Surya Danuatmaja memilih tempat yang tidak terduga: bangsal kosong sebuah taman pemakaman di pinggiran kota, tempat batu nisan Bramantyo Wijaya berdiri masih baru, hurufnya masih putih bersih.
Alana datang sendiri. Reza memprotes, Sekar memohon, tapi Alana tahu: Surya tidak akan menyentuhnya di sini. Lelaki ini menikmati pembunuhan yang lambat, yang anggun, yang sah secara hukum. Kekerasan kasar bukan seleranya.
Surya berdiri di depan makam, rambut peraknya tertiup angin sore. Ia tidak menoleh ketika Alana mendekat.
"Aku datang ke sini setiap minggu," kata Surya. "Sejak ia dikubur. Apa kau tahu itu, Alana?"
"Untuk menari di atas kuburannya?"
"Untuk meyakinkan diriku bahwa ia benar-benar mati." Surya berbalik. Wajahnya tenang, lelah, hampir lembut. "Tiga puluh tahun aku membayangkan momen ini. Aku pikir ketika ia mati, sesuatu di dadaku akan terbuka. Ternyata tidak. Lubangnya tetap di sana. Mati pun ia tidak mengembalikan apa yang ia ambil dariku."
"Apa yang ia ambil," kata Alana datar, "adalah nama yang sebenarnya milik orang lain. Saya tahu, Pak Surya. Tahun sembilan puluh delapan. Faks dari Surabaya yang tidak mungkin Anda kirim. Saya menemukan pembukuan aslinya."
Untuk pertama kalinya, ketenangan Surya retak—sekejap, hanya sekejap, tapi Alana melihatnya. Ia tidak menyangka Alana akan menemukan itu.
"Kalau begitu kau tahu aku tidak bersalah," kata Surya pelan.
"Saya tahu Anda dijebak atas pencurian tiga ratus miliar. Itu satu hal." Alana menatapnya lurus. "Saya juga tahu Anda menghabiskan tiga puluh tahun membeli orang, menyadap ruangan, dan—kalau bukti membawa saya ke sana—mempercepat kematian ayah saya. Itu hal lain. Yang pertama menjadikan Anda korban. Yang kedua menjadikan Anda penjahat. Keduanya bisa benar sekaligus."
Surya memandangnya lama, lalu sesuatu yang menyerupai rasa sakit melintas di matanya. "Kau mirip dia. Ketegasan itu. Bram juga begitu. Itulah yang dulu membuatku percaya padanya."
Ia melangkah mendekat, dan suaranya turun.
"Aku akan menawarimu sesuatu, Alana. Satu kali. Tidak akan kuulang." Ia berhenti. "Serahkan perusahaan. Lepaskan kursi itu, jual sahammu padaku dengan harga yang layak—aku tidak akan menghinamu seperti Bram menghinaku. Dan sebagai gantinya, aku akan memberimu kebenaran tentang bagaimana ayahmu mati. Seluruhnya. Nama, tanggal, cara. Karena percayalah, Nak—" matanya menggelap, "—kematiannya tidak sealami yang dikatakan surat dokter. Dan satu-satunya orang yang punya seluruh potongannya, adalah aku."
Angin sore menggetarkan rumput di antara batu-batu nisan. Alana merasakan godaan itu seperti tangan dingin di tengkuknya. Kebenaran tentang kematian ayahnya—hal yang ia kejar sejak malam ia melihat lampu merah kamera berkedip di kantornya. Surya menawarkannya di telapak tangan.
Tapi ia juga tahu apa arti menyerahkan perusahaan. Ratusan karyawan. Warisan yang ia janjikan untuk dilindungi. Dan—yang Surya tidak ucapkan tapi Alana pahami—begitu Wijaya Group jatuh ke tangannya, Surya tidak akan pernah benar-benar mengungkap apa pun. Kebenaran adalah umpan, bukan pembayaran.
"Anda menawari saya satu kebenaran," kata Alana akhirnya, "dengan harga seribu nyawa yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Dan Anda menawarkannya dengan satu tangan sambil menyembunyikan pisau di tangan yang lain."
Surya tidak membantah.
"Saya akan mencari tahu bagaimana ayah saya mati," kata Alana, melangkah mundur, "dengan cara saya sendiri. Dan ketika saya menemukannya, saya tidak akan berutang apa pun pada Anda untuk itu."
Ia berbalik dan berjalan menjauh dari makam, dari rambut perak, dari godaan yang paling halus yang pernah ditawarkan kepadanya. Di belakangnya, suara Surya menyusul, tenang dan dingin:
"Kau menolak satu-satunya gencatan yang pernah kutawarkan, Alana. Setelah ini tidak ada lagi tawaran. Hanya perang. Dan dalam perang, anak-anak adalah yang pertama membayar dosa ayahnya."
Alana tidak berhenti melangkah. Tapi tangannya, di balik kerah jasnya, menggenggam jam tangan ayahnya begitu erat sampai gigi rodanya terasa di telapak.