Membuka kembali kasus 1998 secara hukum berarti membuka pintu yang lebih lama tertutup—dan di balik pintu itu, tergantung benang yang menuju ke kematian Bramantyo sendiri.
Alana mulai dari pertanyaan paling sederhana yang selama ini ia takut tanyakan: apakah ayahnya benar-benar mati secara alami?
Alana kembali ke arsip medis yang sudah ia kenal: pemeriksaan jantung lengkap di Klinik Kardiologi Persada di Menteng, tiga bulan sebelum kematian ayahnya. Hasilnya yang dulu disampaikan Dokter Rahmat Hidayat masih sama jelasnya di kepalanya—jantung kuat untuk usianya, tekanan darah terkendali, tidak ada penyumbatan signifikan. Kini ia menemui dokter pribadi ayahnya itu sekali lagi, dan Dokter Rahmat terus terang.
"Pasien Pak Bramantyo bukan kandidat serangan jantung mendadak dalam waktu dekat," kata Dokter Rahmat hati-hati. "Bisa terjadi, tentu, kondisi medis tidak pernah seratus persen. Tapi saya akan terkejut. Sangat terkejut."
"Apa yang bisa memicu serangan jantung pada orang dengan kondisi seperti ayah saya?" tanya Alana.
Dokter Rahmat berpikir. "Stres ekstrem yang mendadak. Atau—dan ini jarang tapi nyata—obat jantung dosis tinggi yang diberikan pada jantung yang sehat. Digoxin, misalnya, yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Pada orang yang tidak memerlukannya, itu bisa mengacaukan irama jantung sampai fatal. Apakah ayah Anda mengonsumsi obat rutin?"
Alana teringat. Bab demi bab di kepalanya. Obat di laci. Saat menggeledah kamar ayahnya di Pondok Indah berbulan-bulan lalu, ia menemukan sebuah kotak obat kecil tanpa label apotek di laci meja rias—digoxin dosis tinggi, terselip terpisah dari amlodipin asli yang masih utuh di kamar mandi.
Kotak itu—yang sejak awal ia simpan, naluri seorang anak yang tidak rela melepas barang terakhir ayahnya—sudah ia kirim ke laboratorium independen di Singapura lewat Reza.
Hasilnya datang lima hari kemudian, dan membuat darah Alana membeku.
Laboratorium memastikan apa yang sudah ia duga sejak malam itu: tablet di dalam kotak tanpa label itu bukan amlodipin, obat tekanan darah yang biasa Bramantyo telan tiap pagi. Bentuk dan warnanya nyaris identik dengan amlodipin—tapi kandungannya digoxin dosis tinggi, obat jantung yang sebenarnya tidak ia butuhkan, yang pada jantung sehat justru pelan-pelan mengacaukan iramanya sampai meningkatkan risiko aritmia fatal secara dramatis. Ditukar diam-diam ke dalam rutinitas pagi ayahnya, ia tidak akan terdeteksi pada autopsi rutin. Tidak akan mengubah kesimpulan dokter: serangan jantung. Sebab kematian yang sempurna karena ia tampak sepenuhnya alami.
"Mereka tidak membunuhnya dengan pisau atau peluru," kata Alana, suaranya nyaris tak terdengar, di ruang rapat kecil tempat hanya ada Sekar dan Reza. "Mereka mengganti obatnya. Selama berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan, ayah saya menelan kematiannya sendiri setiap pagi. Mengira itu menyelamatkan jantungnya."
Sekar menutup mulutnya dengan tangan. Reza, yang biasanya tenang, memucat.
"Siapa yang punya akses ke obat di laci pribadi ayah Anda?" tanya Reza.
Alana menatap dinding kaca, ke kota yang tak peduli. "Perawat panggilan yang ditanam di rumahnya—Yanti Mariani, dibayar dari rekening Singapura yang dikendalikan Surya. Itu sudah kita buktikan. Tapi perawat itu hanya menyiapkan tanahnya." Suaranya mengeras menjadi baja. "Obat yang dipalsukan melemahkan jantung ayah saya selama berbulan-bulan. Tapi yang merobohkannya di hari terakhir—seseorang ada di ruangan itu saat ia jatuh."
Garis yang selama ini terpisah—1998, penjebakan Surya, mata-mata internal, kematian Bramantyo—mulai bertemu di satu titik. Orang yang menjebak Surya tiga puluh tahun lalu, yang membukakan pintu hukum bagi Sentra Abadi, juga orang yang paling diuntungkan kalau Bramantyo tidak pernah sempat menyelesaikan perburuannya atas kebenaran 1998.
"Ini bukan kebetulan," kata Alana. "Surya menginginkan dendamnya. Tapi dia ingin Bramantyo melihat segalanya runtuh dulu, perlahan. Membunuhnya cepat bukan rencana Surya—itu terlalu murah untuknya." Ia memejamkan mata. "Seseorang mempercepatnya. Seseorang yang takut ayah saya mendekati kebenaran. Karena dua kata di buku catatan itu—*masih dekat*. Ayah saya sedang berburu orang yang menjebak Surya, dan orang itu tahu. Hari terakhir ayah saya, ada tamu di ruangannya. Aku harus tahu siapa."
Hening menyelimuti ruangan. Di luar, senja jatuh merah di atas Menara Wijaya.
"Kita punya racunnya," kata Alana akhirnya, membuka mata. "Sekarang kita harus tahu siapa yang berdiri di ruangan itu saat jantungnya berhenti—dan siapa yang menyuruhnya."