Damar Adiwangsa menatap Alana dari seberang meja restoran sunyi yang sama tempat ia pernah menawarinya akuisisi—tempat ia pernah memberi peringatan dingin tentang orang di dalam rumahnya sendiri yang sudah menjual kunci.
"Anda terlihat seperti orang yang baru kalah taruhan dengan dirinya sendiri," kata Damar, memutar gelas anggurnya.
"Saya menemukan sesuatu tentang ayah saya yang membuat sulit untuk membencinya, dan sulit untuk membelanya," jawab Alana terus terang. Ia memutuskan, malam itu, bahwa ia muak dengan permainan setengah-bicara. "Tahun sembilan puluh delapan, Surya dijebak. Bukan oleh ayah saya—tapi ayah saya tahu dan diam."
Damar tidak terkejut. Itu sendiri sebuah jawaban.
"Anda sudah tahu," kata Alana.
"Saya menduga." Damar meletakkan gelasnya. "Dunia ini lebih kecil dari yang Anda kira, Nona Wijaya. Surya Danuatmaja datang ke saya tiga tahun lalu, jauh sebelum ayah Anda meninggal. Dia tahu Adiwangsa lapar tanah, lapar lisensi tekstil Wijaya. Dia menawarkan persekutuan: bantu dia merobohkan Wijaya, dia bantu saya memungutnya."
Jantung Alana mengeras. "Dan Anda setuju."
"Saya mendengarkan. Itu beda." Mata Damar tajam. "Tapi ada satu hal yang membuat saya menahan diri. Surya tidak menginginkan keuntungan. Saya seorang pebisnis—saya bisa berunding dengan orang yang menginginkan uang. Tapi Surya menginginkan rasa sakit. Dia bicara tentang Bramantyo bukan seperti pesaing bicara soal pesaing, tapi seperti orang yang sudah mati dari dalam dan hanya hidup untuk satu hal. Orang seperti itu tidak berhenti ketika menang. Dan orang yang tidak berhenti adalah mitra yang buruk." Ia mencondongkan badan. "Itu sebabnya saya memperingatkan Anda dulu. Bukan karena saya baik. Karena saya tidak mau jadi sekutu mayat berjalan yang akan menyeret saya ke kuburannya."
Alana memandangnya lama. "Jadi sekarang Anda menawarkan apa?"
"Aliansi yang sebenarnya, kali ini. Saya bantu Anda hancurkan Surya di RUPS final. Saya kerahkan suara saya, akses bank saya, pengaruh saya pada pers ekonomi." Damar mengangkat satu jari. "Sebagai gantinya, saya ingin hak pertama membeli lini logistik pelabuhan Wijaya jika suatu hari Anda melepasnya. Harga pasar. Tertulis. Tidak ada akuisisi paksa, tidak ada pemecahan perusahaan."
Itu tawaran yang nyaris terlalu bersih. Alana tahu Damar cukup cerdik untuk tidak menelanjangkan seluruh agendanya, tapi ia juga tahu sebuah kebenaran yang lebih besar: ia tidak bisa menghadapi Surya dan Bonar sendirian. Empat puluh satu persen sahamnya, bahkan dengan dukungan publik yang ia rebut susah payah, masih bisa digugurkan oleh celah surat kuasa yang dirancang pengacara tua itu.
"Saya akan mempertimbangkan," kata Alana.
"Jangan terlalu lama." Damar bersandar. "Tapi izinkan saya bertanya satu hal, Nona Wijaya. Ketika semua ini selesai—ketika Anda menang—apa Anda akan meminta maaf kepada Surya? Atas apa yang ayah Anda lakukan padanya?"
Pertanyaan itu menghantam Alana lebih keras dari yang ia duga. Ia tidak menjawab segera.
"Surya dijebak tahun sembilan puluh delapan," kata Alana akhirnya, perlahan. "Itu kesalahan, dan ayah saya ikut menanggung dosanya. Saya bisa mengakui itu. Saya bisa meminta maaf untuk itu." Ia mengangkat dagu. "Tapi apa pun yang terjadi padanya tiga puluh tahun lalu tidak memberinya hak untuk apa yang ia lakukan sejak itu—membeli orang, menyadap kantor, dan, kalau dugaan saya benar, mempercepat kematian seorang lelaki. Permintaan maaf untuk masa lalu tidak menghapus tagihan untuk masa kini, Pak Damar."
Damar tersenyum tipis, hampir kagum. "Itulah bedanya Anda dengan ayah Anda. Bramantyo memilih perdamaian yang membusuk. Anda memilih keadilan yang menyakitkan." Ia mengangkat gelasnya. "Untuk keadilan yang menyakitkan, kalau begitu."
Alana tidak mengangkat gelasnya. Tapi ia mengangguk. Dan di benaknya, sebuah keputusan mengeras menjadi tulang: ia tidak mengejar kemenangan lagi. Ia mengejar kebenaran—seluruhnya, sampai ke hari ayahnya mati.