Berita penolakan Alana menyebar lebih cepat dari yang ia kira. Surya tidak menunggu untuk membalas.
Dua hari setelah pertemuan di pemakaman, pers ekonomi memuat sebuah artikel: bukti-bukti yang "bocor" tentang manipulasi pembukuan di Wijaya Group pada masa krisis sembilan puluh delapan—tapi diputar balik. Versi yang dirilis menempatkan Bramantyo Wijaya sebagai pelaku, perusahaan keluarga sebagai sarang kebusukan turun-temurun, dan menyiratkan bahwa Alana mewarisi mesin penipuan ayahnya. Saham Wijaya yang diperdagangkan publik anjlok tujuh persen dalam satu hari.
"Dia memakai kebenaran kita untuk melukai kita," kata Sekar, menumpuk kliping berita di meja. "Dia tahu Anda menemukan arsip sembilan puluh delapan. Dia tidak tahu seluruhnya, tapi dia tahu cukup untuk membelokkannya."
"Karena orang Surya di dalam memberitahunya kita masuk ke arsip lama." Alana menatap layar harga saham yang merah. "Mata-mata di dalam, persis seperti dugaan kita."
Yang terjadi di ruang rapat darurat pagi itu lebih buruk. Tiga anggota dewan yang selama ini ragu-ragu kini terbuka menuntut Alana mundur "demi menyelamatkan nama perusahaan dari skandal." Ratna Kusuma memimpin paduan suara itu, suaranya manis dan beracun. "Selama Nona Wijaya tetap di kursi itu, nama Wijaya akan terus diseret. Mungkin satu-satunya cara menyelamatkan perusahaan adalah dengan menyelamatkannya dari nama Wijaya."
Itu jebakan yang elegan. Surya tidak lagi mencoba menggulingkan Alana lewat suara. Ia mencoba membuat Alana mundur sukarela—mengubah namanya sendiri, nama yang ia bela mati-matian sejak hari pertama, menjadi beban yang harus dibuang demi menyelamatkan ribuan orang.
Sepanjang siang Alana duduk sendirian, mempertimbangkannya dengan jujur, seperti yang akan dilakukan seorang konsultan restrukturisasi pada perusahaan asing. Apakah nama Wijaya kini menjadi liabilitas yang harus dihapus dari neraca?
Sekar menemukannya menjelang sore, masih di meja eboni.
"Bu, kalau saya boleh bicara," kata Sekar pelan. "Dulu saya bersumpah setia pada keluarga ini bukan karena namanya. Saya bersumpah karena ketika adik saya butuh biaya sekolah dan tidak ada siapa pun yang peduli, ayah Anda membantu—diam-diam, tanpa meminta apa-apa. Itu bukan nama. Itu perbuatan. Nama hanyalah label yang ditempelkan orang di atas perbuatan."
Alana mengangkat wajah.
"Surya ingin Anda berpikir nama Wijaya adalah aib," lanjut Sekar. "Tapi nama itu bukan dosa ayah Anda di sembilan puluh delapan. Nama itu juga adalah seribu karyawan yang gajinya tidak pernah telat di tengah krisis. Adik saya yang sekarang jadi guru. Anda yang menolak menjual perusahaan ke Damar demi menyelamatkan pekerjaan orang. Nama tidak diwarisi, Bu. Nama dibuktikan ulang setiap hari."
Sesuatu mengeras di dada Alana—bukan amarah kali ini, melainkan kejernihan.
Sore itu juga ia memanggil rapat pers. Bukan untuk membantah. Untuk mengaku.
Berdiri di podium dengan wartawan memenuhi ruangan, Alana berbicara tanpa naskah. "Pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan, terjadi ketidakadilan di perusahaan ini. Seorang pendiri bernama Surya Danuatmaja dituduh menggelapkan dana yang tidak ia ambil. Ayah saya, Bramantyo Wijaya, mengetahui sebagian dari kebenaran itu, dan ia memilih diam. Itu kesalahan. Saya, sebagai pewarisnya, mengakuinya hari ini, terbuka, di depan Anda semua."
Ruangan terdiam. Itu bukan yang siapa pun harapkan dari seorang direktur yang sedang diserang.
"Tapi mengakui dosa ayah saya tidak menjadikan saya pewaris dosanya," lanjut Alana, suaranya menguat. "Justru sebaliknya. Saya akan membuka kembali seluruh kasus tahun sembilan puluh delapan—termasuk siapa yang sebenarnya mengambil dana itu, orang yang membiarkan Pak Surya menanggung kesalahannya selama tiga puluh tahun, dan yang masih bersembunyi di balik perusahaan ini hari ini. Nama Wijaya tidak akan saya selamatkan dengan menutupi kebenaran. Saya akan menyelamatkannya dengan mengungkap seluruhnya, sekalipun itu menyakiti keluarga saya sendiri."
Ia menatap lurus ke kamera, tahu Surya menonton di suatu tempat.
"Sebuah nama bukan milik orang mati. Ini milik orang yang masih berani membayar harganya. Dan saya bersedia membayar."
Saham tetap merah malam itu. Tapi keesokan paginya, untuk pertama kalinya, opini publik mulai berbalik—dan Surya Danuatmaja, untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, tidak lagi mengendalikan ceritanya sendiri.