Nama yang dilingkari ayahnya adalah Bonar Situmorang.
Alana mengenalnya. Semua orang di Wijaya Group mengenalnya. Bonar, enam puluh sembilan tahun, penasihat hukum tetap perusahaan sejak masa Bramantyo masih merintis—lelaki sopan berkacamata tebal yang menyusun hampir setiap perjanjian besar Wijaya, yang dianggap semua orang sebagai perabot setia ruang sidang: ada, andal, tak tersangka.
"Tidak mungkin," kata Sekar di mobil, dalam perjalanan kembali ke Menara Wijaya keesokan paginya. "Pak Bonar itu... dia yang mengurus akta-akta perusahaan sejak sebelum saya masuk. Dia mengantarkan karangan bunga ke pemakaman Pak Bramantyo. Dia menangis."
"Orang menangis untuk banyak alasan," kata Alana, menatap jalanan basah. "Termasuk karena lega rahasianya ikut dikubur."
Mereka tidak menyerang. Itu pelajaran yang sudah Alana pegang sejak bab-bab pertama hidupnya sebagai direktur: jangan tarik pelatuk sebelum peluru dipastikan ada. Maka Alana melakukan apa yang ia kuasai—ia menggali angka.
Sepanjang hari itu, di balik pintu tertutup, Alana dan Sekar menelusuri tiga puluh tahun arsip perjanjian dan tagihan jasa hukum Situmorang & Rekan. Yang mereka temukan, sepotong demi sepotong, membentuk pola yang tak bisa diabaikan.
Di tahun sembilan puluh delapan, Bonar adalah pengacara perusahaan yang menyiapkan instruksi transfer dan memegang akses ke korespondensi bank serta pembukuan cabang—satu-satunya dari tiga nama di catatan Bramantyo yang masih hidup. Setahun setelah Surya dibuang, kantornya mendadak membesar berlipat, ia melunasi dua properti dan menyekolahkan anaknya ke luar negeri, biaya yang tak masuk akal untuk seorang pengacara muda saat itu.
Dan ada satu hal lagi. Selama dua puluh tahun terakhir, di setiap RUPS, Bonar Situmorang adalah kuasa hukum yang menyusun dan memvalidasi surat kuasa PT Sentra Abadi.
"Dia yang menyusun dan mengesahkan setiap pembelian saham Sentra Abadi," kata Alana, dan suaranya dingin. "Sepotong demi sepotong, selama bertahun-tahun, sampai jadi delapan belas persen. Setiap lembar dirancang dan ditandatangani oleh tangan yang sama. Surya tidak menyusup ke perusahaan ini sendirian, Sekar. Dia punya pengacara yang membukakan setiap pintu hukum. Dan pengacara itu adalah orang yang dulu menjebaknya."
Sekar memucat. "Kenapa? Kenapa orang yang menjebak Surya justru membantunya kembali?"
"Karena Surya tidak tahu siapa yang sebenarnya mencuri tiga ratus miliar itu di tahun sembilan puluh delapan." Alana menyandarkan punggung, menatap langit-langit. "Bonar mencuri dananya dan menjadikan Surya kambing hitam. Lalu ketika Surya datang padanya bertahun-tahun kemudian untuk membalas dendam, Bonar menerima—karena selama Surya memburu Wijaya, ia tidak akan pernah memburu Bonar. Pengacara itu mengarahkan dendam Surya ke ayah saya, dan menjual jasanya pada lelaki yang hidupnya ia hancurkan sendiri. Itu pengkhianatan yang jauh lebih rapi."
Mereka duduk dalam diam, memahami bentuk sesungguhnya dari mesin yang selama ini bekerja melawan Alana. Bukan dua kubu—Surya di luar, Hendra di dalam. Tapi tiga lapis: Surya sang penyerang yang dibutakan dendam, Hendra sang pencuri kecil yang serakah, dan Bonar—bayangan yang tak pernah dilirik siapa pun, yang memegang setiap pena yang penting.
"Kalau Pak Bonar yang memvalidasi semua surat kuasa Sentra," Sekar berkata perlahan, "maka di RUPS final nanti..."
"...dia bisa memuluskan atau menggugurkan suara apa pun yang ia mau. Termasuk milik kita." Alana menutup map. "Selama dia memegang pena itu, setiap kemenangan yang kita rebut di lantai dua puluh lima bisa dibatalkan oleh satu klausul yang ia susun."
Alana berdiri dan berjalan ke jendela. Di bawah, di salah satu gedung kaca seberang, Bonar Situmorang—ia tahu tanpa melihat—sedang duduk di kantornya, menyusun dokumen dengan tangan tua yang sopan, persis seperti yang ia lakukan tiga puluh tahun lalu ketika tangan itu menjebak seorang sahabat dan mengantongi nasibnya.
"Jangan apa-apakan dia dulu," kata Alana. "Dia tidak boleh tahu kita tahu. Selama dia merasa aman, dia akan terus mengira dirinya tak terlihat. Dan orang yang merasa tak terlihat," ia menggenggam jam tangan ayahnya, "selalu lupa menutupi jejaknya yang terakhir."