orang-orang yang punya akses ke mesin faks Surabaya dan ke pembukuan saat itu. Dua nama dicoret tegas: keduanya, menurut catatan kecil di pinggir, sudah meninggal di tahun-tahun setelahnya. Nama ketiga tidak dicoret. Hanya dilingkari. Dan di sebelahnya, dengan tinta yang berbeda, ditambahkan jauh kemudian—mungkin bertahun-tahun setelahnya—satu kata:
*masih dekat.*
"Sekar," kata Alana, mengangkat buku itu ke cahaya. "Ayah saya menulis ini bukan di tahun sembilan puluh delapan. Lihat tintanya. Ia kembali ke catatan ini, mungkin baru-baru ini, dan menambahkan dua kata. Dia masih melacak orang ini sampai akhir."
Nama yang dilingkari itu bukan Surya. Bukan Hendra. Tapi nama yang dikenal Alana—nama yang sampai hari ini masih berputar di sekitar Wijaya Group, di setiap meja perjanjian dan setiap ruang sidang.
Di luar, hujan kembali turun di atap seng gudang, berisik seperti tepuk tangan dari masa lalu yang akhirnya menemukan pendengarnya.