Malam itu Alana tidak pulang ke apartemennya. Ia tetap di kantor lantai dua puluh enam, di kursi yang dulu milik ayahnya, dengan buku catatan kulit Bramantyo terbuka di atas meja eboni.
Selama berbulan-bulan ia membangun ayahnya menjadi sesuatu yang nyaris suci dalam kepalanya. Korban. Pendiri yang dikhianati. Lelaki yang ia warisi kursinya dan ia bela namanya melawan tiga belas anggota dewan yang meremehkannya. Tapi orang yang menulis di buku ini bukan orang suci. Ini lelaki yang membiarkan sahabatnya dihancurkan oleh fitnah yang ia tahu palsu, karena membongkar kebenaran akan menghancurkan perusahaan.
*Lebih mudah membiarkan kota percaya Surya pencurinya.*
Alana membaca baris itu lagi dan lagi sampai kata-katanya kehilangan bentuk.
Ia menelepon Pakde Wira di Bogor, meski sudah lewat pukul sepuluh malam. Suara tua kakak ayahnya menjawab setelah dering ketujuh, serak oleh kantuk.
"Pakde, saya minta maaf menelepon selarut ini."
"Tidak apa-apa, Nak. Orang tua tidak tidur nyenyak." Hening sejenak. "Suaramu berbeda. Ada apa?"
Alana menarik napas. "Pakde tahu, kan. Soal sembilan puluh delapan. Soal Surya yang dijebak. Bukan oleh ayah—tapi ayah tahu, dan dia diam."
Helaan napas panjang terdengar di seberang. "Aku tidak tahu seluruhnya," kata Pakde Wira akhirnya. "Tapi aku tahu Bramantyo berubah setelah tahun itu. Ada sesuatu yang dia gendong sampai mati. Aku pernah bertanya sekali. Dia bilang, 'Mas, ada hal-hal yang kalau dibuka, akan membunuh lebih banyak orang daripada menyelamatkannya.' Aku tidak bertanya lagi."
"Dia membiarkan sahabatnya hancur, Pakde."
"Ya." Suara Pakde Wira berat. "Dan ia membayar untuk itu, Nak. Mungkin tidak di pengadilan. Tapi ada penjara yang kau bangun sendiri di dalam dada. Bramantyo tinggal di sana tiga puluh tahun." Hening. "Ayahmu bukan orang baik karena ia tidak pernah salah. Ia mencoba menjadi orang baik justru karena ia tahu betapa salahnya ia bisa jadi. Itu beda, Nak. Dan itu jauh lebih berat."
Setelah sambungan diputus, Alana duduk lama dalam gelap. Kota berkelap-kelip di balik kaca, jutaan jendela yang masing-masing menyimpan kompromi kecil yang tak pernah diakui pemiliknya.
Ia mengeluarkan surat tulisan tangan ayahnya—surat yang ia temukan di laci terkunci berbulan-bulan lalu, surat yang memulai segalanya. Ia membacanya lagi, kali ini dengan mata yang berbeda. *Perusahaan ini digerogoti dari dalam.* Dulu ia membaca itu sebagai peringatan seorang ayah kepada anaknya. Kini ia membacanya sebagai pengakuan: Bramantyo tahu busuknya dimulai dari tangannya sendiri yang membiarkan satu ketidakadilan berdiri.
"Kamu menyuruhku menyelamatkan perusahaan ini," bisik Alana pada kursi kosong, pada bayangan ayahnya. "Tapi kamu tidak bilang aku harus menyelamatkannya dari dosa-dosamu juga."
Marah, ia merasakannya—nyala panas yang tidak pernah ia izinkan muncul selama ini. Marah pada ayah yang membuatnya berdiri sendirian melawan badai yang sebenarnya ia ikut tiup. Tapi di bawah amarah itu ada sesuatu yang lebih sulit: pengertian. Karena Alana tahu, kalau ia menjadi Bramantyo di tahun sembilan puluh delapan, di tengah krisis, dengan perusahaan di ujung kebangkrutan dan ratusan karyawan bergantung—ia tidak yakin ia akan memilih berbeda.
Dan ketidakyakinan itulah yang paling menakutkan.
Ia menutup buku catatan kulit itu. Esok ia harus menghadapi Surya, dan Bonar, dan RUPS yang menentukan. Tapi malam ini ia harus memutuskan sesuatu yang lebih sulit dari semua strategi: ia akan mengejar kebenaran sampai ke ujung, bahkan jika kebenaran itu menelanjangi ayahnya di depan dunia. Karena membela nama Wijaya dengan menutupi kebusukannya hanya akan menjadikannya pewaris kedua dari penjara yang sama.
"Aku tidak akan mewarisi diammu," katanya pada ruangan kosong. "Aku akan menyelesaikan apa yang kamu takut selesaikan."